KNews.id – Jakarta – Salah satu gambaran paling dahsyat tentang peristiwa Hari Kiamat adalah ketika manusia harus melewati sebuah keadaan yang sangat berat dan menggentarkan.
Bahkan para nabi, yang merupakan manusia-manusia pilihan Allah SWT, merasa takut menghadapinya. Lalu bagaimana dengan kita, manusia biasa yang penuh kekurangan?
Kondisi tersebut adalah saat melewati ash-shirath, jembatan yang terbentang di atas punggung neraka. Lantas apakah yang dimaksud dengan ash-shirath dan seperti apa ash-shirath itu?
Berikut ini sejumlah fakta terkait dengan jembatan yang akan dilewati umat manusia kelak pada hari kiamat:
Pertama, ash-shirath adalah jembatan yang dibentangkan di atas neraka Jahannam, sekaligus menjadi jalan yang menghubungkan surga dan neraka. Manusia akan melewatinya sesuai dengan kadar amal mereka.
Allah Ta’ala berfirman:
وَإِن مِّنكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًۭا مَّقْضِيًّۭا ٧١ ثُمَّ نُنَجِّى ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوا۟ وَّنَذَرُ ٱلظَّـٰلِمِينَ فِيهَا جِثِيًّۭا ٧٢
Dan tidak ada seorang pun di antara kamu yang tidak mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah ketentuan yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam (neraka) dalam keadaan berlutut. (QS Maryam: 71–72)
Yang dimaksud dengan wurud (melewati atau mendatangi) dalam ayat tersebut adalah melewati ash-shirath.
Salah satu penggunaan kata wurud yang tidak bermakna masuk ke dalam sesuatu dapat ditemukan dalam firman Allah SWT:
وَلَمَّا وَرَدَ مَآءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةًۭ مِّنَ ٱلنَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ ٱمْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ ۖ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۖ قَالَتَا لَا نَسْقِى حَتَّىٰ يُصْدِرَ ٱلرِّعَآءُ ۖ وَأَبُونَا شَيْخٌۭ كَبِيرٌۭ ٢٣
Dan ketika dia sampai di sumber air negeri Madyan, dia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang memberi minum (ternaknya), dan dia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang perempuan sedang menghambat (ternaknya). Dia (Musa) berkata, “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua (perempuan) itu menjawab, “Kami tidak dapat memberi minum (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang ayah kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya.” (QS al-Qashash: 23)
Imam Nawawi rahimahullah juga mengatakan bahwa pendapat yang benar mengenai makna wurud dalam ayat tersebut adalah melewati ash-shirath.
Ash-shirath merupakan bagian dari perkara gaib yang wajib kita imani. Terdapat sejumlah hadis dan beberapa atsar mauquf yang menjelaskan tentang sifat dan ketipisan ash-shirath.
عن أبي سعيد الخُدْري رضي الله عنه، أنه قال: بلغني أن الجسر أدقُّ من الشعرة، وأحَدُّ من السيف
Di antaranya riwayat dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata, “Telah sampai kepadaku bahwa jembatan itu lebih tipis daripada rambut dan lebih tajam daripada pedang.” (HR Muslim)
وعن سلمان رضي الله عنه موقوفًا قال: ويوضع الصراط مثل حد الموسى، فتقول الملائكة: من تجيز على هذا، فيقول: من شئت من خلقي، فيقولون: سبحانك ما عبدناك حق عبادتك
Dari Salman RA, secara mauquf, diriwayatkan, “Ash-shirath diletakkan seperti mata pisau. Para malaikat berkata, ‘Siapakah yang mampu melewati ini?’ Allah berfirman, ‘Siapa saja dari makhluk-Ku yang Aku kehendaki.’ Mereka berkata, ‘Mahasuci Engkau, kami belum beribadah kepada-Mu dengan sebenar-benar ibadah.’” (HR Al-Hakim)
وعن ابن مسعود رضي الله عنه قال: يوضع الصراط على سواء جهنم، مثل حد السيف المرهف مَدحضة مَزلَّة عليه كلاليب من نار يخطف بها
Ibnu Mas’ud RA juga berkata, “Ash-shirath diletakkan di atas neraka Jahannam. Bentuknya seperti mata pedang yang sangat tajam, licin dan mudah membuat kaki tergelincir. Di atasnya terdapat pengait-pengait dari api yang akan menyambar manusia.” (HR Ath-Thabrani)
Kedua, Rasulullah SAW telah menjelaskan keadaan ash-shirath dan kondisi manusia ketika melewatinya dengan sangat rinci.
عن أبي سعيد الخُدْري رضي الله عنه، أن النبي SAW قال:ثم يؤتى بالجسر فيجعل بين ظهري جهنم، قلنا: يا رسول الله، وما الجسر؟ قال: مَدحضة مَزلَّة، [وهو الموضع الذي تنزل فيه الأقدام، ولا تستقر، قال ابن الأثير: أراد أنه تزلق عليه الأقدام ولا تثبت]، عليه خطاطيف وكلاليب وحَسَكة مُفَلْطَحة لها شوكة عُقَيْفاء، تكون بنجد، يقال لها: السَّعْدان، يمر المؤمن عليها كالطرف وكالبرق وكالريح وكأجاويد الخيل والرِّكَاب، فناجٍ مُسَلَّم، وناجٍ مخدوش، ومكدوس في نار جهنم، حتى يمر آخرهم يُسحَب سَحْبًا))
Dalam Shahihain, dari Abu Sa’id al-Khudri RA, Nabi SAW bersabda, “Kemudian didatangkan sebuah jembatan dan dibentangkan di antara dua punggung Jahannam.”
Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jembatan itu?” Beliau menjawab, “Tempat yang membuat kaki tergelincir dan tidak stabil.” Ibnu al-Atsir, mengatakan, di atasnya terdapat pengait-pengait dan duri-duri pipih yang memiliki duri melengkung. Bentuknya seperti duri tanaman yang tumbuh di Najd yang disebut As-Sa’dan. Orang-orang beriman melewatinya dengan kecepatan seperti kedipan mata, seperti kilat, seperti angin, dan seperti kuda-kuda terbaik serta kendaraan yang berlari kencang. Ada yang selamat tanpa luka, ada yang selamat tetapi tercabik, dan ada pula yang tersungkur ke dalam api Jahannam. Hingga orang terakhir melewatinya dengan diseret.”
وفي حافتي الصراط خطاطيف وكلاليب [جمع كلوب وهو الحديدة معطوفة الرأس يعلق فيها اللحم إذا انغرزت فيه ترسل في التنور] وفيها حَسَكة مُفَلْطَحة [وهي الشوكة الصلبة العريضة] لها شوكة عُقَيْفاء [أي: منعطفة معوجة] مثل شوك تكون بنجد يقال لها: السَّعْدان، قال: هل رأيتم شوك السَّعْدان؟ قالوا: نعم، قال: فإنها مثل شوك السَّعْدان، غير أنه لا يعلم قدر عظمها إلا الله، معلقة، مأمورة بأخذ من أمرت به، فتخطف الناس بأعمالهم))، وقال صلى الله عليه وسلم: ((يحمل الناس على الصراط يوم القيامة، فَتَقادَعُ بهم جَنَبَتا الصِّراطِ تَقادُعَ الفَراشِ في النار؛
Dalam riwayat lain disebutkan:“Di kedua sisi ash-shirath terdapat pengait-pengait dan duri-duri pipih yang memiliki duri melengkung, seperti duri tanaman yang tumbuh di Najd yang disebut As-Sa’dan.”
Rasulullah SAW kemudian bertanya, “Apakah kalian pernah melihat duri As-Sa’dan?”
Para sahabat menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Bentuknya seperti duri As-Sa’dan, hanya saja tidak ada yang mengetahui sebesar apa ukurannya selain Allah. Pengait-pengait itu tergantung dan diperintahkan untuk menyambar orang-orang yang telah diperintahkan untuk disambarnya. Mereka menyambar manusia sesuai dengan amal mereka.”
Rasulullah SAW juga bersabda, “Manusia akan dibawa melewati ash-shirath pada Hari Kiamat. Kedua sisi ash-shirath akan membuat mereka berjatuhan ke dalam neraka, seperti jatuhnya laron ke dalam api.”
Ibnu Atsir menjelaskan bahwa maksudnya adalah sebagian dari mereka jatuh ke dalam neraka menimpa sebagian yang lain.
Kemudian Allah menyelamatkan dengan rahmat-Nya siapa saja yang Dia kehendaki. Setelah itu, para malaikat, para nabi, dan para syuhada diberi izin untuk memberikan syafaat.
Ketiga, penuh kengerian
Allah SWT, gambaran mengerikan tentang ash-shirath tersebut.
Ia adalah jembatan penuh kengerian. Rasulullah SAW menggambarkannya sebagai tempat yang membuat kaki tergelincir.
Di atasnya terdapat pengait-pengait, duri-duri pipih dengan duri yang melengkung, serta berbagai pengait yang hanya Allah yang mengetahui sebesar apa ukurannya.
Pengait-pengait tersebut akan menyambar manusia sesuai dengan amal mereka.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa di kedua sisi ash-shirath terdapat pengait-pengait yang tergantung dan diperintahkan untuk mengambil siapa saja yang memang diperintahkan untuk diambil.
Semua gambaran itu menunjukkan betapa dahsyatnya keadaan manusia ketika melewati ash-shirath.
Keempat, ash-Shirath dalam kegelapan
Ash-shirath juga merupakan jembatan yang berada dalam kegelapan yang sangat pekat.
Hal ini ditunjukkan oleh hadis ketika Rasulullah SAW ditanya tentang keberadaan manusia pada saat bumi diganti dengan bumi yang lain, demikian pula langit.
Beliau menjawab:
هم في الظلمة دون الجسر
“Mereka berada dalam kegelapan sebelum jembatan.” (HR Muslim)
Dalam hadis sahih disebutkan bahwa manusia akan diberi cahaya sesuai dengan kadar amal mereka.
Ada di antara mereka yang diberi cahaya sebesar gunung di hadapannya. Ada yang mendapat cahaya lebih besar dari itu. Ada yang diberi cahaya sebesar pohon kurma di sebelah kanannya. Ada pula yang mendapatkan cahaya yang lebih kecil di tangan kanannya.
Bahkan ada orang yang mendapatkan cahaya hanya di ibu jari kakinya. Cahaya itu terkadang menyala dan terkadang padam. Ketika cahaya itu menyala, ia melangkahkan kakinya. Ketika cahaya itu padam, ia berhenti.
Kemudian manusia berjalan melewati ash-shirath sesuai dengan kadar cahaya yang diberikan kepada mereka.
Ash-shirath itu sendiri digambarkan seperti mata pedang, licin dan mudah membuat kaki tergelincir. Karena itu, manusia diperintahkan untuk berjalan sesuai dengan cahaya yang mereka miliki.
Adapun cahaya orang-orang munafik akan dipadamkan, sebagaimana cahaya iman mereka telah padam ketika hidup di dunia.
Mereka kemudian berkata kepada orang-orang beriman: “Tunggulah kami! Biarkan kami mengambil sebagian dari cahaya kalian.”
Namun ketika cahaya mereka padam, mereka pun terjatuh ke dalam neraka.
Pada saat itu, orang-orang beriman yang menyaksikan apa yang menimpa orang-orang munafik akan berdoa kepada Allah dengan penuh rasa takut:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ تُوبُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ تَوْبَةًۭ نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّـَٔاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ يَوْمَ لَا يُخْزِى ٱللَّهُ ٱلنَّبِىَّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَـٰنِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَآ أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَٱغْفِرْ لَنَآ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ قَدِيرٌۭ ٨
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”(QS at-Tahrim: 8)
Kelima, para nabi dan rasul berdoa meminta keselamatan
Ash-shirath merupakan salah satu keadaan yang paling berat dan paling mengerikan pada Hari Kiamat. Dahsyatnya keadaan tersebut bahkan membuat tidak ada seorang pun yang berbicara ketika itu selain para rasul.
Namun perkataan para rasul bukanlah percakapan biasa. Mereka justru berdoa kepada Allah agar diberikan keselamatan.
Rasulullah SAW bersabda:
فيضرب الصراط بين ظهراني جهنم، [أي: على وسطها] فأكون أول من يجوز من الرسل بأمته، ولا يتكلم يومئذٍ أحد إلا الرسل، وكلام الرسل يومئذٍ: اللهم سَلِّمْ سَلِّمْ
“Kemudian ash-shirath dibentangkan di atas Jahannam. Aku menjadi orang pertama dari kalangan para rasul yang melewatinya bersama umatku. Pada hari itu tidak ada seorang pun yang berbicara kecuali para rasul. Dan doa para rasul pada hari itu adalah: ‘Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.’”
Begitu dahsyatnya keadaan tersebut hingga Mu’adz bin Jabal RA berkata, “Sesungguhnya seorang mukmin tidak akan benar-benar merasa tenang dari ketakutannya sampai ia meninggalkan jembatan Jahannam di belakangnya.”
Keenam, orang-orang fakir dari kalangan muhajirin
Di antara kabar yang menggembirakan adalah bahwa orang-orang fakir dari kalangan umat ini termasuk yang pertama melewati ash-shirath.
عن ثوبان رضي الله عنه: أن يهوديًّا سأل النبي صلى الله عليه وسلم: فمن أول الناس إجازةً؟ قال: ((فقراء المهاجرين)).
Dalam Shahih Muslim, dari Tsauban RA, diriwayatkan bahwa seorang Yahudi bertanya kepada Nabi SAW, Siapakah orang yang pertama kali diperbolehkan melewati jembatan itu?” Rasulullah SAW menjawab, “Orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin.”
Maka, gambaran tentang ash-shirath bukan sekadar untuk menakut-nakuti. Ia adalah pengingat bagi setiap Muslim bahwa kehidupan dunia adalah kesempatan untuk mempersiapkan diri menghadapi perjalanan panjang menuju akhirat.
Di sana, bukan harta, kedudukan, atau kekuatan duniawi yang menjadi penentu keselamatan. Yang akan menjadi bekal adalah iman, ketakwaan, amal saleh, dan rahmat Allah Ta’ala.
Karena itu, selama masih diberi kesempatan hidup, hendaknya seorang mukmin memperbanyak amal kebaikan, menjauhi dosa, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan memohon kepada-Nya agar kelak diberi cahaya yang sempurna serta dimudahkan melewati ash-shirath.






