KNews.id – Jakarta – Masa kecil yang dihabiskan dalam lingkungan keluarga disfungsional bisa meninggalkan luka batin yang terbawa hingga dewasa. Salah satu dampaknya adalah munculnya rasa canggung, tidak nyaman, atau bahkan takut, ketika harus mengungkapkan kebutuhan diri sendiri, baik kepada pasangan, sahabat, maupun rekan kerja.
Kondisi ini sama sekali bukan terjadi karena kamu egois, lemah, atau tidak mampu bersosialisasi.
Sering kali, kesulitan ini berakar dari pola asuh masa lalu yang secara tidak langsung mengajarkan bahwa keinginan dan perasaanmu bukanlah hal yang penting untuk didengar oleh orang lain.
“Keluarga disfungsional memiliki banyak bentuk. Beberapa di antaranya abai secara emosional. Yang lain mungkin terlalu kritis, tidak dapat diprediksi, suka mengendalikan, atau terlalu mengekang,” jelas psikoterapis berlisensi, Sharon Martin, DSW, LCSW, dalam tulisannya di Psychology Today, dikutip pada Senin (20/7/2026).
Keluarga disfungsional pengaruhi kemampuan menyuarakan isi hati
Mengapa sulit mengungkapkan kebutuhan diri saat dewasa?
Tumbuh dalam lingkungan yang tidak menghargai perasaan dan batasan diri akan mengirimkan pesan yang sangat kuat bahwa kebutuhanmu tidaklah berharga. Untuk bertahan hidup di tengah situasi tersebut, anak-anak dari keluarga disfungsional biasanya tumbuh menjadi sosok yang terlalu peka terhadap respons orang lain.
“Kamu mungkin terbiasa menebak-nebak suasana hati orang di sekitarmu, selalu menghindari konflik, dan menekan keinginan pribadi hanya demi menjaga kedamaian di dalam rumah,” tutur Martin.
Walau strategi bertahan ini sangat ampuh saat kamu masih kecil, kebiasaan tersebut justru membuatmu kesulitan membela diri sendiri, tidak mampu menjalin hubungan sosial yang memuaskan, atau bahkan gagal mengenali apa yang sebenarnya kamu butuhkan saat dewasa.
Akar ketakutan di balik sikap memendam keinginan
Bagi orang dewasa dengan luka pengasuhan, mengungkapkan apa yang dibutuhkan sering kali langsung memicu kecemasan, keraguan diri, atau rasa bersalah
Hal ini bisa terjadi karena kebutuhan emosional, fisik, dan psikologismu sering diabaikan, disangkal, atau diremehkan sewaktu kecil. Kamu perlahan menyerap pesan keliru dan merasa bahwa memiliki keinginan adalah sebuah beban bagi orang lain, sehingga muncul rasa malu ketika kamu memiliki kebutuhan manusiawi yang wajar.
Selain itu, mengutarakan kebutuhan membuatmu merasa sangat rentan, karena kamu harus siap menghadapi risiko penolakan, kritik, atau kekecewaan.
“Pengalaman masa kecil menciptakan anggapan bawah sadar bahwa suaramu tidak akan membuat perubahan apa pun, sehingga jauh lebih aman untuk diam,” jelas Martin.
“Ditambah lagi, kamu mungkin sangat memedulikan pandangan orang lain dan takut dicap terlalu banyak menuntut atau menyusahkan bila berani bersuara,” imbuh dia.
Lingkaran hubungan sepihak dan kelelahan mental
Pola pikir bawaan dari masa lalu ini dapat merusak berbagai aspek kehidupanmu saat ini. Kamu mungkin sering terjebak dalam hubungan asmara maupun pertemanan yang terasa sepihak karena kamu terus-menerus menahan diri dari harapan orang lain.
“Ketika meminta apa yang kamu butuhkan terasa sulit, efeknya sering kali muncul di berbagai area kehidupan. Kamu mungkin mendapati dirimu kelelahan kronis karena terlalu banyak memberi,” jelas Martin.
Pada akhirnya, kamu rentan mengalami stres dan kecemasan berkelanjutan akibat memendam semuanya sendirian. Ada pula pengalaman menyakitkan ketika kamu merasa tidak ada orang yang benar-benar mengenal atau memedulikan dirimu.
“Namun, perlu diingat bahwa ini bukanlah kesalahanmu. Ini hanyalah cerminan dari pesan keliru yang kamu serap di masa lalu tentang siapa dirimu,” tegas dia.
Langkah awal memutus pola pikir masa lalu
Kabar baiknya, pola menyiksa ini bisa diubah secara perlahan. Mulailah dengan menyadari keinginanmu melalui pertanyaan sederhana, seperti mempertimbangkan hal apa yang bisa meringankan harimu saat ini.
“Menulis dapat membantumu memahami perasaan dan kebutuhanmu dengan lebih baik. Ingatkan dirimu bahwa memiliki kebutuhan itu normal,” kata Martin.
“Setiap orang memiliki kebutuhan emosional, fisik, dan relasional. Memilikinya tidak lantas membuatmu menjadi sosok yang menyulitkan atau banyak menuntut,” tambah dia.
Cobalah berlatih pada situasi yang minim risiko. Kamu bisa mulai dari mengambil langkah kecil, seperti meminta bantuan untuk tugas ringan atau meminta perpanjangan waktu kerja.
Kamu bisa meminta dengan jelas dan sopan sembari memahami bahwa orang lain tidak akan selalu merespons sesuai keinginanmu.
“Hal itu tidak berarti kamu tidak boleh meminta. Harga dirimu tidak ditentukan oleh apakah seseorang memenuhi kebutuhanmu atau tidak,” Martin berujar.
Jangan ragu mencari dukungan profesional, seperti terapis atau kelompok diskusi, jika kamu butuh ruang aman untuk melatih keberanian bersuara.





