Oleh : Sutoyo Abadi
KNews.id – Jakarta 22 Februari 2026 – Rasulullah ﷺ adalah manusia paling lembut hatinya. Beliau menangis saat melihat anak kecil kelaparan, memaafkan musuh yang menyakitinya. Orang paling sabar menghadapi hinaan pribadi. Dilempari batu di Thaif, diludahi, difitnah — beliau memaafkan.
Namun ketika kebenaran diinjak, ketika tauhid dirusak, dan ketika hukum Allah diremehkan — Rasulullah ﷺ adalah manusia paling tegas di muka bumi. Ketegasan beliau bukan karena amarah pribadi, melainkan karena Allah.
Ketegasan yang Lahir dari Tauhid. Suatu hari, seorang wanita bangsawan dari Bani Makhzum mencuri.
Kaum Quraisy gemetar, mereka berkata, “Siapa yang berani menyampaikan hal ini kepada Rasulullah ﷺ?”
Mereka mengutus Usamah bin Zaid, orang yang sangat dicintai Nabi ﷺ.
Harapan mereka satu: hukuman diringankan. Ketika Usamah berbicara,
wajah Rasulullah ﷺ berubah, dengan suara yang tegas dan mengguncang jiwa, beliau bersabda: “Apakah engkau hendak meminta keringanan dalam hukum Allah?”
Lalu Rasulullah ﷺ berdiri dan berkhutbah di hadapan manusia: “Sesungguhnya yang membinasakan umat sebelum kalian adalah jika orang terpandang mencuri mereka biarkan, tapi jika orang lemah mencuri mereka tegakkan hukum.
Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang memotong tangannya.” Langit seakan terdiam, bumi seakan menunduk. Inilah ketegasan Nabi ﷺ “adil tanpa pandang bulu.”
Tegas, tapi penuh kasih, ketegasan Rasulullah ﷺ tidak pernah lahir dari kesombongan, tidak dari ego, tidak dari nafsu berkuasa. Beliau bersabda: “Aku tidak diutus untuk melaknat, tapi untuk membawa rahmat.”
Namun rahmat tanpa ketegasan adalah kelemahan dan ketegasan tanpa rahmat adalah kezaliman. Dan Rasulullah ﷺ adalah kesempurnaan keduanya.
Ketegasan yang menggetarkan alam semesta, ketika Rasulullah ﷺ berbicara atas nama Allah, para malaikat mendengarkan. Langit mencatat. Bumi menjadi saksi.
Karena beliau bukan sekadar pemimpin, bukan sekadar panglima,
bukan sekadar guru. Beliau adalah Rasul Allah ﷺ. lembut dalam cinta, tegas dalam kebenaran, kokoh dalam keadilan.
Jika Rasulullah ﷺ saja begitu tegas demi kebenaran, lalu bagaimana dengan kita?. Apakah kita masih ragu membela kebenaran?. Apakah kita masih takut berkata benar?. Apakah kita masih menukar prinsip kebenaran dengan kenyamanan?.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
(FHD/NRS)




