KNews.id – Jakarta – Pendakwah kondang lulusan Al-Azhar University, Abdul Somad atau yang akrab disapa UAS, mengingatkan umat Islam agar tidak menjadikan puasa Ramadhan sekadar rutinitas menahan lapar dan haus.
Menurut UAS, dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan:
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”
“Jadi memang puasanya hanya menahan makan saja, sedangkan mulutnya berbicara kotor,” ujar UAS.
Ia menjelaskan, orang yang tetap berdusta, menebar tipu muslihat, dan tidak menjaga lisannya selama berpuasa termasuk dalam golongan yang merugi. Dalam hadis lain disebutkan, fari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR Bukhari no. 1903).
“Maksudnya Allah tidak memberikan balasan. Karena puasanya hanya formalitas,” katanya.
Dalam momentum peringatan Muharram yang suci, Cinta Quran Foundation menghadirkan Amazing Muharram 12, sebuah acara tahunan yang telah memberikan dampak positif kepada masyarakat selama 11 tahun berturut-turut.
Pelaksanaan Kali ini mengusung tema utama Infinity Life: Serenity – Happiness – Meaningful. Dengan semangat untuk membangun kebahagiaan, kedamaian, dan makna yang berkelanjutan dalam kehidupan, Amazing Muharram 12 diharapkan akan membuka pintu bagi perubahan positif dalam menjalani Infinity Life.
UAS pun mengibaratkan orang yang berpuasa tanpa menjaga akhlak seperti membeli koper yang tampak bagus di luar, tetapi rusak di bagian dalam. Begitu pula seperti rumah yang terlihat indah dari luar, namun keropos di dalamnya.
“Ibarat beli koper, kelihatannya bagus, tapi sebenarnya dalamnya rusak. Ibaratnya seperti rumah, luarnya tampaknya bagus tapi dalamnya sebetulnya keropos. Sedangkan kita ingin ibadah ini baik, berkualitas, dan bisa dibawa bekal untuk menghadap Allah SWT,” ucap UAS.
Karena itu, ia menegaskan puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, melainkan imsak dalam makna yang lebih luas.
“Imsak artinya adalah menahan semuanya, seperti menahan hawa nafsu, menahan lidah, melahan mata, menahan telinga, menahan kaki, menahan tangan, menahan emosi,” jelasnya.
Menurut UAS, ujian terbesar puasa justru muncul ketika kondisi fisik melemah. Saat kadar gula tubuh menurun karena tidak ada asupan makanan, emosi cenderung meningkat. Di situlah kualitas puasa diuji.
“Di saat itu orang mesti mampu berkata, ‘Inni shaum’ — sesungguhnya aku sedang berpuasa,” katanya.
Kalimat tersebut, lanjut dia, bukan sekadar ucapan, melainkan pengingat diri agar tidak terpancing amarah dan tetap menjaga sikap.
UAS pun menekankan, puasa sejatinya adalah latihan pengendalian diri secara total. Jika seseorang mampu menjaga seluruh anggota tubuhnya dari perbuatan dosa, maka puasa akan melahirkan pribadi yang bertakwa.”Jadi memang pengendalian diri secara total,” ujar dia.




