spot_img

Rupiah Melemah di Tengah Penguatan Mata Uang Asia, Biaya Produksi Industri Mamin Terancam Naik

KNews.id – Jakarta – Nilai tukar rupiah di pasar spot terus melemah hingga akhir perdagangan hari ini. Jumat (30/10/2026) dan ditutup di level Rp 18.147 per dolar AS. Rupiah melemah tipis 0,06 persen dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 18.137 per dolar AS.

Sebaliknya, sejumlah mata uang Asia hari ini ditutup menguat. Per pukul 15.00 WIB, won Korea Selatan menguat paling tinggi sebesar 0,58 persen disusul rupee India yang melonjak 0,23 persen dan peso Filipina yang ditutup naik 0,17 persen.

- Advertisement -

Dolar Singapura hari ini juga menguat 0,16 persen, baht Thailand naik 0,14 persen danringgit Malaysia naik 0,12 persen. Mata uang Asia lainnya yang juga menguat adalah yen Jepang dengan kenaikan 0,1 persen, yuan China yang naik 0,07 persen dan dolar Hong Kong yang naik tipis 0,005 persen terhadap dolar AS. Dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ditutup melemah 0,17 persen.

Gubernur BI: Fluktuasi di Pasar Keuangan

Menanggapi tren pelemahan rupiah terhadap dolar AS saat ini Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini merupakan bagian dari fluktuasi di pasar keuangan.

- Advertisement -

Destry menegaskan, rupiah bergerak mengikuti mekanisme pasar sehingga pergerakannya turut dipengaruhi oleh dinamika permintaan dan penawaran serta sentimen pelaku pasar.

Destry mengatakan, perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat juga dapat memengaruhi pergerakan rupiah dan sentimen positif di pasar global dapat mendorong penguatan mata uang, termasuk rupiah.

“Kalau kita lihat hari ini juga penguatan terjadi di global. Amerika tidak menaikkan suku bunga The Fed, dampaknya ternyata langsung positif. Jadi, banyak faktor yang di luar kontrol dari kita,” kata Destry.

Destry memastikan Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah guna menciptakan iklim ekonomi yang kondusif.

Menurutnya, stabilitas tersebut penting agar pertumbuhan ekonomi sektor riil dapat terus berjalan dan membuka lapangan pekerjaan.

Rapat KSSK – Pejabat sementara (Pjs) Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan hasil rapat KSSK di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (27/7/2026). Presiden Prabowo meminta KSSK memperkuat koordinasi kebijakan di tengah transisi kepemimpinan Bank Indonesia.

- Advertisement -

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini merupakan bagian dari fluktuasi di pasar keuangan . (Tribunnews.com/Taufik Ismail)

“Fokus kita itu adalah memang menjaga stabilitas. Jadi, stabilitas itu adalah pertama yang harus kita jaga supaya tercipta iklim ekonomi yang kondusif, sehingga nantinya ekonomi di sektor riil bisa tumbuh dan bisa membuka lapangan pekerjaan,” ungkap Destry.

Terkait kemungkinan kenaikan suku bunga acuan untuk merespons tekanan terhadap rupiah, Destry menyatakan bahwa keputusan kebijakan moneter akan bergantung pada perkembangan data ekonomi dan kondisi pasar ke depan.

Destry mengatakan, BI memiliki beragam instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas rupiah, sehingga respons bank sentral tidak terbatas pada penyesuaian suku bunga acuan.

“Kita lihat perkembangannya seperti apa, karena kita punya kebijakan banyak instrumennya, tidak hanya suku bunga saja,” katanya.

Destry menjelaskan, instrumen yang dimiliki BI antara lain insentif untuk menekan biaya lindung nilai atau hedging, kebijakan makroprudensial, serta instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Terkait kemungkinan menaikkan suku bunga untuk menarik aliran modal asing atau capital inflow, Destry mengatakan BI akan mempertimbangkan perkembangan kondisi pasar.

“Semua lihat kondisi di pasar ya. Kita lihat nanti bagaimana,” kata Destry Damayanti.

Pelemahan Rupiah Bikin Biaya Produksi Industri Makanan Naik

Industri makanan dan minuman tertekan oleh tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini. Pelemahan rupiah membuat biaya produksi meningkat. Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan, industri makanan minuman tetap mengutamakan penggunaan bahan baku lokal.

Namun sejumlah komoditas utama masih bergantung pada pasokan impor dan dampak pelemahan rupiah terhadap harga pokok produksi pada setiap perusahaan akan berbeda, bergantung pada porsi penggunaan bahan baku impor. Sejumlah bahan baku industri mamin bahkan masih tergantung pada bahan impor yang tinggi seperti gula industri dan terigu masih sepenuhnya bergantung pada impor.

Sekitar 70 persen kebutuhan garam industri dan kedelai masih dipenuhi dari impor. Ketergantungan impor susu mencapai 80 persen, sedangkan bahan baku plastik untuk kemasan sekitar 50 persen.

“Sebagian bahan baku memang masih tergantung impor, sehingga pelemahan rupiah sangat berdampak terhadap harga pokok. Namun, tergantung dari masing-masing industri, seberapa besar pemakaian bahan impornya,” ujar Adhi dikutip, Jumat (30/10/2026).

Adhi menambahkan, industri mamin skala besar umumnya masih memiliki daya tahan untuk menyerap kenaikan harga bahan baku. Namun, langkah tersebut berpotensi menekan perolehan laba perusahaan.

Pelaku industri juga perlu mempertimbangkan kemampuan daya beli konsumen agar kenaikan biaya tidak seluruhnya diteruskan ke harga jual. Tekanan lebih besar berpotensi dirasakan industri kecil dan menengah (IKM).

Dengan kemampuan keuangan dan daya tahan persediaan yang lebih terbatas, IKM memiliki ruang yang lebih sempit untuk menahan kenaikan biaya produksi.

Menurut dia, sebagian IKM pada akhirnya perlu menyesuaikan harga jual atau mengubah ukuran produk agar tetap dapat menjaga keberlangsungan usaha. Di sisi lain, pelaku industri mamin masih melakukan evaluasi terhadap perkembangan biaya produksi hingga akhir tahun ini.

(RD/TBN)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini