KNews.id – Jakarta – Kanker prostat merupakan pertumbuhan sel yang dimulai di prostat. Organ dalam sistem reproduksi pria ini membantu menghasilkan cairan yang merupakan bagian dari air mani.
Kanker prostat yang didiagnosis pada stadium awal seringkali memiliki peluang sembuh yang lebih besar. Kenali beberapa gejala yang mungkin muncul dari kanker prostat dan cara mencegahnya berikut ini.
Gejala Kanker Prostat
Kanker prostat seringkali tidak menunjukkan gejala di awal. Namun, dikutip dari laman Better Health Channel, jika muncul, gejalanya bisa meliputi:
Buang air kecil lebih sering dari biasanya, terutama di malam hari
Rasa sakit atau sensasi terbakar saat buang air kecil
Kesulitan memulai dan menghentikan buang air kecil
Perasaan masih ingin buang air kecil setelah selesai melakukannya
Air kencing menetes
Darah dalam urine
Nyeri saat ejakulasi
Nyeri di punggung bawah, paha atas, atau kaki
Nyeri tulang
Penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya.
Dikutip dari laman Mirror, ahli onkologi radiasi di Ceko Dr Jiri Kubes juga menuturkan, sering buang air kecil di malam hari merupakan tanda yang mungkin bekaitan dengan kanker prostat. Jadi, jika terjadi, tak ada salahnya untuk memeriksakan diri ke dokter.
“Bangun tidur untuk ke toilet di malam hari adalah hal yang sangat umum dan cenderung lebih sering terjadi seiring umur bertambah. Jadi itu bukanlah suatu yang harus terlalu diperhatikan,” kata ahli onkologi radiasi di Ceko Dr Jiri Kubes dikutip dari Mirror.
“Tapi, jika ada perubahan seperti lebih sering untuk mengosongkan kandung kemih, maka sebaiknya memeriksakan diri,” sambungnya.
Gejala-gejala kanker prostat yang disebutkan juga bisa disebabkan oleh kondisi yang biasanya tidak separah kanker prostat. Sebagian besar perbersaran prostat bersifat jinak, yang berarti bukan kanker. Hal ini membuat pemeriksaan perlu dilakukan.
Faktor Risiko Kanker Prostat
Dikutip dari Mayo Clinic, berikut ini beberapa faktor risiko kanker prostat:
Usia. Kanker prostat paling umum ditemukan di atas usia 50 tahun.
Ras. Di Amerika Serikat, ras kulit hitam punya risiko lebih tinggi terkena kanker prostat. Para ilmuwan belum mengetahui pasti kenapa demikian.
Riwayat penyakit dalam keluarga. Jika dalam keluarga ada yang terdiagnosis kanker prostat, maka risiko terkena penyakit yang sama juga lebih besar.
Riwayat perubahan genetik.
Beberapa perubahan DNA bisa meningkatkan risiko, yang dapat diturunkan dari orang tua ke anak. Termasuk di antaranya, perubahan DNA pada BRCA1 dan BRCA2 yang juga dikaitkan dengan kanker ovarium dan kanker payudara.
Obesitas. Kanker prostat lebih umum ditemukan pada kondisi kelebihan berat badan. Dengan obesitas, kanker prostat berkembang lebih cepat dan lebih mungkin muncul lagi setelah treatment.
Cara Mencegah Kanker Prostat
Ada cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terkena kanker prostat. Berikut di antaranya:
1. Kontrol Asupan Makanan
Spesialis urologi dr Adistra Imam Satjakoesoemah, SpU, FICS menekankan untuk sering mengonsumsi makan-makanan yang kaya vitamin A, vitamin D, dan vitamin E. Makanan ini akan membantu mengurangi peradangan dan inflamasi.
Dirinya menyarankan untuk lebih memperhatikan gaya hidup yang sehat, salah satunya yaitu dengan mengontrol asupan makanan atau minuman yang masuk ke tubuh. dr Adistra juga memberi saran untuk mengurangi konsumsi beberapa jenis makanan untuk menekan risiko masalah di prostat.
“Ada makanan-makanan yang sifatnya prokarsinogenik, overall sebenarnya bukan buat prostat doang. Red meat (daging merah) kemudian dietary food, susu dan produk turunannya. Itu ada chance, ada risiko. Sekali lagi ini bukan menyebabkan ya, tapi ada risiko,” katanya kepada detikcom beberapa waktu lalu.
2. Hindari Sedentary Lifestyle
Tak hanya itu, gaya hidup yang kurang aktif menjadi salah satu alasan laki-laki lanjut usia mengalami perbesaran prostat jinak atau BPH (Benign Prostatic Hyperplasia). Gaya hidup malas atau sedentary lifestyle bisa berdampak buruk bagi tubuh, salah satunya masalah di prostat.
“Sedentary lifestyle, santai-santai, kaum rebahan itu ada chance yang signifikan (terkena BPH). Jauhi rebahan, hidup aktif. Sedentary lifestyle, rebahan ya ada risk buat jadi pembesaran prostat, dari penelitian ya risk-nya. Tapi nggak semuanya begitu sekali lagi ya,” ujar dr Adistra.
“Kaum-kaum mager baiknya itu (perbanyak gerak). Semuanya sih bisa risk-nya meningkat. Sakit jantung dan lain-lain. Jadi olahraga teratur, aktivitas fisik, tadi juga diabetes juga,” sambungnya.





