Meski naik dari enam bulan sebelumnya, tetapi dibandingkan September 2021 jumlah orang miskin di Indonesia masih turun 140 ribu orang. Adapun penduduk kategori miskin merupakan mereka yang pengeluaran bulanannya di bawah garis kemiskinan (GK).
Untuk besaran GK pada September sebesar Rp 535.547 atau kenaikan 5,95% dibandingkan Maret 2022. BPS mencatat, kenaikan besaran garis kemiskinan terjadi seiring dengan kenaikan sejumlah komoditas pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat miskin. Margo mengatakan kenaikan tersebut dipicu salah satunya oleh kenaikan harga BBM.
Lebih jauh, BPS memerinci hampir sepertiga dari formula garis kemiskinan disumbangkan oleh harga makanan. Karena itu, kenaikan harga pangan akan memicu kenaikan GK, yang kemudian mendorong makin banyak orang masuk kategori miskin.
Pada perhitungan BPS, harga beras naik 1,5% sepanjang tahun lalu, gula pasir 2,4%, tepung terigu 14%, cabai merah 42,6% dan telur ayam ras 19%. Beberapa harga barang non pangan juga naik seperti kontrak rumah 1% dan LPG tabung 3 Kg 1,6%.
“Jadi, penyesuaian harga BBM berdampak pada kenaikan harga-harga yang harus dibayar kelompok masyarakat miskin, dan mempengaruhi daya beli mereka,” kata Margo.




