KNews.id – Jakarta 7 Februari 2026 – Ketegangan diplomatik antara Iran dan Jerman kembali mengemuka ketika Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melancarkan serangan verbal keras terhadap Kanselir Jerman Friedrich Merz. Serangan itu dilontarkan di tengah kunjungan Merz ke sejumlah negara Teluk: Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab, yang bertujuan memperkuat kemitraan energi, investasi, serta kerja sama keamanan kawasan.
Melalui platform X, Araghchi tidak hanya mengkritik kebijakan Merz, tetapi juga menyerang karakter pribadi sang kanselir. Ia menyebut Merz memiliki “naivitas politik” dan “karakter yang menjijikkan,” serta menyesalkan fakta bahwa Merz kini menjabat sebagai Kanselir Jerman.
“Jerman pernah menjadi mesin kemajuan di Eropa, sekarang telah berubah menjadi mesin kemunduran,” tulis Araghchi, sebagaimana diberitakan Euronews. Kritik itu secara khusus diarahkan pada peran Jerman bersama Prancis dan Inggris, kelompok yang dikenal sebagai E3, dalam perundingan program nuklir Iran.
Pernyataan keras Araghchi muncul setelah Merz, dalam rangkaian lawatannya ke negara-negara Teluk, menyatakan bahwa kerja sama Jerman dengan kawasan tersebut juga harus berkontribusi pada “mempromosikan perdamaian di Timur Tengah.” Dalam pernyataan yang sama, Merz menegaskan bahwa kekerasan di kawasan harus dihentikan dan Jerman siap “meningkatkan tekanan lebih lanjut” terhadap Teheran, termasuk mendorong pembicaraan untuk segera mengakhiri program nuklir Iran.
Merz juga mengisyaratkan perubahan kebijakan Berlin terkait ekspor senjata, dengan mengatakan pemerintahannya akan mengambil pendekatan yang kurang ketat ke depan, sebuah sikap yang memicu kritik tambahan dari Teheran.
Dalam konteks inilah Araghchi menuduh Merz melukiskan gambaran yang menyimpang tentang Iran. Ia menyebut Kanselir Jerman itu berkhayal bahwa Iran berada di ambang kehancuran. Menurut laporan kantor berita APA, pernyataan Merz tersebut disampaikan dalam forum diskusi kebijakan luar negeri dan keamanan, ketika ia menilai tekanan internasional dan sanksi dapat melemahkan Iran secara signifikan dalam waktu singkat. Merz menyampaikan pandangan itu sebagai pembenaran atas perlunya tekanan politik dan diplomatik yang lebih keras terhadap Teheran.
Araghchi menolak keras narasi tersebut. “Sayangnya, kami rakyat Iran telah menyaksikan beberapa contoh lain dari kenaifan politik dan karakter Merz yang tidak terpuji,” tulisnya. Ia juga menyinggung sikap Merz terhadap konflik bersenjata antara Israel dan Iran pada Juni 2025.
“Ketika Israel membunuh lebih dari 1.000 warga Iran pada Juni 2025, ia justru menunjukkan kegembiraan,” tulis Araghchi, sebagaimana diberitakan kantor berita pemerintah Iran, IRNA. Menurutnya, sikap itu mencerminkan keberpihakan yang terang-terangan dan memperdalam ketidakpercayaan Teheran terhadap Berlin.
Latar belakang polemik ini tidak terlepas dari kebuntuan panjang perjanjian nuklir Iran. Kesepakatan tahun 2015 yang bertujuan membatasi program nuklir Teheran dengan imbalan pencabutan sanksi internasional praktis lumpuh sejak Amerika Serikat menarik diri pada 2018. Upaya E3 untuk menghidupkan kembali kesepakatan tersebut sejauh ini belum membuahkan hasil, dan Araghchi menuding Jerman, atas dorongan Merz, justru berperan dalam mengakhiri keterlibatan E3 dengan mendorong pemberlakuan kembali sanksi PBB.
“September lalu di New York, atas desakan Merz, E3 mengakhiri peran mereka dalam negosiasi nuklir dengan mengupayakan pemberlakuan kembali sanksi PBB terhadap Iran. Sekarang, Merz memohon untuk diizinkan kembali ke negosiasi yang sama,” tulis Araghchi di X, sebagaimana dikutip IRNA.
Meski demikian, Araghchi berupaya memisahkan kritiknya terhadap pemerintah Jerman saat ini dengan pandangannya terhadap bangsa Jerman secara keseluruhan. Ia menyebut rakyat Jerman sebagai “bangsa yang hebat” yang telah memberikan kontribusi besar bagi umat manusia melalui kerja keras dan inovasi.
“Iran selalu terbuka untuk hubungan yang kuat dengan Jerman. Karena itu, sangat disayangkan bahwa seseorang seperti Bapak Merz kini mewakili Jerman di panggung dunia,” tulis Araghchi. Ia menutup pernyataannya dengan harapan akan “kembalinya kepemimpinan politik yang lebih matang dan terhormat” di Berlin.
Serangan diplomatik ini menandai babak baru ketegangan Iran–Jerman, sekaligus menunjukkan betapa isu nuklir, konflik regional, dan perbedaan visi geopolitik terus membayangi hubungan Teheran dengan negara-negara Eropa.
Sangat Dipercaya
Ali Shamkhani, Perwakilan Pemimpin Revolusi Islam untuk Dewan Tertinggi Pertahanan Nasional Iran, menegaskan posisi kuat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di lingkaran pengambilan keputusan tingkat tertinggi negara. Dalam sebuah pesan yang diunggah melalui akun media sosial X miliknya, Shamkhani menekankan bahwa Araghchi bukan hanya diplomat aktif, tetapi sosok yang mendapatkan kepercayaan penuh dari pucuk pimpinan negara.
“Dr. Abbas Araghchi adalah seorang negosiator yang terampil dan strategis, yang dipercaya oleh para pembuat keputusan tingkat tinggi serta lembaga militer dan intelijen,” tulis Shamkhani, sebagaimana diberitakan IRNA.
Ia menambahkan bahwa para prajurit bangsa Iran di Angkatan Bersenjata berdiri bahu-membahu dengan para jenderal diplomasi. Di bawah komando Panglima Tertinggi, seluruh elemen negara, baik militer maupun diplomatik, tidak akan menyisakan upaya apa pun untuk melindungi kepentingan nasional Iran.
Pernyataan Shamkhani ini dipandang sebagai sinyal politik yang jelas di tengah meningkatnya ketegangan regional dan tekanan internasional terhadap Teheran. Penegasan tersebut sekaligus memperkuat posisi Araghchi sebagai ujung tombak diplomasi Iran dalam menghadapi isu-isu strategis, termasuk perundingan nuklir dan hubungan dengan negara-negara Barat.
Abbas Araghchi merupakan salah satu diplomat paling berpengalaman yang dimiliki Republik Islam Iran. Ia dikenal sebagai figur yang matang secara politik, tenang dalam bernegosiasi, dan memiliki pemahaman mendalam tentang hubungan internasional, khususnya dinamika antara Iran dan kekuatan global.
Araghchi lahir di Teheran dan menempuh pendidikan tinggi di bidang hubungan internasional. Ia dikenal memiliki latar belakang akademik yang kuat, yang membentuk pendekatan diplomatiknya yang sistematis dan berbasis analisis. Kariernya di Kementerian Luar Negeri Iran dibangun secara bertahap, dari posisi teknis hingga jabatan strategis.
Namanya mulai dikenal luas di tingkat internasional ketika terlibat langsung dalam perundingan nuklir Iran. Dalam proses panjang dan kompleks tersebut, Araghchi berperan sebagai salah satu negosiator utama yang menjembatani kepentingan nasional Iran dengan tuntutan komunitas internasional. Sikapnya yang tegas namun terukur membuatnya disegani oleh kawan maupun lawan diplomasi.
Di dalam negeri, Araghchi dipandang sebagai diplomat yang loyal pada prinsip Revolusi Islam, namun tetap realistis dalam membaca peta politik global. Ia kerap menekankan bahwa diplomasi bagi Iran bukanlah tanda kelemahan, melainkan instrumen strategis untuk menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional.
Sebagai Menteri Luar Negeri, Araghchi juga dikenal mampu menjalin koordinasi erat dengan lembaga-lembaga strategis negara, termasuk militer dan intelijen. Hal ini menjadikannya figur yang dipercaya tidak hanya oleh kalangan sipil, tetapi juga oleh struktur keamanan nasional Iran, sebagaimana ditegaskan oleh Ali Shamkhani.
Dalam berbagai pernyataan publiknya, Araghchi menampilkan gaya komunikasi yang lugas dan argumentatif. Ia tidak segan melontarkan kritik keras terhadap negara-negara yang dianggapnya menekan Iran secara sepihak, namun tetap membuka ruang dialog yang ia nilai adil dan saling menghormati.
Kombinasi antara pengalaman panjang, legitimasi politik, serta dukungan dari pimpinan tertinggi negara menjadikan Abbas Araghchi salah satu aktor kunci dalam diplomasi Iran saat ini. Dalam konteks geopolitik yang kian bergejolak, peran Araghchi diperkirakan akan semakin sentral dalam menentukan arah kebijakan luar negeri Teheran.




