spot_img

Salsa Erwina Tidak Pernah Menyentuh “Tubuh” Jokowi?

Oleh : Damai Hari Lubis – Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)

KNews.id – Jakarta, Salsa Erwina tiba tiba muncul dan menghantam beberapa oknum anggota DPR RI yang sepatutnya Salsa bisa dibenarkan jika dikaitkan dengan mentalitas (amoral) para wakil rakyat yang mengalami “kerusakan mental” tentu ada bersemayam pada lintas partai? Akibat selain system error karena mendapatkan demokrasi keadilan melalui voting atau suara terbanyak.

- Advertisement -

‘Delegator’ rakyat yang sakit (hedonism) pada multi partai dimaksud, ada pada partai politik identitas merah Kepala Banteng sampai dengan lambang putih suci dihiasi padi dengan makna utamakan “perut kenyang” bukan prioritas keadilan. Ada juga partai senior dengan logo Ka’bah warna hijau semangka isinya merah kadang biru, kadang warna kuning. Mirip warna khas kelompok “para gay dan lesbi”.

Semua sudah terciri oleh masyarakat pemerhati partai politik, terhadap perilaku gejala gejala partai yang selalu mengecoh rakyat pemilihnya dan “menipu” lintas konstituen setiap 5 tahun sekali.

- Advertisement -

Lalu adakah Salsa mengeritik Jokowi sebagai sosok “biang kerusakan mentalitas pejabat publik selaku penyelenggara negara, atau hal kepemimpinan bangsa di semua sektor dan lintas profesi yamg kini mengalami degradasi moralitas ?

Apakah Salsa yang pemberani namun takut kepada sosok Jokowi yang kini menjadi pelapor di Reskrimum Polda Metro Jaya, karena merasa dituding sekelompok publik ijazahnya palsu?

Apakah penyelenggara negara yang dituduh pengguna ijazah palsu hal yang selaras dengan dunia edukatif saat ini ? Atau lumrah dan biasa biasa saja ? Karena faktor user ijazah palsu sudah terlampau kebanyakan?

Dalam pancaroba musim politik kekinian, tentu banyak skenario politik pragmatis yang ingin mempertahankan kursi kekuasaannya, juga hal klasik yakni ingin selamatkan dirinya harta dan keluarganya dan kroni dari “amok massa” atau ingin bargaining politik dampak perpindahan kekuasaan. Hanya perpindahan dari old ruler ke the new ruler sehingga implikasinya sektor penguasa ekonomi pun bergeser ke new master.

Pemilu pilpres dan pileg 5 tahun sekali hanya agenda rutinitas, khusus sekedar pergantian pemimpin (sovereign/ penguasa) saja suguhan pesta yang menghabiskan banyak uang rakyat, dan ibaratnya hanya demi ular ular yang berganti kulit berikut lomba drama dengan segala macam topik judul narasi dengan gimmick ‘teaterikal kejujuran?’

Lalu rakyat ASN yang aktif dan pensiun maupun rakyat wiraswasta yang jujur, yang sejak dulu hidup pas pasan tentu sulit bakal berubah wujud kehidupannya karena mereka bukan ular ular.

- Advertisement -

Alhasil logikannya ‘yang miskin tetap miskin’ dan sebaliknya yang bajingan semakin bertambah banyak jumlahnya, karena bercampur kembali (reuni) atas asas ‘kawan lama yang dulubsam.berjuang” dan asas gotong royong’ sehingga kelak tidak saling ganggu.

Cukup itu saja, Salsa pun bakal muncul sebatas semusim dan cukup “menelan korban” sesuai pesanan ‘ojol’. Lalu driver ojol nan lugu tetap on the way, from shop to house and from house to house diterik matahari atau kehujanan dan kadang kena denda karena paketan hilang dijalan, dan semua “hewan mimikris” akan bersemi beritanya kembali pada musim yang akan datang bersama salsa-salsa lainnya.

(FHD/NRS)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini