spot_img

Laporan Keuangan Telkom Kuartal III 2026: Kinerja Makin Menguat, Telkom Raup Pendapatan Rp113,5 Triliun

Melalui Pertumbuhan Empat Segmen Bisnis Utama

• Pendapatan meningkat 3,5% YoY, EBITDA tumbuh 2,0% YoY, dan laba bersih normalisasi naik  3,9% YoY.

- Advertisement -

• MoneDsasi seluler berlanjut, dengan ARPU Telkomsel meningkat 7,1% YoY menjadi Rp45.400.

• Pendapatan eksternal B2B Infrastructure, B2B ICT, dan InternaDonal tumbuh masing-masing  5,5%, 3,1%, dan 5,8% YoY.

- Advertisement -

• Eksekusi TLKM 30 berlanjut melalui penataan portofolio, penyelesaian spin-off InfraNexia, serta  pengembangan kemitraan strategis.

KNews.id – Jakarta, 2 November 2026 – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) berhasil mempertahankan  pertumbuhan sepanjang sembilan bulan pertama 2026 di tengah dinamika industri telekomunikasi seraya berlanjutnya eksekusi transformasi TLKM 30. Menutup kuartal III 2026, Telkom membukukan pendapatan  konsolidasi sebesar Rp113,5 triliun, tumbuh 3,5% secara tahunan (YoY), didorong oleh kontribusi bisnis  Data, Internet & IT Services yang naik sebesar 8,3% YoY menjadi Rp71,5 triliun. Dari sisi profitabilitas, EBITDA tumbuh sebesar Rp55,5 triliun, tumbuh 2,0% YoY, dengan margin EBITDA sebesar 48,9%.

Laba  bersih pada periode ini tercatat sebesar Rp14,4 triliun dengan margin laba bersih 12,7%. Sementara itu,  laba bersih normalisasi perseroan meningkat 3,9% YoY menjadi Rp16,5 triliun dengan margin 14,6%.

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno menyampaikan bahwa, perseroan terus menjalankan arah  strategis TLKM 30, dengan fokus pada penguatan bisnis inti dan pelaksanaan transformasi yang  memberikan manfaat nyata.

“Transformasi yang kami jalankan berfokus pada pertumbuhan sekaligus penguatan fundamental bisnis  untuk jangka panjang. Kami melihat konsumsi masyarakat terhadap layanan data terus meningkat, seiring  kebutuhan akan layanan digital yang semakin andal. Tren ini merupakan peluang bagi TelkomGroup untuk  terus mengembangkan bisnis sekaligus meningkatkan nilai dari kapabilitas konektivitas dan infrastruktur  yang dimiliki. Karena itu, kami terus menyiapkan bisnis yang lebih adaptif dan terintegrasi agar mampu  menangkap peluang industri digital ke depan,” ujar Nanang.

Empat Segmen Bisnis Utama Catatkan Pertumbuhan Positif

  • Pada segmen B2C (Mobile dan Fixed Broadband), Telkom membukukan pendapatan sebesar Rp81,6 triliun, tumbuh 3,5% YoY. Sementara di Telkomsel, pertumbuhan pendapatan tercatat sebesar 1,8% YoY  menjadi Rp82,9 triliun, terutama ditopang oleh bisnis digital yang tumbuh 7,7% YoY menjadi Rp60,7  triliun.
  • Pertumbuhan ini didukung pengelolaan nilai pelanggan, penyederhanaan produk, serta penerapan  strategi komersial yang disiplin untuk memperkuat monetisasi layanan seluler seiring pergeseran pola  konsumsi pelanggan menuju layanan digital. Hasilnya, ARPU seluler Telkomsel tumbuh 7,1% YoY menjadi Rp45.400, disertai peningkatan data yield sebesar 6,5% YoY.

Sementara itu, pendapatan bisnis IndiHome tercatat Rp19,1 triliun, salah satunya seiring dengan penataan basis pelanggan. Meski demikian, sejumlah indikator mulai menunjukkan perbaikan secara  kuartalan. Pada kuartal III 2026, jumlah pelanggan IndiHome meningkat 1,2% QoQ menjadi 9,63 juta,  sementara ARPU naik 3,2% QoQ menjadi Rp217.700.

- Advertisement -

Di segmen B2B Infrastructure, pendapatan tumbuh 5,5% YoY menjadi Rp7,1 triliun, didukung oleh layanan data center, konektivitas, dan penyewaan infrastruktur TelkomGroup. Mitratel mencatatkan  pendapatan bisnis menara telekomunikasi dan FTTT sebesar Rp7,01 triliun atau tumbuh 1,8% YoY.

Berkat  efektivitas pengelolaan biaya yang semakin baik, Mitratel membukukan EBITDA sebesar Rp5,81 triliun,  naik tipis dari tahun sebelumnya, dan laba bersih sebesar Rp1,55 triliun, dengan margin EBITDA dan  margin laba bersih yang stabil masing-masing di angka 82,9% dan 22,2%.

Sejalan dengan pengembangan infrastruktur digital, NeutraDC mencatatkan pertumbuhan pendapatan  sebesar 17% YoY menjadi Rp1,39 triliun hingga September 2026, dengan EBITDA meningkat 35% YoY dan  margin EBITDA mencapai 40,9%. Pertumbuhan ini didukung kontribusi data center di Singapura dan  Cikarang, seiring peningkatan kebutuhan pelanggan dan komputasi berbasis AI melalui layanan Neutra  Compute. Ke depan, NeutraDC menargetkan pengembangan kapasitas data center hingga 400 megawatt  (MW), dengan aspirasi mencapai 1 gigawatt (GW) untuk mengantisipasi tingginya permintaan pasar  terhadap layanan data center. Untuk mendukung rencana tersebut, TelkomGroup tengah menjajaki  kemitraan strategis untuk memperkuat kapabilitas teknis, akses pasar, dan pendanaan.

Segmen B2B ICT membukukan pendapatan sebesar Rp11,2 triliun, meningkat 3,1% YoY. Segmen usaha  kecil dan menengah (Small Medium Enterprises/SME) menjadi penggerak utama pertumbuhan, dengan pendapatan meningkat 10,2% YoY menjadi Rp3,3 triliun. Pencapaian ini didorong oleh pertumbuhan
pelanggan Indibiz sebesar 10,9% YoY menjadi 771,1 ribu pelanggan. Bisnis konektivitas High-Speed Internet (HSI) Telkom Solution juga mengalami pertumbuhan 6,2% YoY pada periode ini.

Kinerja segmen International turut mencatatkan pertumbuhan positif, dengan pendapatan meningkat 5,8% YoY menjadi Rp8,9 triliun. Pertumbuhan ini terutama didukung pendapatan jaringan yang naik 50,2%
YoY menjadi Rp1,37 triliun, seiring penguatan layanan konektivitas internasional bagi global hyperscalers dan global carriers. Di sisi infrastruktur, Telin terus memperluas konektivitas internasional melalui pengembangan kabel laut, termasuk ICE 1 yang telah mendarat di Batam pada Juli 2026 dan proyek INSICA yang ditargetkan siap beroperasi pada kuartal IV 2026.

Pengembangan ini turut mendukung posisi Batam sebagai hub kabel laut yang terintegrasi dengan fasilitas data center NeutraDC.
“Pertumbuhan bisnis konektivitas internasional, termasuk pengembangan jaringan kabel laut dan hub Batam, menjadi bagian dari upaya TelkomGroup memperkuat infrastruktur digital Indonesia. Kami ingin
memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga memiliki peran strategis dalam ekosistem konektivitas regional dan global,” tambah Nanang.

Streamlining Jadi Prioritas, TelkomGroup Percepat Eksekusi Transformasi TLKM 30
Telkom terus menjalankan transformasi melalui inisiatif strategis TLKM 30 dengan empat pilar, yakni Operational & Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus-operandi Shift. Transformasi ini
diarahkan untuk meningkatkan efisiensi proses dan kualitas layanan, memfokuskan portofolio pada bisnis inti, mengoptimalkan nilai aset melalui monetisasi dan kolaborasi strategis, serta memperkuat peran Telkom sebagai strategic holding guna mendorong sinergi dan penciptaan nilai jangka panjang.

Dalam pilar Operational & Service Excellence, TelkomGroup terus menjaga disiplin pengelolaan biaya dan arus kas guna mendukung efisiensi operasional, keberlanjutan investasi, serta kualitas layanan. Kinerja arus kas tetap terjaga melalui pengelolaan kas yang disiplin, di tengah penyesuaian pembayaran operasional dan karyawan, termasuk pembayaran terkait program pensiun dini (Early Retirement
Program/ERP) guna mendorong struktur organisasi lebih efektif, dan produktif.

Pada pilar Streamlining, hingga kuartal III 2026 Telkom telah merampungkan penataan 14 entitas, yang mencakup divestasi 3 entitas, penutupan 9 entitas, serta penggabungan 2 entitas. Dari sisi investasi, ĴuiTelkomGroup merealisasikan capex sebesar Rp15,7 triliun dengan capex-to-revenue ratio sebesar 13,8%.
Sebanyak 94,3% capex dialokasikan pada segmen B2C dan B2B Infrastructure guna memperluas kapabilitas konektivitas digital.
Lebih lanjut, Nanang menyampaikan, “Melalui TLKM 30, kami terus menjalankan transformasi di seluruh lini bisnis TelkomGroup, dengan streamlining sebagai prioritas utama tahun ini. Penataan portofolio dan penyelarasan peran antarentitas menjadi langkah penting untuk membawa TelkomGroup menjadi organisasi yang lebih lean, simple, dan agile, serta semakin fokus pada bisnis yang mampu menciptakan
nilai tambah secara berkelanjutan bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan.”

Salah satu tonggak penting dalam agenda Unlock Value adalah rampungnya pemisahan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia pada 30 September 2026. Melalui langkah ini, lebih dari 90% aset jaringan TelkomGroup dikonsolidasikan ke InfraNexia untuk dikembangkan melalui model bisnis
carrier-neutral dan open-access, yang memungkinkan pemanfaatan infrastruktur secara lebih optimal serta membuka peluang komersialisasi dan kemitraan strategis.

“Kami optimistis dapat menutup tahun 2026 dengan kinerja yang semakin solid dan prima. Sejalan dengan itu, TelkomGroup akan terus meningkatkan kualitas layanan dan menghadirkan customer experience
terbaik, sehingga setiap inovasi dan kapabilitas yang kami kembangkan dapat memberikan manfaat secara maksimal bagi pelanggan dan masyarakat,” tutup Nanang.

(FHD/TLKM)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini