spot_img

Akun WhatsApp Ramai Diblokir, Pengguna Kaget Temukan Riwayat Spam Judi Online

KNews.id – Jakarta – Sejak awal Agustus 2026, gelombang keluhan mengenai pemblokiran akun WhatsApp ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak pengguna melaporkan akun mereka mendadak masuk dalam status ‘sedang ditinjau’ hingga langsung diblokir permanen tanpa ada peringatan awal.

Namun, hal menarik yang menjadi sorotan utama bukanlah sekadar pemblokiran itu sendiri, melainkan temuan pengguna setelah akun berhasil dipulihkan. Sejumlah pengguna yang terbebas dari pemblokiran terkejut menemukan riwayat pengiriman pesan massal (broadcast) berisi tautan judi online ke nomor-nomor tak dikenal, padahal merasa tidak pernah mengirimkan pesan tersebut.

- Advertisement -

Pakar Keamanan Siber, Alfons Tanujaya mengatakan secara resmi, pihak WhatsApp menegaskan bahwa tindakan pemblokiran umumnya dipicu oleh dua pelanggaran utama: penggunaan aplikasi tidak resmi (seperti GB WhatsApp atau FM WhatsApp) serta praktik scraping (pengambilan data pengguna lain secara otomatis).

“Meski demikian, fakta dan pola yang ditemukan di lapangan menunjukkan fenomena berbeda,” ujar Alfons dalam pernyataan yang diterima Tribun, Selasa(11/8/2026). Kata Alfons pengguna yang merasa tidak pernah melanggar aturan terdeteksi aktif menyebarkan pesan spam judi online justru pada rentang waktu saat akun mereka berstatus ditinjau.

- Advertisement -

“Pola yang berulang ini mengindikasikan bahwa masalah tersebut bukan sekadar kesalahan deteksi sistem (false positive), melainkan akibat aktivitas terencana,” kata Alfons.

Berdasarkan penelusuran terhadap laporan pengguna dan diskusi di berbagai forum keamanan, Alfons mengidentifikasi tiga modus utama yang kerap dimanfaatkan pelaku:

Penyewaan Akun (“Sewa WA”)

Modus rekrutmen berkedok pekerjaan lepas (freelance) yang membujuk korban untuk menyewakan akun WhatsApp dengan imbalan harian. Setelah diserahkan, akun tersebut sepenuhnya dikendalikan pelaku untuk menyebarkan pesan spam judi online.

Aplikasi yang umumnya dipasarkan untuk memantau pasangan atau anak ini memanfaatkan fitur resmi Perangkat Tertaut (Linked Device). Pelaku cukup membutuhkan akses fisik singkat ke ponsel korban untuk memindai kode QR.

Pihak WhatsApp menegaskan penggunaan aplikasi tidak resmi seperti ini berisiko tinggi memicu pemblokiran.

Pencurian Sesi via Software Pihak Ketiga (Infostealer)

Kasus ini melibatkan pustaka (library) pengembang yang disusupi malware pencuri data. Malware mampu mencuri token sesi WhatsApp Web sekaligus menautkan perangkat pelaku ke akun korban secara otomatis tanpa membutuhkan kode OTP.

- Advertisement -

Lebih jauh Alfons menjelaskan PIN Verifikasi Dua Langkah (Two-Step Verification) hanya diminta ketika nomor telepon didaftarkan ulang pada perangkat utama.

Proses penautan perangkat baru melalui pemindaian kode QR sama sekali tidak melewati verifikasi PIN ini. Oleh karena itu, akun yang sudah mengaktifkan verifikasi dua langkah tetap dapat diretas apabila ponsel sempat diakses pihak lain tanpa pengawasan.

Langkah Pencegahan dan Penanganan

Bagi pengguna yang mengalami pemblokiran berulang, Alfons menyarankan untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh alih-alih sekadar menunggu pemulihan akun.

Hindari Aplikasi Modifikasi: Pastikan hanya menggunakan aplikasi WhatsApp resmi dan hapus aplikasi modifikasi seperti GB WhatsApp atau FM WhatsApp.

Cek Perangkat Tertaut: Masuk ke menu Setelan > Perangkat Tertaut dan segera keluarkan (log out) perangkat asing yang tidak dikenal. Hindari penggunaan WhatsApp Web di perangkat yang tidak terjamin keamanannya.

Batasi Akses Fisik Ponsel: Pastikan tidak ada orang lain—baik kerabat, teman, maupun pasangan—yang mengakses ponsel tanpa sepengetahuan dan pengawasan Anda.

Apabila riwayat pesan iklan judi online ditemukan setelah akun pulih, hal itu menandakan bahwa akun sempat dikuasai oleh pihak luar melalui salah satu dari modus di atas, bukan disebabkan oleh kegagalan.

Apabila riwayat pesan iklan judi online ditemukan setelah akun pulih, hal itu menandakan bahwa akun sempat dikuasai oleh pihak luar melalui salah satu dari modus di atas, bukan disebabkan oleh kegagalan sistem keamanan WhatsApp.

“Vaksincom menyatakan akan terus memantau perkembangan pola kejahatan siber ini dan membuka ruang bagi pengguna yang mengalami kejadian serupa untuk membagikan kronologi guna membantu pemetaan modus secara lebih akurat,” tutup Alfons.

(NS/TRB)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini