KNews.id – Phnom Penh, Suasana di perbatasan Kamboja–Thailand kembali memanas. Pada Senin (8/12) pagi, Kementerian Pertahanan Kamboja mengumumkan bahwa militer Thailand melancarkan serangan beruntun ke sejumlah posisi Kamboja di sekitar Candi Preah Vihear dan kawasan-kawasan perbatasan lain sejak fajar menyingsing.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan, Letnan Jenderal Maly Socheata, menyampaikan bahwa serangan pertama terjadi sekitar pukul 05.04 waktu setempat. Asap tipis yang masih menggantung di pagi buta berubah menjadi kepulan akibat tembakan senjata ringan dari arah barat Pasar An Ses.
Rentetan tembakan itu kemudian meningkat, disusul ledakan mortir dan dentuman artileri berat. Di langit perbatasan, suara kendaraan lapis baja dan derap pasukan Thailand disebut bergerak agresif dari arah Phnom Roeng.
Menurut laporan resmi, situasi memburuk dengan cepat. Tembakan mortir dan peluru MT-60 diarahkan ke garis pertahanan Kamboja. Tak lama kemudian, tank Thailand bergerak memasuki kawasan Candi Tamone, menandai eskalasi baru yang lebih serius.
Pada sekitar pukul 07.40, serangan dilaporkan meluas ke berbagai titik lain — Mum Bei, Phnom Khmoch, Koul 8, hingga kompleks Candi Ta Krabey dan Khna. Artileri berat kaliber 155 mm dan berbagai jenis mortir menyalak dari seberang perbatasan, menghantam area yang dihuni pasukan Kamboja.
Menurut pihak Kamboja, Thailand juga menembakkan gas beracun ke wilayah Phnom Khmoch dan sekitar Candi Preah Vihear pada pukul 08.00 lewat. Ledakan-ledakan baru kemudian terdengar di kawasan Domnak Sdech, di antara Thmar Don dan Candi Tamone.
Beranjak siang, jet tempur F-16 Thailand disebut memasuki ruang udara perbatasan dan menyerang area Sra’Aem, Distrik Choam Ksan, di Provinsi Preah Vihear. Hingga pukul 11.00, dentuman dari arah Thailand dikatakan belum mereda. Serangan tidak hanya mengincar posisi militer, tetapi juga mencapai pemukiman warga di dua provinsi perbatasan: Oddar Meanchey dan Preah Vihear.
Rumah-rumah rusak, sejumlah warga terluka, dan ratusan lainnya terpaksa meninggalkan rumah. Anak-anak, perempuan, hingga lansia berbondong-bondong dievakuasi ke zona aman dengan bantuan otoritas daerah.
Di tengah situasi yang terus memanas, pihak Kamboja menegaskan bahwa seluruh pasukan mereka tidak melakukan tembakan balasan sedikit pun. Pemerintah Phnom Penh menekankan komitmennya untuk tetap mematuhi Perjanjian Gencatan Senjata dan Deklarasi Bersama kedua negara, serta sejumlah kesepakatan sebelumnya yang menekankan penyelesaian sengketa melalui jalur damai. Langkah ini, menurut Kemenhan, menunjukkan bahwa Kamboja memilih menahan diri sekalipun mendapat tekanan berat di lapangan.
Kamboja secara tegas mengecam tindakan Thailand yang dinilai sebagai aksi agresi brutal dan tidak manusiawi. Serangan itu dianggap sebagai pelanggaran serius terhadap Deklarasi Bersama yang ditandatangani pada 26 Oktober 2025, dengan disaksikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim selaku Ketua ASEAN saat itu.
Pemerintah Kamboja juga menuduh Thailand menyebarkan informasi palsu melalui berbagai saluran resmi dan tidak resmi, guna memutarbalikkan fakta dan membenarkan tindakan militernya.
Dalam pernyataannya, Phnom Penh menyerukan agar masyarakat internasional mengecam keras tindakan Thailand yang dianggap mengancam stabilitas kawasan. Kamboja menuntut agar Thailand bertanggung jawab atas serangan tersebut dan menghentikan seluruh operasi militer yang mengganggu perdamaian di perbatasan.
“Daripada mengedepankan kekerasan, Kamboja memilih tetap mematuhi hukum internasional dan menyelesaikan sengketa dengan cara yang damai, adil, dan berkelanjutan,” demikian disampaikan Kemenhan Kamboja.
Versi Thailand
Sementara Bangkok mengumumkan bahwa seorang tentara Thailand gugur dan delapan lainnya terluka ketika tentara Kamboja menembakkan peluru dan roket ke sasaran militer dan sipil Thailand pada Senin pagi.
Bangkok Post melansir, pasukan Thailand berdalih membalas untuk menghentikan serangan, dengan pesawat angkatan udara menyerang sasaran militer. Juru bicara militer Thailand Mayjen Winthai Suvaree mengatakan pasukan Kamboja mulai mengarahkan senapan dan tembakan tidak langsung ke sasaran di daerah Chong An Ma di distrik Nam Yuen, Ubon Ratchathani, mulai pukul 05.05.
Pada pukul 07.00 pagi, Tentara Kerajaan Thailand diberitahu bahwa seorang tentara Thailand telah gugur dan empat lainnya terluka akibat serangan Kamboja di daerah Chong Bok di distrik Nam Yuen, katanya.
Pada konferensi pers, Mayjen Winthai mengatakan delapan tentara Thailand terluka dan setidaknya satu tentara gugur. Kematian lain yang dilaporkan belum dapat dikonfirmasi, katanya.
Kamboja memperluas serangannya hingga mencakup wilayah Huai Ta Maria di Si Sa Ket serta wilayah Khana, Ta Khwai dan Ta Muen di Surin. Mayjen Winthai mengatakan tentara Thailand membalas tembakan dan jet tempur Thailand menyerang banyak sasaran militer Kamboja untuk menghentikan agresi Kamboja.
Angkatan Darat ke-2 mengatakan bahwa pada pukul 8.30 pagi roket Kamboja yang ditembakkan dari peluncur BM-21 menghantam Ban Sai Tho 10 di distrik Ban Kruat, Buri Ram. Menurut pihak Thailand, serangan perbatasan oleh Kamboja pada Senin terjadi setelah serangan mereka di provinsi Si Sa Ket pada hari Ahad sore, ketika dua tentara Thailand terluka.
Serangan Ahad mendorong evakuasi warga di daerah perbatasan empat provinsi timur laut yang berbatasan dengan Kamboja. Lebih dari 385.000 orang dipindahkan dari daerah berisiko di sepanjang perbatasan, kata Angkatan Darat ke-2.
Serangan berlanjut pada Senin pagi
Angkatan Darat ke-2 melaporkan bahwa sekitar pukul 22.00 malam pada Ahad Kamboja mengerahkan tank di daerah Samrong di provinsi Oddar Meanchey dan mengevakuasi orang-orang dari daerah perbatasan.
Sekitar pukul 23.00 malam Kamboja memulai persiapan peperangan skala penuh di sepanjang perbatasannya dengan Thailand. Mereka memperkuat pangkalan militernya, mematikan telepon seluler, mengerahkan drone dan menyiapkan resepsi bagi para komandan militer.
Lewat tengah malam, Kamboja pada Senin mengerahkan beberapa peluncur roket RM-70 di distrik Chom Krasan di provinsi Preah Vihear dan mengevakuasi desa-desa setempat. Sekitar pukul 01.00, Kamboja mengerahkan beberapa peluncur roket BM-21 dan Tipe 90B di Samrong, Oddar Meanchey.
Sekitar pukul 03.00 Kamboja mengarahkan senjata ke bandara Buri Ram di provinsi Buri Ram dan ke Rumah Sakit Prasat di provinsi Surin. Sekitar pukul 03.25 pagi Kamboja mengarahkan senjata ke desa Ban Kachai Noi di distrik Ban Dan, Buri Ram, yang berjarak 13 kilometer dari bandara Buri Ram. Desa ini berjarak 87 kilometer dari perbatasan.
Kamboja juga mengarahkan senjata ke desa Ban Chruk Khwae di distrik Prasat, Surin. Desa ini berjarak 31 kilometer dari perbatasan. Juru Bicara Angkatan Udara Thailand AM Jackrit Thammavichai mengatakan jet tempur Thailand digunakan untuk menghentikan operasi militer Kamboja yang merugikan keamanan dan masyarakat Thailand.
Menurutnya, pengerahan jet tersebut merupakan respons terhadap aktivitas militer besar-besaran Kamboja di sepanjang perbatasan, yang menimbulkan risiko luas terhadap wilayah Thailand.
Pihak Thailand juga mengklaim pesawat-pesawat angkatan udara hanya menargetkan pangkalan militer, menggunakan hak untuk membela diri, sesuai kebutuhan dan proporsional, katanya. Di provinsi Sa Kaeo, Angkatan Darat Pertama memerintahkan evakuasi orang-orang dari daerah perbatasan, mulai sekitar pukul 07.00 pagi.




