KNews.id – Jakarta – Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) sepakat memperluas kerja sama perdagangan di sektor pertanian melalui skema pemangkasan tarif, penghapusan hambatan nontarif, dan perluasan akses pasar.
Melansir Channel News Asia (CNA), Senin, 18 Mei 2026, Kementerian Perdagangan Tiongkok menyatakan kesepakatan tersebut masih bersifat pendahuluan dan akan segera dirampungkan.
Kesepakatan itu ditujukan untuk meningkatkan volume perdagangan bilateral melalui pengurangan tarif secara resiprokal pada sejumlah komoditas pertanian. Namun, rincian produk yang masuk dalam skema tersebut belum diumumkan secara resmi.
Berdasarkan data Departemen Pertanian AS, impor komoditas pertanian Tiongkok dari AS saat ini masih dibayangi pengenaan tarif tambahan sebesar 10 persen. Kebijakan tarif balasan yang diberlakukan tahun lalu tersebut berdampak terhadap kontraksi perdagangan yang anjlok 65,7 persen secara tahunan menjadi USD8,4 miliar pada 2025.
Pascapertemuan Oktober lalu, Beijing telah melanjutkan pembelian sejumlah komoditas pertanian Washington. Hal ini termasuk merealisasikan komitmen penyerapan 12 juta metrik ton kedelai hingga akhir Februari, beserta komoditas gandum dan sorgum dalam skala besar.
Para analis pasar memproyeksikan adanya relaksasi tarif kedelai sebesar 10 persen. Kebijakan ini diharapkan dapat membuka ruang bagi perusahaan pengolahan swasta di Tiongkok untuk kembali beroperasi, setelah sempat terhenti akibat dominasi pembelian oleh negara pada musim panen AS tahun lalu.
“Pengurangan tarif pada produk pertanian akan menandai normalisasi perdagangan pertanian Tiongkok-AS, memungkinkan pembeli komersial untuk kembali memasuki pasar,” kata pendiri AgRadar Consulting yang berbasis di Beijing, Johnny Xiang.




