KNews.id – Jakarta – Banyak ayat Alquran dan hadis yang menjelaskan tentang berbagai amal, akhlak, dan karakter manusia yang dibenci oleh Allah Ta’ala.
Sifat-sifat yang dibenci dan tidak disukai Allah tersebut tidak semuanya berada pada tingkatan yang sama. Ada yang berupa kekufuran dan menyebabkan seseorang keluar dari Islam, ada yang termasuk dosa besar dan kemaksiatan, dan ada pula yang tergolong perbuatan makruh.
Salah satu konsekuensi dari kecintaan seorang hamba kepada Rabb-nya dan kesempurnaan imannya adalah mencintai apa yang dicintai Allah, membenci apa yang dibenci-Nya, ridha terhadap apa yang diridhai-Nya, serta marah terhadap apa yang membuat-Nya murka.
Berikut ini beberapa akhlak yang dibenci Allah dan orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut:
1. Sombong, membanggakan diri, dan angkuh
Di antara akhlak yang paling dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah kesombongan, membanggakan diri, dan keangkuhan.
Kesombongan (kibr) adalah rasa kagum seseorang terhadap dirinya sendiri hingga ia memandang dirinya lebih baik daripada orang lain.
Adapun fakhr atau membanggakan diri adalah membanggakan sesuatu yang berada di luar diri seseorang, seperti harta, kedudukan, jabatan, dan status sosial.
Sementara khuyalā’ atau keangkuhan adalah sikap sombong karena seseorang membayangkan adanya kelebihan pada dirinya.
Keangkuhan dan kesombongan merupakan dosa besar yang diharamkan Allah. Dia berfirman:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍۢ فَخُورٍۢ ١٨
“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS Luqman: 18)
Artinya, orang yang sombong adalah orang yang kagum terhadap dirinya sendiri, sedangkan orang yang membanggakan diri adalah orang yang merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Golongan manusia seperti ini tidak dicintai dan tidak diridhai Allah karena mereka bersikap sombong terhadap sesama. Karena itulah Allah membenci mereka. Rasulullah SAW juga bersabda:
الِاخْتِيَالُ الَّذِي يُبْغِضُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الْخُيَلَاءُ فِي الْبَاطِلِ
“Keangkuhan yang dibenci Allah SWT adalah kesombongan dalam kebatilan.” (Hadis hasan, HR An-Nasa’i)
Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Adab ad-Din wa ad-Dunya, mengatakan sifat-sifat tersebut merupakan akhlak tercela yang dapat menghilangkan berbagai keutamaan dari diri seseorang dan menggantinya dengan berbagai keburukan. Bahkan, kesombongan dan membanggakan diri merupakan buah buruk dari sifat merasa hebat dan kagum terhadap diri sendiri.
Allah Ta’ala membenci orang-orang yang sombong. Dia berfirman:
Lebah (16:23)
لَا جَرَمَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْتَكْبِرِينَ ٢٣
“Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka tampakkan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang sombong.”(QS An-Nahl: 23)
Bentuk kesombongan yang paling buruk
Salah satu bentuk kesombongan yang paling buruk adalah kesombongan orang miskin yang serba kekurangan dan membutuhkan pertolongan.
Nabi SAW bersabda:
أَرْبَعَةٌ يُبْغِضُهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الْبَيَّاعُ الْحَلَّافُ، وَالْفَقِيرُ الْمُخْتَالُ، وَالشَّيْخُ الزَّانِي، وَالْإِمَامُ الْجَائِرُ
“Ada empat golongan yang dibenci Allah SWT (yaitu) pedagang yang banyak bersumpah, orang miskin yang sombong, orang tua yang berzina, dan pemimpin yang zalim.” (Hadis sahih, HR An-Nasa’i)
Imam al-Munawy dalam Faidh al-Qadhirmenjelaskan, kesombongan memang diharamkan bagi siapa saja.
Namun, kesombongan yang muncul dari seorang fakir lebih buruk karena Allah telah menjauhkan darinya berbagai sebab yang biasanya membuat seseorang merasa tinggi dan membanggakan diri.
Semestinya keadaan tersebut menjadikannya lebih rendah hati. Namun, buruknya tabiat justru membuatnya tetap memilih kesombongan. Karena itulah kesombongan yang muncul darinya menjadi semakin tercela.
Allah Ta’ala akan meminta pertanggungjawaban orang-orang yang sombong, meskipun kesombongan yang tersimpan di dalam hati mereka hanya sebesar zarah.
Rasulullah SAW bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar zarah.” (HR Muslim)
2. Kikir
Akhlak kedua yang dibenci Allah adalah kikir.
Rasulullah SAW bersabda:
ثَلَاثَةٌ يُبْغِضُهُمُ اللَّهُ: مَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ، وَغَنِيٌّ بَخِيلٌ
“Ada tiga golongan yang dibenci Allah: seorang penguasa yang suka berdusta, orang miskin yang sombong, dan orang kaya yang kikir.” (HR Ath-Thabrani dalam al-Ausath)
Ibu Hayyan al-Andalusi, dalam al-Bahr al-Muhith, menjelaskan kikir memiliki banyak bentuk. Seseorang bisa kikir terhadap hartanya, ilmunya, makanan, salam, perkataan, kedudukan, bahkan kikir untuk bershalawat kepada Nabi SAW.
Semua bentuk tersebut merupakan kekurangan dan akhlak tercela, baik menurut akal maupun syariat.
Rasulullah SAW bersabda:
شَرُّ مَا فِي الرَّجُلِ: شُحٌّ هَالِعٌ
“Seburuk-buruk sifat yang ada pada seseorang adalah kekikiran yang sangat berat.”
(Hadis sahih, HR. Ahmad)
Maksudnya, ia begitu dikuasai oleh sifat kikir hingga merasa sangat berat dan gelisah ketika harus mengeluarkan sesuatu yang menjadi hak orang lain.
Nabi SAW juga bersabda:
إِنَّ أَبْخَلَ النَّاسِ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلَامِ
“Sesungguhnya manusia yang paling kikir adalah orang yang kikir mengucapkan salam.”
(Hadis sahih, HR. Ibnu Hibban)
Beliau juga bersabda:
الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ؛ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
“Orang yang kikir adalah orang yang ketika namaku disebut di hadapannya, ia tidak bershalawat kepadaku.” (Hadis sahih, HR Ahmad)
Lalu, adakah orang yang lebih kikir daripada orang seperti ini?
3. Perkataan dan perilaku keji
Akhlak berikutnya yang dibenci Allah adalah perbuatan keji dan kebiasaan berkata-kata kotor.
Fuhsy adalah segala ucapan dan perbuatan yang sangat buruk dan tercela. Menurut al-Jurjani, dalam at-Ta’rifat, ada pula yang mendefinisikannya sebagai sesuatu yang secara alami dijauhi oleh tabiat yang sehat dan dipandang buruk oleh akal yang lurus.
Nabi SAW menjelaskan bahwa Allah tidak menyukai perbuatan keji dan kebiasaan berkata keji. Beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفُحْشَ وَالتَّفَحُّشَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai perkataan dan perbuatan keji serta sikap suka berkata keji.” (HR Muslim)
Beliau juga memperingatkan umatnya:
إِيَّاكُمْ وَالْفُحْشَ؛ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَاحِشَ وَالْمُتَفَحِّشَ
“Jauhilah perbuatan keji, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berkata dan berbuat keji.” (Hadis sahih, HR Ibnu Hibban)
Bahkan, Nabi SAW secara tegas menyatakan bahwa Allah membenci orang yang berkata-kata kotor:
إِنَّ اللَّهَ لَيَبْغَضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ
“Sesungguhnya Allah benar-benar membenci orang yang berkata keji dan kotor.”
(Hadis sahih, HR At-Tirmidzi)
Badzi’ adalah perkataan yang keji, buruk, dan kasar, meskipun apa yang dikatakannya itu benar.
Rasulullah SAW merupakan teladan terbaik dalam menjauhi perkataan dan perbuatan keji. Abdullah bin Amr dan berkata:
لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا
“Nabi SAW bukanlah orang yang berkata keji dan bukan pula orang yang sengaja berkata-kata keji.” (HR Bukhari)
4. Berlebihan dan dibuat-buat dalam berbicara
Akhlak berikutnya yang dibenci Allah adalah berlebihan dan dibuat-buat dalam berbicara.
Sikap ini memiliki beberapa bentuk, antara lain tasyaddud dalam berbicara, taqa‘‘ur, tafasuh, tafayhuq, dantsartsarah—yakni berbicara dengan gaya yang dibuat-buat, berlebihan, terlalu banyak, dan sengaja mempertontonkan kemampuan bahasa untuk menunjukkan kehebatan diri.
Semua bentuk tersebut merupakan gaya berbicara yang tidak disukai Allah dan tidak disukai pula dari orang yang melakukannya.
Nabi SAW bersabda tentang orang yang sengaja memperindah dan memperumit perkataannya untuk menunjukkan kefasihan, kehebatan, serta superioritas dirinya:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبْغِضُ الْبَلِيغَ مِنَ الرِّجَالِ، الَّذِي يَتَخَلَّلُ بِلِسَانِهِ تَخَلُّلَ الْبَاقِرَةِ بِلِسَانِهَا
“Sesungguhnya Allah SAW membenci orang yang sangat pandai berbicara dari kalangan laki-laki, yang memutar-mutar lidahnya sebagaimana sapi memutar-mutarkan lidahnya.” (Hadis sahih, HR Abu Dawud)
Nabi SAW menggambarkan orang yang sengaja berlebihan dalam berbicara seperti sapi yang memutar lidahnya. Sebab, orang tersebut memainkan dan memutar-mutarkan lidahnya di sekitar giginya ketika berbicara, sebagaimana sapi memutar lidahnya ketika makan.
Bukan hanya Allah yang membenci perilaku semacam ini. Rasulullah SAW juga tidak menyukainya. Bahkan, beliau menyatakan bahwa orang-orang yang gemar berbicara berlebihan akan menjadi orang yang paling jauh tempat duduknya dari beliau pada hari kiamat.
Beliau SAW bersabda:
إِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ، وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ: الثَّرْثَارُونَ، وَالْمُتَشَدِّقُونَ، وَالْمُتَفَيْهِقُونَ
قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَدْ عَلِمْنَا “الثَّرْثَارُونَ، وَالْمُتَشَدِّقُونَ” فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ؟ قَالَ: الْمُتَكَبِّرُونَ
“Sesungguhnya orang yang paling aku benci di antara kalian dan yang paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak bicara, orang-orang yang suka berlebih-lebihan dalam berbicara, dan orang-orang yang suka membual dengan perkataannya.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui siapa yang banyak bicara dan siapa yang berlebih-lebihan dalam berbicara. Lalu, siapa yang dimaksud dengan mutafayhiqun?” Beliau menjawab, “Orang-orang yang sombong.”
(Hadis hasan, HR At-Tirmidzi)
Bahkan, mereka termasuk golongan manusia yang paling buruk. Rasulullah SAW bersabda:
شِرَارُ أُمَّتِي: الثَّرْثَارُونَ، الْمُشَّدِّقُونَ، الْمُتَفَيْهِقُونَ
“Seburuk-buruk umatku adalah orang-orang yang banyak bicara, orang-orang yang suka berlebih-lebihan dalam berbicara, dan orang-orang yang sombong.”
(Hadis sahih, HR Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Semua bentuk berlebihan dalam berbicara tersebut pada hakikatnya termasuk tanaththu‘, yaitu sikap melampaui batas dalam perkataan dan perkara lainnya. Nabi SAW telah memperingatkan:
هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ
“Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan.” Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali.
(HR Muslim)
Dalam kitab Ikmal al-Mu’allim bi Fawaid al-Muslim, Qadhi ‘Iyadh, menjelaskan tanaththu‘ berarti terlalu mendalam, berlebihan, memperumit, bersikap keras, serta melampaui batas dalam berbagai perkara.
Adapun mutanaththi‘ adalah orang yang berbicara dengan cara dibuat-buat hingga mengeluarkan suara dari bagian terdalam tenggorokannya. Istilah ini berasal dari kata nath‘, yaitu bagian langit-langit mulut.
5. Menampakkan kesengsaraan dan berpura-pura hidup susah
Penampilan seseorang di tengah masyarakat memiliki makna yang jelas dan dapat dipahami oleh siapa pun.
Allah Ta’ala tidak menyukai seorang hamba yang sengaja menampilkan dirinya di hadapan orang lain dalam keadaan hina, lemah, dan serba kekurangan hanya untuk menarik belas kasihan serta mendapatkan bantuan mereka.
Sebaliknya, Allah menyukai seorang hamba yang menampakkan rasa syukur dengan menggunakan dan merawat nikmat yang telah diberikan kepadanya. Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى إِذَا أَنْعَمْ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ النِّعْمَةِ عَلَيْهِ، وَيَكْرَهُ الْبُؤْسَ وَالتَّبَاؤُسَ
“Sesungguhnya apabila Allah memberikan suatu nikmat kepada seorang hamba, Dia suka melihat bekas nikmat tersebut pada dirinya dan membenci kesengsaraan serta sikap berpura-pura sengsara.” (Hadis sahih, HR Al-Baihaqi)
Beliau SAW juga bersabda:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، وَيُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ، وَيُبْغِضُ الْبُؤْسَ وَالتَّبَاؤُسَ
“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Dia suka melihat bekas nikmat-Nya pada diri hamba-Nya dan membenci kesengsaraan serta sikap berpura-pura sengsara.”
(Hadis sahih, HR Al-Baihaqi)
Menampakkan kemiskinan dan kebutuhan padahal seseorang sebenarnya berkecukupan pada hakikatnya seperti mengadukan nikmat Allah kepada manusia.
Sikap tersebut juga dapat menyebabkan seseorang dipandang rendah dan diremehkan oleh orang lain, bahkan dapat menjadi bahan kegembiraan bagi musuh-musuhnya.
Karena itu, seorang mukmin tidak sepatutnya mengabaikan dirinya sendiri atau sengaja mengabaikan penampilannya, sementara berbagai sarana untuk memperbaiki dan menjaga penampilan tersebut sebenarnya tersedia baginya.
Tentu, hal ini bukan berarti seorang Muslim harus hidup bermewah-mewahan atau memamerkan kekayaan. Yang dimaksud adalah mensyukuri nikmat Allah dan tidak sengaja menampilkan diri dalam keadaan buruk demi mendapatkan simpati manusia.
6. Cemburu yang tercela
Cemburu atau ghirah ada yang terpuji dan ada pula yang tercela. Ada kecemburuan yang diridhai Allah, dan ada kecemburuan yang dibenci-Nya.
Kecemburuan yang dicintai Allah adalah kecemburuan seorang laki-laki terhadap kehormatan dan keluarganya ketika melihat mereka melakukan sesuatu yang diharamkan.
Adapun kecemburuan yang tercela dan dibenci Allah adalah kecemburuan yang dibangun di atas prasangka, kecurigaan, dan dugaan-dugaan tanpa dasar.
Rasulullah SAW bersabda:
إِنَّ مِنَ الْغَيْرَةِ مَا يُحِبُّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَمِنْهَا مَا يُبْغِضُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ… فَأَمَّا الْغَيْرَةُ الَّتِي يُحِبُّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ؛ فَالْغَيْرَةُ فِي الرِّيبَةِ، وَأَمَّا الْغَيْرَةُ الَّتِي يُبْغِضُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ؛ فَالْغَيْرَةُ فِي غَيْرِ رِيبَةٍ
“Sesungguhnya di antara kecemburuan ada yang dicintai Allah dan ada pula yang dibenci Allah. Adapun kecemburuan yang dicintai Allah adalah kecemburuan dalam perkara yang memang patut dicurigai, sedangkan kecemburuan yang dibenci Allah adalah kecemburuan dalam perkara yang tidak patut dicurigai.” (Hadis hasan, HR An-Nasa’i)
Dalam kecemburuan yang tercela, dorongan amarah yang muncul akibat iri hati dan keengganan menerima adanya pihak lain dalam kehidupan seseorang mulai bergerak. Dorongan tersebut kemudian membuat seseorang bertindak berdasarkan prasangka dan dugaan-dugaan.
Di sinilah setan memanfaatkannya untuk membisikkan berbagai macam pikiran buruk kepada manusia.
Aisyah RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah keluar dari rumahnya pada malam hari. Aisyah berkata, “Aku merasa cemburu kepadanya.”
Kemudian Rasulullah SAW datang dan melihat apa yang aku lakukan. Beliau bertanya, “Ada apa denganmu, wahai Aisyah? Apakah engkau cemburu?”
Aku menjawab, “Apa yang membuat orang sepertiku tidak cemburu kepada orang seperti dirimu?” Rasulullah SAW kemudian bertanya, “Apakah setanmu telah datang kepadamu?”
Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah bersamaku ada setan?” Beliau menjawab, “Ya.”Aku bertanya lagi, “Apakah setiap manusia juga disertai setan?” Beliau menjawab, “Ya.”
Aku bertanya, “Termasuk engkau, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ya. Akan tetapi, Rabb-ku telah menolongku menghadapinya hingga ia tunduk kepadaku.”
(HR Muslim)
Kisah ini memberikan pelajaran penting bahwa perasaan cemburu, apabila tidak dikendalikan oleh iman dan akal sehat, dapat menjadi pintu masuk bagi bisikan setan.
Karena itu, seorang Muslim harus membedakan antara kecemburuan yang lahir dari kepedulian terhadap kehormatan dan kecemburuan yang hanya dibangun di atas prasangka serta dugaan tanpa bukti.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari kesombongan, kekikiran, perkataan keji, sikap berlebihan dalam berbicara, kebiasaan menampakkan kesengsaraan, serta kecemburuan yang tercela.
Semoga Allah menghiasi diri kita dengan akhlak yang dicintai-Nya dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang rendah hati, dermawan, santun, menjaga lisan, bersyukur atas nikmat, dan mampu mengendalikan hawa nafsu.






