spot_img
Jumat, Februari 20, 2026
spot_img
spot_img

Viral ‘Emoji Monyet’, Ketua BEM UGM Sindir Respons Wakil Kepala BGN atas Kritik Program MBG

KNews.id – Jakarta – Jagat media sosial kembali menjadi arena benturan antara kritik mahasiswa dan respons pejabat negara. Kali ini, sorotan tertuju pada Tiyo Ardianto, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada, yang merilis pernyataan reflektif berjudul “Emoji Monyet”.

Pernyataan itu muncul setelah sebuah akun Instagram terverifikasi, sonysonjayabd, memberikan komentar bernada keras disertai emoji monyet pada video kritik Tiyo terhadap program Badan Gizi Nasional (BGN) terkait kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG).

- Advertisement -

Awal Polemik: Kritik Kebijakan Gizi Negara

Kontroversi bermula dari sebuah video yang diunggah Tiyo Ardianto. Dalam video tersebut, ia menyampaikan kritik terbuka terhadap implementasi program MBG yang dijalankan pemerintah melalui Badan Gizi Nasional.

Tiyo menilai kebijakan tersebut layak dikritisi sebagai bagian dari kontrol publik, khususnya oleh mahasiswa, terhadap kebijakan yang menyangkut hajat hidup masyarakat luas.

- Advertisement -

Video itu kemudian menyebar luas dan memantik beragam respons, termasuk dari kalangan pejabat.

Komentar Akun Terverifikasi dan Emoji Monyet

Respons paling menyita perhatian datang dari akun Instagram terverifikasi milik Sony Sonjaya. Dalam kolom komentar, akun tersebut menuliskan pernyataan panjang bernada defensif terhadap program MBG:

“BODO ??? Telah memberi makan kepada 60 juta Balita, Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan peserta didik, telah menyerap lebih dari 1 juta tenaga kerja, telah menyerap hasil tani, hasil kebun, hasil budidaya ikan, hasil ternak……lah… yg orasi telah menghasilkan apa ? ? …. jadine”

Tak berselang lama, akun yang sama kembali meninggalkan jejak berupa emoji monyet, simbol yang kemudian menjadi pusat kontroversi.

Pernyataan Tiyo: Kritik, Martabat, dan Kedewasaan Kekuasaan

Alih-alih membalas dengan kemarahan, Tiyo memilih merespons melalui pernyataan tertulis bernada reflektif. Dalam bagian pembuka, ia menekankan bahwa yang dipertaruhkan bukanlah harga diri pengkritik, melainkan sikap penguasa terhadap perbedaan pandangan.

“Ketika kritik yang lahir karena cinta pada Bangsa dibalas dengan emoji monyet, yang sebenarnya dipertaruhkan bukan martabat pengkritik, tetapi kedewasaan penguasa dalam menerima pikiran yang berbeda tanpa pernah merasa terancam.”

- Advertisement -

Baginya, kritik yang disampaikan bukan serangan personal, melainkan ekspresi kepedulian terhadap arah kebijakan publik.

Simbol Monyet dan Sindiran Moral

Tiyo kemudian mengulas makna simbolik dari emoji monyet yang digunakan dalam kolom komentar tersebut. Ia menempatkannya dalam refleksi moral yang lebih luas.

“Manusia dan monyet itu sejatinya satu keluarga primata. Yang berbeda, monyet tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai makhluk paling mulia.

Tapi, buktinya justru monyet tidak pernah korupsi, tidak menindas saudaranya, dan tidak menjilat demi dapat pangkat,” tulis Tiyo.

Ia lalu mengaitkan simbol itu dengan kritik terhadap integritas dan praktik kekuasaan, khususnya dalam pengelolaan isu gizi nasional.

“Yang paling penting: monyet tidak menjadi bagian dari mereka yang bermulia-mulia menarasikan pentingnya gizi, tapi diam-diam menjadikan gizi kedok maling.”

“Terima Kasih” yang Sarat Makna

Dalam penutup pernyataannya, Tiyo justru membalik makna emoji monyet tersebut. Ia menyebutnya bukan sebagai hinaan, melainkan pujian yang mengandung ironi tajam.

“Maka, rasanya emoji monyet dari Wakil Kepala Badan Gizi Nasional RI itu lebih terasa sebagai pujian ketimbang hinaan. Terima kasih, Irjen Pol. Sony Sanjaya,” sambungnya.

Ungkapan tersebut mempertegas posisi Tiyo yang memilih kritik argumentatif ketimbang adu emosi.

Profil Pejabat yang Terseret Polemik

Dalam unggahan Instagram pribadinya, Tiyo turut menyertakan informasi publik mengenai sosok di balik akun sonysonjayabd.

Berdasarkan keterangan profil, Irjen Pol. Sony Sonjaya menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Operasional Pemenuhan Gizi.

Ia lahir di Bandung pada 20 Oktober 1967 dan merupakan lulusan Akademi Kepolisian (AKABRI). Sepanjang kariernya, Sony Sonjaya juga menempuh pendidikan lanjutan di Pendidikan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Sekolah Staf dan Pimpinan (SESPIM), serta Lemhannas RI.

Akun Instagram miliknya mencantumkan keterangan resmi sebagai akun Wakil Kepala BGN, yang membuat setiap unggahan dan komentarnya tak lepas dari sorotan publik.

Ruang Kritik dan Etika Pejabat

Polemik “emoji monyet” ini kembali menegaskan satu hal: di era media sosial, batas antara ruang personal dan jabatan publik semakin kabur.

Kritik mahasiswa, simbol digital, dan respons pejabat kini bukan lagi sekadar percakapan daring, melainkan cermin bagaimana kekuasaan merespons suara yang berbeda.

(NS/TRB)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini