spot_img
Sabtu, Januari 24, 2026
spot_img
spot_img

Amblesan Tanah di Jakarta Melambat, Eksploitasi Air Tanah Masih Jadi Faktor Utama

KNews.id – Jakarta – Laju penurunan tanah atau tanah ambles di lokasi sekitar cekungan air tanah (CAT) wilayah Jakarta dan sekitarnya mulai melandai, namun ada juga area yang laju amblesan tanahnya masih cepat. Kepala Balai Konservasi Air Tanah (BKAT) Badan Geologi Taat Setiawan mengatakan pergerakan amblesan tanah pada kurun 2015-2023 di Jakarta berkisar 0,05-5,17 sentimeter per tahun. “Yang (laju) penurunan tanahnya masih cukup tinggi di daerah Jakarta Utara,” katanya kepada Tempo pada Jumat 19 Desember 2025.

Lokasi amblesan di Jakarta Utara, menurut Taat, mulai dari wilayah Kapuk, Teluknaga, dan Penjaringan. Sistem penentuan posisi global (GPS), yang alatnya dipasang secara permanen di kantor BKAT Jalan Tongkol, Jakarta Utara, sempat menunjukkan laju penurunan tanah di utara Jakarta ini berkisar 1 sentimeter per tahun. Grafik yang melandai belakangan diketahui lewat data pengukuran sejak 2010.

- Advertisement -

Melandainya amblesan tanah di Jakarta, Taat meneruskan, lebih baik dibanding kondisi sebelumnya. Dengan pengukuran sejenis, tim peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yang dipimpin Hasanuddin Zainal Abidin, sempat mencatat penurunan tanah di Jakarta berkisar 1-10 sentimeter, ada juga 15-20 sentimeter per tahun, pada periode 1997-2005

Ada beberapa faktor yang memicu penurunan tanah, mulai dari aspek tektonik, pembebanan dari bangunan gedung, alasan geologi, serta akibat pengambilan air tanah. Beragam faktor ini ditemukan dari sejumlah lokasi pengukuran. “Ada juga faktor lain, yaitu ketebalan lapisan lempung yang ada di bawah permukaan tanah,” ucap Taat.

- Advertisement -

Pemakaian air tanah ditengarai merupakan pemicu penurunan tanah di Jakarta yang ditemukan BKAT Badan Geologi sejauh ini. Namun, penggunaan air tanah berkurang pada 2009-2010 ketika Jakarta menaikkan pajak air tanah. Cakupan perpipaan juga semakin luas.

Perizinan penggunaan air tanah juga diperketat. Jika zona air tanah di sebuah lokasi rusak, apalagi bila diperparah temuan adanya amblesan, izin penggunaan air tidak akan diterbitkan oleh Kementerian Energi Sumber Daya Mineral serta regulator Jakarta.

“Kami juga melakukan pengawasan ke lapangan,” tutur Tatat. Yang diinspeksi oleh otoritas adalah perkantoran dan lokasi usaha yang diduga belum menggunakan air perpipaan dan berpotensi mengambil air tanah tanpa izin.

Akibat Endapan Muda dan Tanah Lunak

Tak hanya di Jakarta, Badan Geologi mencatat sejumlah daerah di Pulau Jawa mengalami penurunan tanah atau tanah ambles lebih dari lima sentimeter per tahun. Selain pesisir, fenomena ini juga ada di dataran tinggi seperti Bandung. Kondisi yang sama ada di Jakarta Utara, lalu beberapa daerah di Semarang, yakni Genuk, Tanjung Mas, dan Kaligawe. Selain itu Sayung di Demak, pesisir Pekalongan, serta Surabaya sebelah timur dan utara.

Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan penurunan tanah disebabkan faktor geologi yaitu sedimen atau endapan berumur muda dan tanah lunak. Seperti Taat, dia juga menyinggung soal eksploitasi air tanah secara berlebihan, serta beban urbanisasi yang masif.

Dikombinasikan dengan adanya kenaikan muka laut karena pemanasan global, Lana menambahkan, penurunan tanah yang terjadi berpotensi melahirkan risiko genangan, termasuk banjir rob secara permanen. Dampak lainnya adalah kerusakan infrastruktur dan bangunan, serta menurunnya kualitas hidup dan lingkungan terkait masalah kesehatan dan sanitasi.

- Advertisement -

(NS/Tmp)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini