KNews.id – Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terkoreksi ke atas level Rp 18.000 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda dinilai dipengaruhi oleh faktor fiskal. Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 114 poin atau 0,63 persen menjadi Rp 18.128 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (9/7/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup di posisi Rp 18.014 per dolar AS.
“(Sentimen internal) Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang lebih cepat pada semester pertama 2026 menjadi sentimen negatif bagi pasar,” ujar Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Kamis (9/7/2026).
APBN 2026 dirancang sebagai instrumen utama untuk menjaga stabilitas perekonomian sekaligus mendukung pelaksanaan delapan agenda prioritas nasional. Di antaranya penguatan ketahanan pangan, ketahanan energi, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), peningkatan kualitas sektor pendidikan, penguatan layanan kesehatan, pembangunan desa serta pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penguatan sistem pertahanan semesta, serta percepatan investasi dan peningkatan perdagangan global.
APBN juga menjalankan fungsi strategis sebagai instrumen fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, perkembangannya menjadi perhatian besar pelaku pasar.
Tak hanya dipengaruhi faktor APBN, sentimen lain berasal dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). “Sentimen konsumen merosot untuk bulan kedua berturut-turut pada Juni, mencapai titik terlemahnya sejak September tahun lalu. Bank Indonesia melaporkan hasil Survei Konsumen periode Juni 2026 yang mengindikasikan adanya penurunan tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi perekonomian nasional. Koreksi ini terlihat dari tren pelemahan indeks utama maupun seluruh komponen penyusunnya yang kompak bergerak melandai menjelang penutupan semester pertama tahun ini,” terangnya.
Berdasarkan data makro yang dirilis Bank Indonesia, IKK pada Juni 2026 berada di level 117,8. Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan dengan Mei 2026 yang mencapai 120,9 maupun Januari 2026 yang berada di level 127,0.
Meski mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir, Bank Indonesia menegaskan kondisi psikologis ekonomi masyarakat secara umum masih berada di zona aman. Keyakinan konsumen dinilai tetap terjaga karena IKK nasional secara konsisten berada di atas ambang batas optimistis sebesar 100.
Sentimen Eksternal
Sementara itu, dari luar negeri terdapat sejumlah sentimen eksternal yang memengaruhi pergerakan rupiah, mulai dari dinamika konflik di Timur Tengah, kebijakan suku bunga bank sentral AS, hingga data ekonomi AS.
“Presiden AS Donald Trump mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran segera setelah serangan Rabu malam. Serangan baru terhadap Iran yang bertujuan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka untuk lalu lintas terjadi beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang telah ‘berakhir’,” ujarnya.
AS menyatakan serangan terbaru merupakan tanggapan atas serangan pada Selasa terhadap tiga kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Serangan tersebut mengguncang sejumlah kota di sepanjang pantai selatan Iran dan menyebabkan beberapa wilayah mengalami pemadaman listrik. Iran pada Rabu juga menyatakan telah menyerang situs militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai respons atas serangan AS sebelumnya terhadap infrastruktur.
Beberapa perusahaan asuransi perang menyarankan perusahaan pelayaran menghentikan sementara pelayaran melalui Selat Hormuz. Sementara itu, perusahaan asuransi lainnya meninjau kembali ketentuan polis setelah serangan kapal Iran, kata sumber industri asuransi pada Rabu.
Sentimen lain berasal dari kebijakan suku bunga bank sentral AS. “Risalah rapat The Fed pada Juni, yang dirilis Rabu, kurang dovish dibandingkan dengan perkiraan pasar. Para pembuat kebijakan sebagian besar masih terpecah mengenai perlunya kenaikan suku bunga tahun ini,” terangnya.
Namun, risalah tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran para bankir sentral terhadap inflasi yang masih tinggi. Kondisi itu dapat memicu kenaikan suku bunga pada akhir tahun, terutama jika tekanan harga belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Mengenai inflasi AS, Ibrahim menyebut inflasi meningkat tajam sejak dimulainya perang AS-Iran pada akhir Februari, dengan laju kenaikan harga masih jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen. Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menegaskan komitmen bank sentral untuk mencapai target tersebut dalam pidato terbarunya.
Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah akan melanjutkan pelemahan pada perdagangan Jumat (10/7/2026). “Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif, tetapi ditutup melemah pada kisaran Rp 18.120 hingga Rp 18.180,” tutupnya.





