KNews.id – Jakarta – Amerika Serikat (AS) merasa khawatir serangan kelompok Houthi ke Arab Saudi sebagai eskalasi berbahaya. Rudal Houthi menyasar Riyadh dianggap sebagai sinyal kuat permusuhan di wilayah tersebut bakal memuncak.
Imbas kejadian itu, Presiden AS Donald Trump mendadak ke Gedung Putih pada Sabtu (19/9) untuk membahas kemungkinan kelanjutan dari perselisihan antara kelompok Houthi dan Arab Saudi.
Gedung Putih tidak memberikan penjelasan mengenai stand by Trump saat konflik antara Arab Saudi dan Houthi yang dianggap memicu eskalasi baru.
“Konflik militer ini berpotensi meningkat dengan cepat,” demikian peringatan Departemen Luar Negeri AS.
Pemerintah AS pun memperingati warga Amerika di luar Timur Tengah harus mempertimbangkan untuk menunda perjalanan ke dan melalui kawasan tersebut seperti dikutip dari AFP, Minggu (20/9).
Untuk diketahui, serangan Houthi yang merebut sebagian wilayah di Yaman dalam beberapa pekan terakhir telah menewaskan ratusan orang dan, menurut PBB, menyebabkan lebih dari 110 ribu orang mengungsi.
Serangan kilat
Ini adalah kali pertama sejak perang saudara Yaman kembali berkecamuk di mana serangan mengancam ibu kota Saudi, sehingga menambah tekanan pada ekonomi global yang sebelumnya telah terguncang akibat ketegangan selama tujuh bulan antara AS dan Iran.
“Wilayah ini berada di bawah ancaman serangan udara musuh,” demikian bunyi pesan yang diterima warga Riyadh sesaat sebelum pukul 03.00 pagi waktu setempat, yang mengimbau mereka untuk tetap berada di dalam ruangan.
Wartawan AFP kemudian mendengar dua ledakan, sebelum badan pertahanan sipil Saudi mencabut status siaga setengah jam kemudian.
“Saya mendengar bunyi alarm, lalu jendela rumah saya bergetar,” ujar seorang warga Riyadh kepada AFP.
Warga lainnya menggambarkan serangan tersebut sebagai peristiwa yang “mengerikan”.
Insiden ini terjadi beberapa hari setelah Riyadh menuduh kelompok Houthi menargetkan Mekkah pada Rabu, serta mengecamnya sebagai “serangan teroris pengecut” terhadap kota suci umat Islam yang setiap tahunnya dikunjungi jutaan peziarah.
Kelompok Houthi dengan tegas membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai “kebohongan”. Menurut platform berita AS Axios, AS pada pekan lalu menolak permintaan Saudi untuk melancarkan serangan terhadap Houthi.
Sebelumnya, Washington menyetujui penjualan 48 jet tempur F-35 senilai US$24,3 miliar kepada Arab Saudi pada Kamis guna membantu Riyadh menangkal ancaman. Informasi ini dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri AS.






