spot_img

Benarkah Orang Menjelang Ajal Bisa Bertemu Orang yang Telah Meninggal?

KNews.id – Jakarta – Dalam tahap lanjut penyakit dan ketika mendekati akhir kehidupan, sebagian pasien menceritakan pengalaman mimpi dan penglihatan yang sangat jelas serta membekas. Dalam pengalaman tersebut, terkadang muncul sosok orang yang telah meninggal dunia atau gambaran yang berkaitan dengan kematian dan perjalanan menuju akhir kehidupan.

Dalam penelitian, pengalaman semacam ini dikenal sebagai mimpi dan penglihatan di akhir kehidupan (end-of-life dreams and visions). Fenomena tersebut telah dikaji dalam berbagai penelitian, khususnya dalam konteks perawatan paliatif dan rumah perawatan bagi pasien yang mendekati ajal.

- Advertisement -

Namun, penelitian-penelitian tersebut tidak mencakup semua orang yang mendekati kematian. Studi-studi itu juga tidak menyatakan bahwa setiap pasien mengalami hal yang sama atau bahwa mimpi tertentu merupakan pertanda pasti seseorang akan meninggal.

Para peneliti hanya mengidentifikasi pola-pola pengalaman yang berulang pada sebagian pasien dalam konteks akhir kehidupan.

- Advertisement -

Dilansir Aljazeera, Ahad (13/9/2026), dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada akhir Maret 2026 di jurnal Death Studies, peneliti asal Italia mengkaji pengalaman mimpi dan penglihatan menjelang akhir kehidupan berdasarkan cerita yang disampaikan pasien kepada tenaga perawatan paliatif.

Survei tersebut melibatkan 239 orang yang bekerja di fasilitas perawatan akhir kehidupan, termasuk tenaga profesional dan sukarelawan di rumah perawatan pasien menjelang ajal. Para peserta ditanya mengenai pengalaman yang mereka amati atau dengar dari pasien.

Dengan demikian, penelitian ini mengamati fenomena tersebut dari sudut pandang penyedia layanan perawatan, bukan melalui pencatatan langsung terhadap mimpi seluruh pasien. Jawaban para peserta menunjukkan adanya pengulangan gambaran yang berkaitan dengan perjalanan menuju kematian, termasuk kemunculan orang-orang yang telah meninggal dalam pengalaman pasien.

Pengalaman tersebut digambarkan bisa sangat hidup dan memiliki makna pribadi yang mendalam bagi orang yang mengalaminya. Peristiwa itu juga dapat terjadi ketika pasien sedang tidur maupun dalam keadaan terjaga. Tidak semua pengalaman tersebut memberikan ketenangan. Para tenaga perawatan juga melaporkan adanya pengalaman yang menimbulkan ketakutan atau kegelisahan.

Karena itu, penanganannya menjadi bagian dari perawatan psikologis dan emosional pasien, bukan sekadar fenomena yang menarik untuk diamati. Temuan tersebut melanjutkan penelitian-penelitian sebelumnya yang sebagian di antaranya didasarkan pada kesaksian langsung pasien.

Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat yang diterbitkan pada 2014, para peneliti mengamati pasien di sebuah rumah perawatan bagi pasien yang mendekati ajal.

- Advertisement -

Mereka melakukan wawancara berulang selama periode sebelum pasien meninggal dunia. Dalam analisis akhir, sebanyak 52 dari 59 pasien atau 88,1 persen, melaporkan pernah mengalami setidaknya satu mimpi atau penglihatan. Pertemuan dengan kerabat dan teman yang telah meninggal menjadi salah satu pengalaman yang paling sering disebutkan pasien.

Selain itu, terdapat pula pengalaman yang melibatkan orang-orang yang masih hidup atau tema-tema yang berkaitan dengan perjalanan menuju kematian. Para peneliti mengamati bahwa pengalaman yang menampilkan sosok orang yang telah meninggal, secara rata-rata, lebih memberikan ketenangan kepada pasien dibandingkan beberapa pengalaman lainnya.

Kemunculan mimpi yang menenangkan tentang orang-orang yang telah meninggal juga meningkat ketika pasien semakin mendekati akhir kehidupan.

Namun, penelitian tersebut tidak menganggap penglihatan itu sebagai bukti adanya komunikasi nyata dengan orang yang telah meninggal. Penelitian hanya mengkaji pengalaman yang diceritakan pasien serta dampak psikologis dan emosional yang dirasakan.

Apakah semua orang mengalami hal yang sama?

Tidak. Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan pada akhir Juli 2026, yang menghimpun hasil dari 13 penelitian mengenai mimpi dan penglihatan di akhir kehidupan pada pasien dan tenaga perawatan, menemukan perbedaan yang cukup besar dalam tingkat kemunculan pengalaman tersebut.

Angka yang dilaporkan dalam berbagai penelitian berkisar antara 21 persen hingga 90 persen. Perbedaan ini berkaitan dengan variasi sampel penelitian, definisi fenomena, serta metode pengukuran yang digunakan.

Oleh karena itu, angka-angka tersebut tidak dapat dijadikan patokan bahwa persentase tertentu dari manusia akan melihat mimpi atau gambaran tertentu sebelum meninggal dunia. Pertemuan dengan kerabat dan teman yang telah meninggal menjadi salah satu pengalaman yang paling sering disebutkan pasien.

Selain itu, terdapat pula pengalaman yang melibatkan orang-orang yang masih hidup atau tema-tema yang berkaitan dengan perjalanan menuju kematian.

Para peneliti mengamati bahwa pengalaman yang menampilkan sosok orang yang telah meninggal, secara rata-rata, lebih memberikan ketenangan kepada pasien dibandingkan beberapa pengalaman lainnya.

Kemunculan mimpi yang menenangkan tentang orang-orang yang telah meninggal juga meningkat ketika pasien semakin mendekati akhir kehidupan.

Namun, penelitian tersebut tidak menganggap penglihatan itu sebagai bukti adanya komunikasi nyata dengan orang yang telah meninggal. Penelitian hanya mengkaji pengalaman yang diceritakan pasien serta dampak psikologis dan emosional yang dirasakan.

Apakah semua orang mengalami hal yang sama?

Tidak. Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan pada akhir Juli 2026, yang menghimpun hasil dari 13 penelitian mengenai mimpi dan penglihatan di akhir kehidupan pada pasien dan tenaga perawatan, menemukan perbedaan yang cukup besar dalam tingkat kemunculan pengalaman tersebut.

Angka yang dilaporkan dalam berbagai penelitian berkisar antara 21 persen hingga 90 persen. Perbedaan ini berkaitan dengan variasi sampel penelitian, definisi fenomena, serta metode pengukuran yang digunakan. Oleh karena itu, angka-angka tersebut tidak dapat dijadikan patokan bahwa persentase tertentu dari manusia akan melihat mimpi atau gambaran tertentu sebelum meninggal dunia.

Penelitian dapat mencatat mimpi dan penglihatan yang diceritakan pasien, perasaan yang menyertainya, serta seberapa sering pola-pola tertentu muncul. Namun, data tersebut belum dapat menentukan sumber pengalaman itu atau membuktikan bahwa pengalaman tersebut merupakan jendela menuju alam kehidupan setelah kematian.

Hal ini penting dalam memahami penelitian ilmiah tentang fenomena tersebut. Kemunculan sosok orang yang telah meninggal dalam mimpi atau penglihatan merupakan pengalaman yang dapat dicatat oleh peneliti.

Akan tetapi, menafsirkannya sebagai kunjungan nyata dari orang yang telah meninggal atau sebagai pertanda tentang apa yang akan terjadi pada ruh setelah kematian bukanlah kesimpulan yang dapat dibuktikan melalui penelitian-penelitian tersebut.

Tinjauan sistematis terbaru juga menunjukkan adanya perbedaan besar dalam kualitas bukti dan metode penelitian yang digunakan. Kondisi ini menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut sebelum kesimpulan umum dapat dibuat mengenai sifat maupun penyebab pengalaman tersebut.

Penelitian mengenai mimpi dan penglihatan di akhir kehidupan mengungkap sisi kemanusiaan yang menarik dari pengalaman sebagian pasien ketika mendekati kematian. Mereka terkadang menceritakan pengalaman yang hidup dan membekas, ketika wajah orang-orang terkasih, kenangan hubungan, serta gambaran tentang perjalanan menuju akhir kehidupan kembali hadir.

Sebagian pasien mungkin memperoleh ketenangan dari pengalaman tersebut, sementara yang lain justru merasa cemas. Hingga kini, belum ada satu penjelasan ilmiah yang disepakati secara luas mengenai fenomena ini.

Namun, penelitian tersebut membuka ruang baru bagi perawatan paliatif untuk memahami pasien secara lebih menyeluruh. Merawat manusia pada hari-hari terakhir kehidupannya bukan hanya berkaitan dengan mengurangi rasa sakit fisik, melainkan juga memahami perasaan, kenangan, dan pertanyaan yang mereka hadapi ketika mendekati akhir kehidupan.

Bagaimana dengan Islam? 

Pada dasarnya, tidak ada dalil yang secara tegas menyatakan bahwa orang yang mendekati kematian melihat para kerabatanya. Berbeda dengan penglihatan terhadap malaikat atau setan.

Tidak menutup kemungkinan hal semacam itu dialami oleh sebagian orang. Ibnu Qayyim dalam kitab Ar-Ruh menyebutkan bahwa para malaikat turun menemui orang yang sedang menghadapi sakaratul maut.

Mereka duduk di dekatnya, dan orang tersebut dapat melihat mereka secara langsung. Para malaikat itu berbicara di hadapannya sambil membawa kain kafan dan wewangian, baik yang berasal dari surga maupun dari neraka. Mereka juga mengamini doa orang-orang yang hadir, baik doa yang berisi kebaikan maupun keburukan.

Menurut Ibnu Qayyim, para malaikat terkadang mengucapkan salam kepada orang yang sedang sekarat. Orang tersebut kemudian membalas salam mereka, adakalanya dengan ucapan, isyarat, atau bahkan dengan hatinya ketika sudah tidak mampu berbicara maupun memberikan isyarat.

Sebagian orang yang sedang menghadapi kematian bahkan pernah terdengar mengucapkan, “Selamat datang, selamat datang, dan selamat atas wajah-wajah ini.” Setelah itu, Ibnu Qayyim menyebutkan sejumlah riwayat yang berkaitan dengan hal tersebut.

Al-Qurthubi juga menukil perkataan Abu Hamid al-Ghazali yang menyatakan:

“Bisa jadi, sebelum seseorang mengalami sakaratul maut, tersingkap baginya perkara-perkara alam malakut. Ia pun dapat menyaksikan para malaikat sesuai dengan hakikat amal perbuatannya. Jika lisannya masih mampu berbicara, ia akan menceritakan keberadaan mereka.”

Keterangan tersebut disebutkan dalam kitab At-Tadzkirah bi Ahwal al-Mauta.

Al-Qurthubi juga menukil kisah dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal. Ia berkata, “Aku menghadiri saat-saat wafat ayahku, Ahmad bin Hanbal. Ketika itu, aku memegang kain untuk mengikat rahangnya. Ayahku mengalami sakaratul maut, kemudian sadar kembali. Dalam keadaan itu, ia berulang kali menggerakkan tangannya sambil berkata, ‘Belum, belum.’”

Aku kemudian bertanya, “Wahai Ayah, apa yang sedang engkau alami?”

Ia menjawab, “Setan berdiri di hadapanku sambil menggigit ujung jarinya. Ia berkata, ‘Wahai Ahmad, aku telah kehilangan kesempatan untuk menyesatkanmu.’ Aku pun menjawab, ‘Belum, belum,’ dan akan terus mengatakan demikian sampai aku meninggal dunia.”

Al-Qurthubi kemudian berkata, “Aku pernah mendengar guru kami, Imam Abu al-Abbas Ahmad bin Umar al-Qurthubi, ketika berada di Aleksandria, menceritakan bahwa ia menghadiri saat-saat menjelang wafatnya saudara gurunya, Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Muhammad al-Qurthubi, di Cordoba.

Ketika itu, orang-orang memintanya mengucapkan, ‘La ilaha illallah.’ Namun, ia justru berkata, ‘Tidak, tidak.’ Setelah sadar, kami menanyakan kepadanya tentang hal tersebut.

Ia menjelaskan, ‘Ada dua setan yang datang kepadaku, masing-masing berdiri di sebelah kanan dan kiriku. Salah satunya berkata, “Matilah sebagai seorang Yahudi, karena Yahudi adalah agama yang paling baik.” Sementara yang lain berkata, “Matilah sebagai seorang Nasrani, karena Nasrani adalah agama yang paling baik.”

Aku pun menjawab mereka, “Tidak, tidak. Mengapa kalian mengatakan hal itu kepadaku?” Sebab, aku pernah menulis dengan tanganku sendiri dalam kitab-kitab hadis karya At-Tirmidzi dan An-Nasa’i, dari Nabi SAW:

إن الشيطان يأتي أحدكم عند موته فيقول : مت يهوديا مت نصرانيا

“Sesungguhnya setan mendatangi salah seorang di antara kalian ketika kematiannya, lalu berkata, ‘Matilah sebagai seorang Yahudi, matilah sebagai seorang Nasrani.’”’

Dengan demikian, jawaban yang kuucapkan itu ditujukan kepada kedua setan tersebut, bukan kepada orang-orang yang sedang menuntunku mengucapkan syahadat.”

Al-Qurthubi kemudian menegaskan bahwa kisah-kisah serupa yang dialami oleh orang-orang saleh sangat banyak. Dalam keadaan seperti itu, jawaban yang terlontar sesungguhnya ditujukan kepada setan, bukan kepada orang yang sedang membimbingnya untuk mengucapkan kalimat syahadat.

(RD/RPK)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini