KNews.id – Jakarta – Ustadz Adi Hidayat (UAH) menyerukan taubat nasional di tengah berbagai musibah dan fenomena alam yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Menurut dia, berbagai peristiwa tersebut semestinya tidak hanya dipandang sebagai siklus alam, tetapi juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk melakukan introspeksi, memperbanyak istighfar, dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Saudara-saudariku sebangsa se-Tanah Air di mana pun kita semua berada. Semoga video ini menemui kita semua dalam keadaan sehat, dalam keadaan baik, dalam keadaan semangat menunaikan aktivitas kita dalam rangka mencari ridho Allah SWT.
Teman-teman keluargaku di mana pun berada, seperti diketahui oleh kita bersama, diakui khususnya oleh umat Islam dalam ibadah kita, sehari kita ucapkan 17 kali, untuk menegaskan pujian kita kepada Allah SWT sebagai perawat, penguasa, penjaga alam semesta ini.
Kita ucapkan alhamdulillahi rabbil alamin. Segala puji hanya milik Allah yang menguasai, merawat, menjaga, melindungi alam semesta ini, yang merawat, menjaga, dan melindungi tentu memiliki aturan-aturan, tentu memiliki ketentuan yang dengan ketentuan itu penjagaan ditetapkan, yang dengan aturan itu perawatan diberikan.
Di antara sekian aturan yang Allah tetapkan kepada kita agar menjadikan bumi, setidaknya bagian dari alam semesta ini, menjadi selalu terawat adalah senantiasa menjaga dengan baik, tidak mengganggu stabilitas. Kemudian juga tidak melakukan tindakan-tindakan yang mungkin berpengaruh merusak kepada lingkungan alam sekitaran kita.
Sering kali tampak banyak kerusakan di daratan, di lautan karena perilaku manusia itu sendiri yang menyimpang.
Teman-teman, ketika Allah SWT berkehendak mengingatkan hamba-hamba yang sudah melampaui batas, yang perbuatan ini berdampak kepada tidak stabilnya lingkungan, berdampak kepada kemarahan Tuhan yang merawat beragam bentuk keseimbangan di alam semesta ini.
Maka Allah SWT memberikan tanda-tanda di sekitaran kehidupan kita. Allah berfirman di Alquran Surah ke-17, misalnya di Ayat ke-59. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَا مَنَعَنَآ اَنْ نُّرْسِلَ بِالْاٰيٰتِ اِلَّآ اَنْ كَذَّبَ بِهَا الْاَوَّلُوْنَۗ وَاٰتَيْنَا ثَمُوْدَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوْا بِهَاۗ وَمَا نُرْسِلُ بِالْاٰيٰتِ اِلَّا تَخْوِيْفًا
Wa mā mana‘anā an nursila bil-āyāti illā an każżaba bihal-awwalūn(a), wa ātainā ṡamūdan-nāqata mubṣiratan fa ẓalamū bihā, wa mā nursilu bil-āyāti illā takhwīfā(n). (QS Al-Isra Ayat 59)
“Dan tidak ada yang dapat mencegah Kami dengan keagungan Kami,” kata Allah. “Kami” di sini memberikan kesan keagungan, kehebatan, kedahsyatan menunjuk pada sesuatu yang besar sifatnya, sesuatu yang mengguncang. Jadi bila Allah sudah mengingatkan, maka peringatan itu sesuatu yang sangat penting, sesuatu yang mengguncang, sesuatu yang harusnya menyadarkan kita semua.






