spot_img

Jangan Asal Baca, Ini Adab Membaca Al-Qur’an Sesuai Sunnah

KNews.id – Jakarta – Membaca Al-Qur’an adalah ibadah agung yang pahalanya berlipat ganda serta mendatangkan ketenangan dan syafaat di hari kiamat. Namun demikian, keutamaan-keutamaan tersebut tidak akan diperoleh secara sempurna tanpa disertai dengan adab atau etika yang benar. Untuk itu, umat perlu memahami adab sebelum membaca Alquran yang benar, saat dan setelahnya.

Sebagaimana kita menghormati raja dengan sikap yang khidmat, lebih dari itu maka sudah sepatutnya kita lebih mengagungkan firman Allah yang merupakan Kalam-Nya yang mulia. Adab-tersebut telah dicontohkan oleh Rasulullah serta dijelaskan oleh para ulama.

- Advertisement -

Merujuk Ebook Membaca Al-Qur’an Adab dan Hukumnya, Prof DR Mahmud Al-Dausary menjelaskan, adab membaca Al-Qur’an dibagi menjadi tiga fase utama: adab sebelum membaca, saat membaca, dan setelah membaca. Berikut ini ulasan lengkapnya.

Adab Sebelum Membaca Al-Qur’an

Musthofa dalam jurnalnya menjelaskan bahwa adab sebelum membaca Al-Qur’an mencakup: niat ibadah, suci dari hadas kecil dan besar, menghadap kiblat, menutup aurat, pakaian bersih dan suci, tempat yang suci, serta membaca ta’awuz. Berikut adalah penjelasan rincinya.

- Advertisement -
  1. Niat yang Ikhlas karena Allah

Seorang muslim harus meluruskan niatnya semata-mata karena Allah, membersihkan diri dari keinginan hawa nafsu dan motivasi duniawi. Niat merupakan fondasi utama setiap amalan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah:

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari-Muslim). Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn menegaskan bahwa membaca Al-Qur’an harus didasari niat menjalankan perintah agama Allah.

  1. Suci dari Hadas (Berwudhu)

Disunnahkan bagi pembaca untuk dalam keadaan suci dari hadas kecil dan besar sebagai bentuk penghormatan terhadap Kalamullah. Dalilnya adalah firman Allah: “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci.” (QS. Al-Wāqi‘ah: 79).

Imam al-Nawawi dalam al-Tibyān fī Ādāb Ḥamalat al-Qur’ān menjelaskan bahwa membaca Al-Qur’an dalam keadaan berhadats diperbolehkan menurut ijma’, namun hal tersebut mengurangi kesempurnaan (afḍaliyyah). Sementara jumhur ulama berpendapat bahwa berwudhu sebelum menyentuh mushaf adalah wajib.

  1. Menghadap Kiblat

Seorang qari dianjurkan menghadap kiblat sebagai bentuk tawadhu’ (rendah hati) dan penghormatan, karena Al-Qur’an adalah kalam Allah yang mulia, sebagaimana halnya dalam salat.

  1. Menutup Aurat dan Memakai Pakaian Bersih

Aurat harus ditutup dan pakaian harus bersih dari najis. Ini adalah simbol kesucian lahir dan batin saat bermunajat kepada Allah.

- Advertisement -
  1. Memilih Tempat yang Bersih dan Suci

Tempat membaca Al-Qur’an harus bersih dan terbebas dari najis. Dianjurkan memilih tempat yang tenang dan terhormat seperti masjid.

  1. Membaca Ta‘awudz

Membaca a‘ūdzu billāhi minasy-syaiṭānir-rajīm sebelum memulai bacaan. Allah berfirman: “Maka apabila engkau membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Naḥl: 98). Jumhur ulama sepakat bahwa ta‘awudz disyariatkan sebelum membaca.

  1. Bersiwak (Membersihkan Mulut)

Disunnahkan membersihkan mulut dengan siwak sebelum membaca. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah: “Sesungguhnya mulut-mulut kalian adalah jalan-jalan bagi Al-Qur’an, maka bersihkanlah dengan siwak.” (HR. Ibnu Mājah). Ini untuk menjaga kebersihan dan sebagai bentuk adab terhadap firman Allah.

Adab Saat Membaca Al-Qur’an

Adab ketika membaca Al-Qur’an mencakup: membaca dengan tartil, memperindah bacaan, suara yang keras, mengingat isi bacaan, menghayatinya, dan menangis ketika membacanya. Berikut adalah penjelasan singkatnya.

  • Membaca dengan Tartil (Perlahan dan Jelas): Allah memerintahkan: “Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan tartil.” (QS. Al-Muzzammil: 4).
  • Memperindah Suara: Rasulullah bersabda: “Hiasilah Al-Qur’an dengan suara-suara kalian.” (HR. Abū Dāwud).
  • Tadabbur (Merenungkan Makna): Allah berfirman: “Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah, agar mereka mentadaburi ayat-ayatnya.” (QS. Ṣād: 29).
  • Menangis atau Menunjukkan Kesedihan: Disunnahkan bagi seorang qari untuk menangis atau setidaknya menunjukkan kesedihan saat membaca ayat-ayat yang menggetarkan hati.
  • Bertasbih, Berdoa, dan Berlindung: Ketika melewati ayat tasbih, bacalah subḥānallāh; pada ayat rahmat, berdoalah memohon rahmat; pada ayat azab, berlindunglah kepada Allah. Hal ini berdasarkan hadis riwayat Muslim dari Hudzaifah.
  • Menghindari Bacaan Cepat dan Nada Nyanyian: Dilarang membaca dengan cepat seperti membaca syair atau menggunakan irama seperti orang fasik, karena dapat menghilangkan hakikat tartil dan mengubah makna.

Adab Setelah Membaca Al-Qur’an (Ikhtisar)

Adab setelah membaca Al-Qur’an mencakup: mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an, mencintai dan mengikuti Allah dan Rasul-Nya, serta mengambil pengajaran. Berikut adalah penjelasan singkatnya.

  • Mengamalkan Isi Kandungan: Setelah membaca, seorang muslim wajib mengamalkan apa yang telah dibacanya dalam kehidupan sehari-hari. Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dihayati dan diamalkan.
  • Berpegang Teguh pada Al-Qur’an: Menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam berpikir dan bertindak, serta menjauhi larangan-larangannya.
  • Muhasabah (Introspeksi Diri): Merenungkan kembali apakah bacaan dan amalan kita telah sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).”
  • Berdoa Setelah Khatam: Disunnahkan untuk membaca doa khatam Al-Qur’an, meskipun tidak ada lafaz khusus yang ma’tsur dari Nabi, namun amalan ini dilakukan oleh para sahabat seperti Anas bin Mālik.

Hukum-Hukum Membaca Al-Qur’an

Hukum asal membaca Al-Qur’an adalah sunnah mu’akkadah (sangat dianjurkan), terutama di luar salat. Namun, terdapat beberapa hukum yang perlu diperhatikan:

  • Hukum Tajwid: Syeikh Ibnul Jazari menjelaskan: “Membaca Alquran dengan Tajwid, hukumnya wajib. Siapa saja yang membaca Alquran tanpa memakai Tajwid, hukumnya dosa. Karena sesungguhnya Allah menurunkan Alquran dengan Tajwidnya.”
  • Hukum Membaca dalam Keadaan Berhadats: Membaca Al-Qur’an dari hafalan dalam keadaan hadas diperbolehkan, tetapi menyentuh mushaf dalam keadaan tidak suci hukumnya haram berdasarkan firman Allah: “Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang suci.” (QS. Al-Wāqi‘ah: 79).
  • Hukum Mengeraskan Bacaan: Mengeraskan bacaan hukumnya sunnah jika tidak mengganggu orang lain (seperti orang tidur, salat, atau belajar). Jika dikhawatirkan riya’ atau mengganggu, maka lebih utama dengan suara lirih. Dalilnya: “Orang yang mengeraskan bacaan Al-Qur’annya seperti orang yang memperlihatkan sedekahnya, dan orang yang mengecilkan bacaannya seperti orang yang menyembunyikan sedekahnya.” (HR. Abū Dāwud).
  • Hukum Membaca dengan Nada Nyanyian: Membaca Al-Qur’an dengan irama yang menyerupai nyanyian orang fasik atau yang dapat mengubah hukum tajwid, hukumnya haram dan termasuk bid’ah yang tercela. Imam Mālik dan Imam Aḥmad memakruhkan bahkan mengharamkan model bacaan seperti ini.

Hikmah Membaca Al-Qur’an

Hikmah membaca Al-Qur’an sangatlah besar, baik di dunia maupun di akhirat. Di antaranya:

  • Mendapatkan Pahala Berlipat Ganda: Setiap huruf yang dibaca akan diganjar sepuluh kebaikan. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh.” (HR. at-Tirmidzi).
  • Mendapat Syafaat di Hari Kiamat: Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi ahli-ahlinya (orang-orang yang membacanya dan mengamalkannya). (HR. Muslim).
  • Menjadi Sebaik-Baik Manusia: Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
  • Mendapat Ketenangan Hati dan Rahmat Allah: Allah akan menurunkan ketenangan (sakīnah), meliputi dengan rahmat, dan dikelilingi para malaikat bagi orang yang berkumpul untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an.
  • Diangkat Derajatnya oleh Allah: Dengan membaca Al-Qur’an, Allah akan mengangkat derajat seseorang di dunia dan akhirat. “Sesungguhnya Allah meninggikan derajat beberapa kaum dengan kitab ini, dan merendahkan yang lain dengannya.” (HR. Muslim).

(RD/LPT)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini