spot_img

Kebiasaan Tidur Larut Bisa Picu Kerusakan Otak, Ini Penjelasan dan Cara Mengetahui Kualitas Tidur

KNews.id – Jakarta – Tidur memegang peran penting untuk menjaga kesehatan. Kualitas tidur yang baik akan memberikan dampak yang baik pula pada tubuh.

Sebaliknya, kurang mendapatkan kualitas tidur yang baik bisa memberikan efek yang buruk, bahkan pada otak. Ketahui penjelasan lengkapnya berikut ini.

- Advertisement -

4 Tahapan Tidur
Dikutip dari laman Health Harvard, ada beberapa tahapan dari tidur, yaitu:

Tahap 1
Seseorang berada di antara keadaan terjaga dan tertidur. Tidur pada tahap ini ringan dan mudah terganggu

- Advertisement -

Tahap 2
Detak jantung dan pernapasan melambat. Seseorang dalam tahap ini mulai tidak menyadari lingkungan sekitar.

Tahap 3
SWS (Slow Wave Sleep) atau tidur nyenyak merupakan fase saat tidur ketika pernapasan dan detak jantung melambat. Tekanan darah menurun dan otot-otot rileks. Selama fase ini, jaringan akan beregenerasi dan tubuh melepaskan hormon-hormon penting.

Tahap 4
REM (Rapid eye movement) adalah fase terakhir dan terdalam dari tidur, disebut juga tidur bermimpi. Ketika memasuki fase ini, pernapasan menjadi lebih cepat, tidak teratur dan dangkal. Mata juga akan bergerak ke segala arah dengan cepat, aktivitas dan detak jantung meningkat, tekanan darah naik, dan ereksi pada pria.

Kebiasaan Tidur yang Bisa Picu Kerusakan Otak
Sebuah studi menemukan hubungan antara kebiasaan tidur yang salah dengan kerusakan otak. Kurangnya waktu tidur dalam dua fase, tidur nyenyak dan REM diduga bisa mempercepat penurunan fungsi bagian otak yang berkaitan dengan penyakit Alzheimer.

“Kami menemukan bahwa volume bagian otak yang disebut daerah parietal inferior menyusut pada orang-orang dengan tidur lambat dan REM yang tidak memadai,” kata Cho, dikutip dari laman CNN.

“Bagian otak itu mensintesis informasi sensorik, termasuk informasi visuospasial, jadi masuk akal jika bagian itu menunjukkan neurodegenerasi sejak dini dalam penyakit ini,” tambahnya.

- Advertisement -

Ahli saraf preventif di Amerika Serikat, Richard Issacson mengatakan bahwa pengalaman klinisnya dalam merawat orang dewasa yang berisko terkena Alzheimer mendukung penelitian tersebut.

“Kami juga menemukan metrik tidur pada tidur yang lebih nyenyak, memprediksi fungsi kognitif, jadi antara itu ditambah volume otak, amat nyata,” kata Issacson.

Selama tidur nyenyak, otak membersihkan racun dan sel-sel mati, sekaligus memperbaiki dan memulihkan tubuh untuk keesokan hari. Saat seseorang bermimpi selama tidur REM, otak sibuk memproses emosi, mengkonsolidasikan ingatan dan menyerap informasi baru.

Dengan demikian, masuk akal bahwa mendapatkan tidur nyenyak dan tidur REM yang berkualitas bisa menjaga fungsi tubuh dan otak tetap optimal.

Orang dewasa membutuhkan sekitar tujuh hingga delapan jam tidur agar tetap sehat, sementara remaja dan anak-anak yang lebih muda membutuhkan waktu tidur yang lebih lama.

Para ahli mengatakan, sebagian besar orang dewasa harus menghabiskan antara 20 persen dan 25 persen waktu tidur dalam tidur nyenyak, hal ini juga berlaku untuk tidur REM. Orang dewasa yang lebih tua membutuhkan lebih sedikit, sementara bayi membutuhkan lebih banyak. Bayi bisa menghabiskan 50 persen tidur mereka dalam REM.

“Tahap tidur yang lebih dalam berkurang seiring bertambahnya usia,” kata Cho.

Tidur nyenyak cenderung dirasakan setelah seseorang tertidur, sementara tidur REM muncul di kemudian hari, menjelang pagi. Jadi, jika tidur dilakukan larut malam dan bangun pagi, seseorang akan mengurangi peluang untuk menghabiskan cukup waktu di salah satu atau kedua tahapan tersebut.

Namun, tak hanya sekedar berbaring di tempat tidur lebih lama. Tidur nyenyak dan tanpa gangguan secara teratur perlu didapatkan. Studi Februari 2023 menemukan bahwa kebiasaan tidur yang baik menambah hampir 5 tahun pada harapan hidup pria dan hampir 2,5 tahun pada harapan hidup wanita.

Cara Mengetahui Kualitas Tidur
Spesialis penyakit dalam, dr Ray Rattu, SpPD mengatakan, cara simpel untuk mengetahui kualitas tidur adalah dengan memanfaatkan fitur sleep tracker pada smartwatch. Meski tidak seakurat sleep test di rumah sakit, perangkat sederhana ini cukup membantu untuk memonitor kualitas tidur.

“Saya bisa tahu seberapa tenang aktivitas metabolisme saya, seberapa rendah heart rate saya, karena ini berpengaruh pada seberapa aktif sih kita saat tidur,” jelas dr Ray beberapa waktu lalu.

“Kalau heart rate kita turun rendah sampai di bawah 60, itu menunjukkan bahwa kita deep sleep dan betul-betul tubuh kita beristirahat. Sebaliknya kalau kita tidur heart rate di atas 80, jangan-jangan ada sesuatu. Apakah kita mengalami demam, apakah kita mengalami stres dalam pikiran,” tambahnya.

(NS/DTK)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini