spot_img

Presiden Suriah Desak Israel Mundur, Sebut 500 Serangan Udara dan 1.200 Penerobosan

KNews.id – Jakarta – Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa menyerukan agar Israel menarik diri dari wilayah Suriah dalam pidatonya di Majelis Umum PBB. Ia menyatakan bahwa tindakan Israel telah merusak keamanan dan kemajuan negara tersebut setelah perang saudara.

“Kami menolak upaya Israel untuk memaksakan situasi fait accompli (situasi yang sudah terjadi dan tidak dapat diubah). Kami menolak agresi mereka yang merusak perdamaian dan keamanan,” ujarnya dilansir Al-Jazeera, Kamis (24/9/2026).

- Advertisement -

Dia menegaskan adanya “500 serangan udara, lebih dari 1.200 penerobosan wilayah, dan 300 penahanan” yang dilakukan Israel di Suriah.

“Hal ini mengingatkan kita pada era yang kita kira sudah lama berlalu,” tambahnya.

- Advertisement -

Al-Sharaa, mantan pejuang yang berafiliasi dengan kelompok bersenjata al-Nusra Front di Suriah, naik takhta pada tahun 2024 setelah menggulingkan rezim Bashar al-Assad.

Dalam pidato yang berlangsung sekitar 10 menit itu, al-Sharaa juga menyinggung soal pemulangan sekitar 3,5 juta pengungsi dan orang-orang terlantar secara “aman dan layak”, setelah konflik tersebut memicu krisis pengungsi yang membebani negara-negara tetangga dan memicu sentimen permusuhan yang terus berlanjut terhadap para migran di sejumlah negara Barat.

Ini adalah pidato kedua presiden Suriah di hadapan Majelis Umum PBB setelah pidatonya tahun lalu.

Setelah lama dikucilkan dunia internasional, Suriah di bawah kepemimpinan barunya kini berupaya menarik investasi dan dukungan politik internasional, bahkan di saat tetangganya yang didukung Amerika Serikat, Israel, mempererat hubungan dengan faksi-faksi bersenjata dari kelompok minoritas Druze di Suriah.

Al-Sharaa mendesak masyarakat internasional untuk berkomitmen pada perjanjian tahun 1974 yang membentuk zona pemisahan di bawah pengawasan PBB antara pasukan Israel dan Suriah, serta menuntut agar Israel menarik diri dari Dataran Tinggi Golan yang didudukinya.

Pada bulan Juli, dalam kunjungan pertama kepala PBB ke Damaskus sejak tahun 2009, Sekretaris Jenderal Antonio Guterres menegaskan kembali bahwa wilayah tersebut adalah wilayah Suriah, seraya menyebut pendudukan Israel sebagai hal yang “sama sekali tidak dapat diterima”.

- Advertisement -

(RD/DTN)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini