KNews.id – Jakarta, 5 September 2025 Laporan Global Financial Inclusion Index (Global FIndex) 2025 yang dirilis Bank Dunia menunjukkan tingkat inklusi keuangan Indonesia masih terbilang rendah yakni 52,39%, bahkan jauh di bawah rata-rata dunia (75,31%) dan negara-negara ASEAN seperti Singapura (97,82%), Thailand (91,12%), Malaysia (87,18%), dan Vietnam (69,85%).
Padahal, tingkat inklusi keuangan sangat penting, karena semakin tinggi nilainya, semakin besar potensi pertumbuhan aset perbankan, baik dari sisi simpanan maupun penyaluran kredit.
Tingginya inklusi keuangan warga Singapura yang mencapai 97,82%, tercermin dari besarnya nilai aset DBS, yang pada Juni 2025 mencapai US$656,1 miliar atau Rp10.698 triliun, menjadikannya bank dengan aset terbesar di Asia Tenggara.
Di sisi lain, bank pemerintah Malaysia (Maybank, CIMB, BSN) memiliki total aset US$438,8 miliar atau Rp6.984 triliun, sementara konsolidasi aset empat bank Himbara Indonesia (Mandiri, BRI, BNI, BTN) baru mencapai US$381,2 miliar atau Rp6.240 triliun, masih tertinggal jauh dibanding Malaysia dan Singapura.
Selain karena aset yang relatif kecil, bank-bank Himbara juga kesulitan bersaing di tingkat regional ASEAN karena net interest margin (NIM) yang terlalu lebar. NIM rata-rata Himbara secara konsisten berada pada tingkat yang tinggi di kisaran 3,75-5%, bahkan sampai di atas 6% untuk BRI. Nilai tersebut membuat bunga kredit bank Himbara lebih tinggi dibanding bank-bank lain di Asia Tenggara.
Ekspansi Himbara ke luar negeri pun masih terbatas, lebih fokus mendukung kegiatan ekonomi dan finansial warga Indonesia di luar negeri, terutama dalam pengiriman uang dan perdagangan, sehingga pasar mereka tetap niche, seperti pekerja migran dan diaspora.
Cara tercepat untuk meningkatkan daya saing regional ASEAN adalah melalui merger. Namun, rencana penggabungan ini menghadapi penolakan karena dianggap terlalu kompleks dan penuh risiko sehingga perlu dipertimbangkan secara hati-hati sebelum dijalankan.
Narahubung:
Research Coordinator Next Indonesia Center,
Phone: +62 823-1016-5120
(FHD/NRS)





