KNews.id – Jakarta – Kebiasaan makan makanan ultra proses ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi fungsi otak. Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa bahkan satu porsi kecil makanan ultra proses setiap hari bisa meningkatkan risiko demensia.
Temuan ini menambah kekhawatiran tentang pola makan modern yang semakin bergantung pada makanan instan dan olahan.
Konsumsi sedikit saja bisa berdampak pada otak
Penelitian menemukan bahwa peningkatan konsumsi makanan ultra proses sebesar 10 persen per hari dapat meningkatkan risiko demensia. Jumlah tersebut setara dengan satu porsi kecil camilan seperti keripik kentang.
Peneliti utama dari Monash University, Barbara Cardoso, mengatakan konsumsi makanan ultra proses berkaitan dengan penurunan fungsi perhatian dan peningkatan risiko demensia.
“Kami menemukan bahwa konsumsi makanan ultra proses berhubungan dengan perhatian yang lebih buruk dan risiko demensia yang lebih tinggi pada orang dewasa paruh baya dan lansia,” ujarnya (29/4/2026).
Studi ini juga menemukan bahwa risiko tersebut tetap muncul meski seseorang menjalani pola makan sehat berbasis nabati. Cardoso menjelaskan bahwa hubungan ini tidak dipengaruhi oleh pola makan sehat seperti diet Mediterania.
“Hal ini menunjukkan bahwa kaitannya lebih pada proses pengolahan makanan, bukan hanya jenis makanan yang digantikan,” jelasnya. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa cara makanan diproses memiliki dampak tersendiri terhadap kesehatan otak.
Penurunan fungsi kognitif terjadi secara bertahap
Penelitian melibatkan lebih dari 2.100 orang berusia 40 hingga 70 tahun yang mencatat pola makan mereka selama satu tahun. Peserta juga menjalani tes kognitif untuk mengukur kemampuan fokus dan kecepatan memproses informasi.
Hasilnya menunjukkan bahwa setiap peningkatan 10 persen konsumsi makanan ultra proses berkaitan dengan penurunan kemampuan fokus.
“Setiap peningkatan 10 persen konsumsi makanan ultra proses menunjukkan penurunan kemampuan fokus yang dapat diukur secara klinis,” kata Cardoso. Kemampuan fokus sendiri menjadi dasar penting untuk proses belajar dan pemecahan masalah.
Dampak jangka panjang terhadap risiko demensia
Penelitian juga menunjukkan bahwa peningkatan konsumsi makanan ultra proses berkaitan dengan peningkatan skor risiko demensia dalam jangka panjang. Meskipun tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, temuan ini dinilai sebagai bukti tambahan yang penting.
Profesor neurologi dari Harvard Medical School, Dr W Taylor Kimberly, menyebut hasil studi ini sejalan dengan penelitian sebelumnya.
“Konsumsi makanan ultra proses yang lebih tinggi secara konsisten dikaitkan dengan kinerja kognitif yang lebih buruk,” ujarnya.
Mengurangi makanan ultra proses bisa jadi solusi
Penelitian lain menunjukkan bahwa mengurangi konsumsi makanan ultra proses dan menggantinya dengan makanan utuh dapat menurunkan risiko penurunan kognitif.
Perubahan pola makan dalam jangka panjang terbukti dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan otak.
Menurut Kimberly, mengganti makanan ultra proses dengan makanan yang minim pengolahan selama beberapa tahun dapat menurunkan risiko penurunan kognitif hingga 12 persen.
Kenapa makanan ultra proses berbahaya bagi otak
Makanan ultra proses umumnya mengandung sedikit bahan alami dan banyak tambahan seperti gula, garam, lemak, serta bahan kimia. Proses pengolahan membuat makanan kehilangan nutrisi penting yang dibutuhkan tubuh dan otak.
Cardoso menjelaskan bahwa makanan ultra proses dapat memengaruhi sistem hormon dan mikrobiota usus.
“Perubahan tersebut dapat berdampak pada sistem saraf dan meningkatkan risiko gangguan neurologis,” jelasnya.
Selain itu, makanan ultra proses juga berkaitan dengan faktor risiko lain seperti diabetes, hipertensi, obesitas, dan kolesterol tinggi yang dapat memengaruhi kesehatan otak.
Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan kecil seperti mengonsumsi camilan ultra proses setiap hari bisa berdampak pada kesehatan otak dalam jangka panjang.
Perubahan pola makan, terutama dengan mengurangi makanan ultra proses, dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga fungsi kognitif. Kesadaran terhadap jenis makanan yang dikonsumsi menjadi kunci penting untuk mencegah risiko demensia di masa depan.




