KNews.id – Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengkritik Yordania, sekutu strategis Washington di Timur Tengah, menyusul tewasnya tiga tentara AS akibat serangan Iran yang menghantam pangkalan udara di negara tersebut.
Trump menilai insiden seperti itu tidak akan terjadi seandainya penanganannya dilakukan oleh pasukan atau personel militer Amerika.
Saat berbicara dalam pertemuan dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun di Gedung Putih, seperti dilansir Middle East Monitor, Kamis (23/7/2026), Trump mengatakan bahwa Iran “menyelundupkan sesuatu melalui wilayah Yordania”. Dia tidak menjelaskan lebih lanjut soal maksud pernyataannya tersebut.
“Hal itu tidak akan terjadi jika pasukan atau personel Amerika yang memegang kendali,” kata Trump.
“Ketika Anda membiarkan pihak lainnya melakukan tugas Anda, hasilnya tidak selalu berjalan baik,” imbuh Presiden AS tersebut.
Belum ada tanggapan dari otoritas Yordania terkait kritikan Trump tersebut.
Komando Pusat AS atau CENTCOM, yang mengawasi operasional militer AS di Timur Tengah, telah mengumumkan sedikitnya tiga tentara AS tewas akibat serangan yang menghantam Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania pekan lalu. Serangan itu menghantam barak yang menjadi tempat tentara AS tidur.
Militer AS juga mengumumkan bahwa satu tentara AS lainnya tewas dan satu tentara lainnya luka-luka saat memusnahkan amunisi dari drone Iran yang jatuh di wilayah Irak bagian utara.
Militer Yordania, dalam pernyataannya, mengatakan bahwa sistem pertahanan udara mereka telah mencegat dan menembak jatuh tiga rudal yang terdeteksi diluncurkan dari wilayah Iran pada Senin (20/7) malam. Aktivitas ini memicu suara ledakan keras di beberapa wilayah negara tersebut.
Iran melancarkan rentetan serangan terhadap negara-negara Teluk untuk membalas gelombang serangan terbaru AS. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa serangannya menghancurkan sistem radar AS di Yordania dan menghancurkan fasilitas perusahaan AS, Amazon, di Bahrain.





