KNews.id – Jakarta – Direktur Eksekutif PARA Syndicate Virdika Rizky Utama mengatakan Presiden Prabowo Subianto sedang ketakutan ketika meminta masyarakat untuk percaya dengan pemerintah yang dipimpinnya. Menurut Virdika, permintaan itu merupakan perintah Prabowo yang lahir dari ketakutan karena pemerintahannya sedang goyah.
Menurut Virdika, kepercayaan masyarakat tidak bisa diminta. Kepercayaan masyarakat harus dibangun melalui pengakuan kesalahan dan transparansi. Namun, Prabowo justru memberikan narasi stabilitas. “Stabilitas yang dipaksakan itu rapuh banget. Dia berdiri di atas pengendalian narasi, bukan pengakuan realitas,” ujar dia.
Virdika merasa terganggu dengan cara Prabowo menyampaikan belasungkawa. Prabowo mengaku kecewa dan terkejut atas tragedi pengemudi ojol dilindas rantis Brimob. Menurut Virdika, Prabowo seharusnya meminta maaf karena gagal melindungi warganya.
“Permintaan maaf adalah bentuk paling dasar dari tanggung jawab. Tapi Prabowo tidak memilih itu. Dia memilih untuk tetap berada di posisi netral, seolah-olah dia hanya pengamat, bukan pelaku,” kata dia.
Bagi Virdika, belasungkawa tanpa maaf itu kosong. Bila tidak meminta maaf maka Prabowo sedang menolak untuk mengakui bahwa ada yang rusak secara struktural.
“Hal itu berbahaya. Karena kalau negara tidak bisa mengakui kesalahan, maka kekerasan akan terus jadi bagian dari cara kerja, ” kata dia. Prabowo sebelumnya mengimbau masyarakat waspada terhadap kelompok yang ingin situasi tetap kaos atau kacau. Dia meminta masyarakat percaya kepada pemerintah.
“Saya mengimbau kepada seluruh bangsa Indonesia untuk selalu waspada terhadap unsur-unsur yang selalu ingin huru-hara, yang ingin kaos,” kata dia dalam keterangan pers di Youtube Sekretariat Presiden, Jumat, 29 Agustus 2025.
Prabowo juga tidak meminta maaf atas tragedi pengemudi ojek online dilindas rantis Brimob saat berlangsungnya demonstrasi kemarin. Dia hanya menyampaikan duka cita dan belasungkawa atas peristiwa itu.





