Oleh : Damai Hari Lubis – Pengamat Hukum & Politik Mujahid 212
KNews.id – Mengapa wajah Pilkada Gubernur Jakarta/DKJ digambarkan sebagai sosok Anies Baswedan dan menjadi wajah dua partai PKS dan PDIP ?
Parameter gambarannya adalah estimasi perolehan suara melalui kursi hasil pemilu pilpres 2024 sesuai keputusan KPU Provinsi DKI Jakarta Nomor 33 Tahun 2024.
Sehingga menjadi bilangan kursi DPRD. DKI Jakarta yang dimiliki kedua partai PKS (18 kursi) dan PDIP. (15 kursi), merupakan kursi yang terbesar diantara partai-partai yang ada. Selain wajah-wajah tersebut diatas, Jakarta juga tempat individu-individu pejabat negara “keblangsak”, Jakarta yang sampai dengan saat ini masih de facto menjadi Wajah Ibu kota negara, minus de yure via (UU. IKN ) sekedar stempel Jokowi, yang sebentar lagi gak laku, fisik stempelnya bakal menjadi barang murahan.
Sementara perolehan Jokowi dapat digambarkan jelmaannya adalah sebagai PSI atau sosok Kaesang yang hanya berjumlah 8 kursi namun sudah dipaksakan melalui segala bentuk cawe-cawe bansos demi pribadi Kaesang Ketum PSI. bukan bansos demi bangsa dan negara, tidak semata demi wong cilik barisan PDIP.
Sehingga dalam kontes Pilkada Jakarta, andai digabungkan konstituen keduanya PKS yang 18 kursi + PDIP 15 kursi.di Pilkada/ Pilgub DKJ. Maka suara untuk Anies sebagai Gubernur plus Wagub andai dari PDIP. Akan berjumlah 33 kursi lebih banyak dari Kaesang yang didukung oleh PSI. Walau di support Gerindra. Maka Kaesang diperkirakan suaranya sejumlah kursi 22 kursi. Ini belum + Golkar dan PAN + Demokrat maka total kursi (suara andai tetap) adalah 50 kursi. Lalu dengan pertimbangan hak prerogatif dan jerat-jerat leher masih ditangan Jokowi sampai tanggal 20 Oktober 2024, maka kursi yang berada ditangan Airlangga Hartarto dan Zulkifli Hassan dengan partai mereka akan ikut setia kepada gerbang Kaesang Bin Jokowi, dan plus masa Perindo yang mengambang ?
Lalu PKS tentu tidak bodoh atau masa bodo ? Karena PKS, yang mendudukkan posisinya sementara ini sebagai “jelmaan Anies” + Nasdem dan PKB di gabung dengan PDIP + kolega partainya PPP ? Sehingga berjumlah kursi 55 ?
Hal suara emas PDIP merupakan faktor primer dan prioritas utama, sesuatu kepentingan bersama mengantisipasi “common enemy” yang memiliki tanda-tanda kejelasan, Kaesang didukung oleh cawe-cawe Jokowi jilid II selaku orang tua kandung, dengan modus persis pola Gibran yang lolos karena Cawe-cawe jilid I, melalui Pamannya Anwar Usman selaku ketua MK. yang kemudian Anwar dipecat atas dasar hukum telah melakukan nepotisme. Hal nepotisme ini terbukti melalui putusan MKMK.
Ilustrasi cawe-cawe ini sama-sama melalui lembaga yudikatif. Hanya beda badan peradilan, Kaesang diloloskan bakal menjadi cagub melalui MA (Mahkamah Agung), sedangkan Gibran lolos ikut pilpres melalui MK/ (Mahkamah Konstitusi).
Dari sisi fenomen perkembangan politik, sulit untuk dianalisa secara politik bahwa PDIP bakal berdua nekad dengan PPP untuk maju pada pilgub Jakarta 2024.
PDIP. walau “partai menggantung” merupakan partai EMAS, bakal menjadi rebutan. Termasuk incaran Jokowi dengan memperalat KPK. sebagai pintu masuknya melalui kasus Harun Masiku. Sayangnya KPK. Tidak mempu PDIP (Mega dan Hasto) beserta para senioren partai, semakin radikal melawan dan marah kepada Jokowi justru akan semakin memuncak, implementasinya kalahkan Kaesang, dengan metode merangkul Anies. Dan akan kah PKS mengambil contoh PPP. semangka hijau dengan isi buah merah, yang sejak lama sudah bergandengan tangan dengan PDIP.
Maka bicara politik gak ada alasan Anies atau PKS menolak PDIP. menjadi cawagub DKI. Jakarta, untuk memenangkan kontes Anies menuju pilpres 2029. yang jika keliru strategi bisa tenggelamkan Anies seumur hidupnya untuk menjadi pemimpin nasional. Sedangkan PDIP dengan wong ciliknya (eks PNI pengikut Soekarno) memang realitas basis politik tradisional namun fakta historis politik telah memenangkan dua periode presiden walau belakangan dikhianati sang presiden dan PDIP beberapa kali suara pemilu terbesar tingkat nasional.
Selebihnya, secara kehidupan dan geo politik yang selalu dinamis, dan politik (sering) fragmatis, tentunya perlu disadari oleh PKS Cs. jika sekedar untuk dapat ikut serta memasuki kabinet Prabowo untuk bercokol di komplek istana yang berumput hijau segar, bukan berganing politik yang sulit bagi “sapi jantan”, cukup selayang senyum dari tokoh bangsa Megawati maka akan meluluhkan hati Prabowo, dengan segala persyaratan inti, menyangkut kisi-kisi eksistensi pertanggungjawaban politik hukum seorang eks kawan lama, eks petugas partai dengan politik masa lalu mereka berdua terhadap Sang Banteng dan termasuk tokoh silent politics (Now it’s no longer neutral) tentu bakal terimbas oleh Sang Tokoh Singa Banteng Sang Anak Proklamator RI
Adapun selengkapnya jumlah perolehan kursi-kursi setiap partai sesuai urutan perolehan kursi adalah:
PKS; 1.012.028 suara (18 kursi), PDIP; 850.174 suara (15 kursi). Gerindra; 728.297 suara (14 kursi). PKB; 470.682 suara (10 kursi), Golkar; suara 517.819 (10 kursi), Partai NasDem: 545.235 suara (11 kursi), PAN, 455.906 suara (10 kursi). Demokrat, 444.314 suara (8 kursi). PSI, 465.936 suara (8 kursi). Perindo, 160.203 suara (1 kursi), dan PPP, 153.240 suara suara (1 kursi).
(Zs/NRS)





