KNews.id – Jakarta – Iran memperingatkan negara-negara lain agar tidak berpartisipasi dalam “perang ekonomi” Amerika Serikat terhadap republik Islam. Iran akan mempertimbangkan hal itu sebagai ‘musuh’.
Senin (24/8/2026), pernyataan Iran tersebut merespons ancaman sanksi ekonomi AS terbaru. Kini, Iran mengancam balik dengan memperingatkan negara-negara lain agar tidak berpartisipasi dalam “perang ekonomi” tersebut.
Diketahui, Amerika Serikat telah mendesak sekutu-sekutunya untuk bergabung dalam kampanye baru Donald Trump guna mengisolasi ekonomi Iran, di saat perang yang dilancarkan Trump tersebut terus berlanjut mendekati bulan keenam.
“Kami menyatakan kepada semua negara… jangan bergabung dalam perang ekonomi yang dikobarkan oleh Amerika Serikat,” ujar Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezai, melalui televisi pemerintah, dilansir AFP.
“Negara mana pun yang berpartisipasi dalam penerapan pembatasan ekonomi terhadap kami akan dianggap sebagai musuh,” tambahnya.
Jika negara-negara tersebut menolak untuk “menjauhkan diri” dari Amerika Serikat, Iran akan “merugikan” kepentingan mereka, imbuhnya.
Rezai juga menegaskan Republik Islam tersebut masih memiliki langkah-langkah lain dalam perang. Iran mengklaim bahwa, “kami belum menyerang kepentingan ekonomi Amerika mana pun”. Iran mengancam akan menyerang perusahaan minyak AS di sekitar Iran jika mereka dijatuhi sanksi.
“Sejauh ini, kami hanya menargetkan pangkalan militer, namun jika mereka ingin menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap kami, Amerika Serikat memiliki perusahaan minyak dan ekonomi di sekitar Iran maupun di tempat lain, dan kami akan menyerang perusahaan-perusahaan tersebut,” ancam Rezai.
Jika Trump “mengambil tindakan, konfrontasi kami akan bagaikan gempa bumi,” tambahnya.
Sebelumnya, AS juga telah meminta pemerintah negara lain untuk bergabung dalam upayanya mengisolasi ekonomi Iran, terutama China, yang merupakan salah satu mitra strategis utama Iran.
Namun, China mengkritik inisiatif tersebut dengan berargumen bahwa sanksi Amerika tidak akan menyelesaikan konflik di Timur Tengah.
Salah satu mitra dagang utama Iran, Uni Emirat Arab, pada hari Selasa mengumumkan penangguhan seluruh transaksi perdagangan dan keuangan dengan Teheran hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Iran Sedang Perang Skala Penuh
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui bahwa warga negaranya menghadapi “banyak masalah”. Hal itu disampaikan setelah Amerika Serikat meluncurkan gelombang sanksi baru yang bertujuan semakin mengisolasi perekonomian negaranya.
“Saya memahami bahwa kita memiliki banyak masalah di masyarakat saat ini. Kami berupaya mencegah hal-hal tersebut semaksimal mungkin,” ujar Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan di televisi pemerintah, dilansir AFP, Minggu (23/8/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan usai Amerika Serikat bertekad meruntuhkan rezim Iran melalui kampanye sanksi yang baru diumumkan.
Menanggapi hal itu, Pezeshkian mengatakan bahwa, akibat ulah Presiden AS Donald Trump, Iran kini berada dalam “perang skala penuh di bidang ekonomi, militer, dan keamanan”.
“Dia mengatakan sedang menjatuhkan sanksi yang paling menghancurkan dan mengerikan terhadap Iran,” kata Pezeshkian.
“Kami berupaya sekuat tenaga untuk mengatasi inflasi, masalah penghidupan, pengangguran, serta menjamin masa depan rakyat, agar mereka dapat hidup dengan bermartabat dan penuh kebanggaan,” ujar Pezeshkian.






