Upaya Pemerintah Membuka Babak Baru dalam Integrasi Ekonomi Digital Regional
2 mins read

Upaya Pemerintah Membuka Babak Baru dalam Integrasi Ekonomi Digital Regional

KNews.id – Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Indonesia saat ini telah menjadi negara dengan jumlah perusahaan rintisan atau startup unicorn dan decacorn terbesar di antara negara lain.

Unicorn atau startup unicorn adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perusahaan rintisan swasta dengan nilai valuasi lebih dari 1 miliar dolar AS. Sementara decacorn adalah startup yang telah mencapai valuasi lebih dari 10 miliar dolar AS.

Airlangga menjelaskan pertumbuhan unicorn dan decacorn di Tanah Air karena sejumlah upaya yang dilakukan pemerintah selama ini. “Hal tersebut salah satunya didorong dengan upaya pemerintah dalam melakukan integrasi dengan negara-negara ASEAN, sehingga dapat lebih mudah dalam mengembangkan dan memperluas jangkauan pasar,” kata dia dalam keterangan tertulisnya.

Adapun sejumlah integrasi yang dilakukan antara Indonesia dengan negara-negara ASEAN, seperti Digital Economic Agreement Framework (DEFA) dalam Keketuaan ASEAN 2023 lalu. Inisiasi Indonesia ini, menurut Airlangga telah membuka babak baru dalam integrasi ekonomi digital regional.

Diharapkan DEFA akan menarik investasi dan inovasi, meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja serta memberdayakan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). “Dengan pemanfaatan DEFA, ekonomi digital ASEAN pada tahun 2030 yang semula bernilai sebesar 1 triliun dolar AS, diperkirakan dapat meningkat mencapai 2 triliun dolar AS,” ujarnya.

Indonesia bersama negara-negara ASEAN lainnya juga telah melakukan integrasi pembayaran dengan kebijakan Local Currency Settlement melalui penggunaan QRIS. Hal ini memudahkan upaya mendorong digitalisasi di sektor ekonomi. Digitalisasi berbagai industri akan terus diakselerasi sehingga investasi di Indonesia akan lebih ke arah padat modal dan membutuhkan keterampilan yang baru dari masyarakat.

Mengenai ekonomi digital Indonesia, saat ini sekitar 80 miliar dan diharapkan pada 2025 meningkat menjadi 125 miliar dolar AS. “Dan pada tahun 2030 kita harap sekitar 400 miliar dolar AS,” ujar Airlangga.

Pemerintah juga tengah menempuh berbagai upaya untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia yang berdaya saing. Misalnya, Program Prakerja yang hingga kini telah mampu menjangkau hingga 18 juta penerima manfaat.

Namun sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki tantangan untuk mendorong pemerataan konektivitas serta mengakselerasi pembangunan infrastruktur digital yang memadai.

Sejumlah upaya yang ditempuh di antaranya melalui pembangunan jaringan fiber optic Palapa Ring, pemanfaatan Satelit Multifungsi Satria bagi daerah tertinggal, terdepan, dan terluar, hingga mengadopsi teknologi Low Earth Orbit Satelite. Namun Airlangga menyadari, di tengah berbagai upaya tersebut, keamanan data menjadi salah satu tantangan dan aspek penting yang juga perlu diakselerasi.

(NS/IDN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *