spot_img

Gen Z dan Krisis Fokus, Kenali 8 Gangguan Mental Akibat Teknologi

KNews.id – Jakarta – Tumbuh di era teknologi digital nyatanya membawa harga yang sangat mahal bagi kesehatan mental Generasi Z (Gen Z).

Meski sering disebut secara tidak adil sebagai generasi yang “lembek”, nyatanya mereka menghadapi gempuran paparan digital, banjir informasi, dan tekanan hidup yang belum pernah dialami oleh generasi-generasi sebelumnya. Dari kebiasaan scrolling layar tanpa henti hingga tekanan ekspektasi yang menguras tenaga, otak Gen Z seakan dipaksa bekerja overtime setiap harinya.

- Advertisement -

Dari kebiasaan scrolling layar tanpa henti hingga tekanan ekspektasi yang menguras tenaga, otak Gen Z seakan dipaksa bekerja overtime setiap harinya. Tak heran jika belakangan ini bermunculan berbagai istilah medis dan psikologis baru untuk mendeskripsikan sindrom serta kondisi mental yang sangat lekat dengan keseharian generasi ini.

Terdapat delapan kondisi mental modern yang saat ini memengaruhi tingkat fokus dan kesejahteraan Gen Z, seperti dirangkum KompasTekno dari berbagai sumber.

- Advertisement -

1. Brain Rot dan Dopamine Addiction

Istilah brain rot (otak membusuk) belakangan viral untuk menggambarkan kondisi kognitif yang tumpul akibat terlalu banyak mengonsumsi konten singkat dan tidak berfaedah.

Fenomena ini sangat erat kaitannya dengan siklus kecanduan dopamin. Setiap kali kamu menggeser video pendek di media sosial, otak melepaskan dopamin (hormon pemicu rasa senang).

Sayangnya, siklus instan ini secara perlahan merusak rentang perhatian (attention span), membuat generasi muda makin kesulitan mencerna informasi yang panjang atau menyelesaikan tugas yang membutuhkan fokus mendalam.

2. Doomscrolling dan Overstimulation

Pernahkah kamuu terjebak membaca rentetan berita buruk di X (Twitter) hingga tengah malam dan merasa dada sesak atau cemas setelahnya? Itulah yang disebut doomscrolling.

- Advertisement -

Kecenderungan mengonsumsi berita negatif tanpa henti ini, jika digabungkan dengan notifikasi ponsel yang bertubi-tubi, akan memicu kondisi stimulasi sensorik berlebih (overstimulation).

Akibatnya, sistem saraf dipaksa terus berada dalam mode waspada tingkat tinggi (fight or flight), yang pada akhirnya menguras habis energi mental dan memicu kecemasan kronis.

3. Burnout dan Brain Fry

Kelelahan fisik, emosional, dan mental yang ekstrem alias burnout kini tak lagi sekadar keluhan biasa di tempat kerja. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah mengklasifikasikan burnout sebagai fenomena pekerjaan global yang resmi.

Di kalangan Gen Z yang harus menghadapi hustle culture, kondisi ini sering memuncak menjadi brain fry (otak “menggoreng”).

Ini adalah fase ketika otak terasa benar-benar mogok bekerja karena terlalu lama dipaksa melakukan multitasking dan ketiadaan batas yang jelas antara waktu kerja dan jam istirahat.

4. Digital ADHD (Acquired Attention Deficit)

Banyak Gen Z kini merasa dirinya mengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) karena merasa sangat mudah terdistraksi. Jurnal medis JAMA menyoroti bahwa penggunaan media digital yang sangat intensif memang dapat memunculkan gejala yang menyerupai ADHD pada orang dewasa.

Kondisi yang sering disebut acquired attention deficit (defisit perhatian yang didapat) ini dipicu secara eksternal oleh antarmuka aplikasi modern yang memang sengaja dirancang untuk merebut perhatian.

5. Decision Fatigue dan Imposter Syndrome

Di era di mana segala hal bisa dikustomisasi, mulai dari jutaan pilihan tontonan streaming hingga ekspektasi jalur karier, Gen Z justru dihantui oleh decision fatigue (kelelahan mengambil keputusan).

Terlalu banyak opsi membuat kapasitas otak cepat habis hanya untuk membuat pilihan kecil sehari-hari.

Ditambah lagi, paparan berlebih terhadap kesuksesan orang lain di LinkedIn atau Instagram kerap memicu imposter syndrome. Ini adalah perasaan rendah diri di mana seseorang merasa tidak layak berada di posisinya saat ini, dan merasa pencapaiannya selama ini hanyalah sebuah keberuntungan belaka.

6. Loneliness Epidemic dan Social Anxiety Disorder

Ironi terbesar dari generasi yang paling terhubung secara digital adalah tingginya tingkat kesepian yang mereka rasakan. Laporan dari ahli bedah umum AS secara resmi melabeli kesepian dan isolasi sebagai sebuah epidemi kesehatan masyarakat.

Interaksi virtual lewat layar gadget sering kali gagal menggantikan koneksi emosional manusia yang autentik.

Dampaknya, banyak Gen Z justru mengembangkan kecemasan sosial (social anxiety disorder) yang parah dan merasa canggung saat dihadapkan pada interaksi tatap muka di dunia nyata.

7. Revenge Bedtime Procrastination

Fenomena psikologis ini sangat marak terjadi pada Gen Z yang merasa kehilangan kendali atas waktu siang mereka karena habis tersita untuk tuntutan pekerjaan, tugas kuliah, atau perjalanan komuter.

Sebagai bentuk “balas dendam” bawah sadar, mereka sengaja menunda waktu tidur di malam hari hanya untuk merebut kembali sedikit kebebasan dan waktu luang.

Waktu berharga untuk beristirahat ini justru dihabiskan untuk maraton serial, bermain game, atau sekadar scrolling tanpa tujuan. Kebiasaan tersebut sayangnya, hanya akan membuat siklus kelelahan mental pada keesokan harinya menjadi semakin parah.

8. Popcorn Brain

Fenomena terbaru yang makin diakui oleh pakar neurosains adalah popcorn brain. Istilah yang diciptakan oleh David Levy ini mendeskripsikan kecenderungan pikiran untuk melompat dari satu hal ke hal lain dengan perhatian yang terfragmentasi.

Secara harfiah, isi kepala kita bergerak liar layaknya biji jagung yang meletup tak beraturan di dalam microwave. Penyebab utamanya adalah kebiasaan multitasking dan paparan konten berdurasi pendek yang memaksa otak mencari kepuasan instan.

Untuk melakukan “reset” otak yang terlanjur meledak ini, para ahli menyarankan praktik mindfulness, seperti meditasi pernapasan, menerapkan manajemen waktu ala Pomodoro Technique, hingga membatasi penggunaan gawai secara ketat.

(RD/KPS)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini