KNews.id – Jakarta – Pemerintahan Presiden Donald Trump kembali menunda kenaikan tarif impor dari Cina selama 90 hari, hingga 10 November 2025. Penundaan ini diumumkan di tengah negosiasi yang terus berjalan antara dua ekonomi terbesar di dunia.
“Seluruh elemen lain dari kesepakatan akan tetap sama,” kata Trump di platform Truth Social pada Senin, 11 Agustus. Dalam pernyataan tersebut, Trump menyebut AS akan melakukan negosiasi berkelanjutan dengan Cina untuk menyelesaikan sengketa dagang dan memperkuat hubungan ekonomi.
Perang Tarif AS-Cina
Ini merupakan penundaan kedua sejak Trump kembali menjabat. Pada Februari 2025, ia memberlakukan tarif 10 persen untuk seluruh impor dari Cina. Mereka kemudian membalas dengan tarif lebih tinggi. Awal April, Trump menaikkan tarif menjadi 34 persen. Cina merespons dengan tarif 84 persen untuk barang Amerika. Tak lama, Trump menaikkan tarif hingga total 145 persen, sementara Cina mematok 125 persen dan menciptakan kondisi mirip embargo dagang.
Upaya meredakan ketegangan dimulai awal Mei, ketika Menteri Keuangan Scott Bessent dan Perwakilan Dagang Jamieson Greer bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di Jenewa. Kedua pihak sepakat menurunkan tarif menjadi 30 persen untuk barang Cina dan 10 persen untuk barang AS selama 90 hari.
Namun, pada akhir Mei, Trump menuding Cina sepenuhnya melanggar kesepakatan dengan memperlambat pengiriman logam rare earths, bahan baku strategis untuk industri teknologi dan pertahanan.
Tarik Ulur Kepentingan
Pertemuan lanjutan kemudian digelar pertengahan Juni di London dihadiri Bessent, Greer, dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick. Pembicaraan menghasilkan bahasa positif, namun belum ada kesepakatan penuh antara AS dan Cina.
Menurut laporan Al Jazeera, jika tenggat ini terlewat, tarif impor Cina akan kembali ke level April, yakni 145 persen. Tarif tinggi sejak awal tahun telah mendorong kenaikan harga di Amerika Serikat. Sebagian biaya ditanggung perusahaan, sebagian oleh konsumen.
Namun, Trump menepis kekhawatiran inflasi dan memuji puluhan miliar dolar penerimaan negara dari tarif. “Kita lihat nanti apa yang terjadi. Mereka telah bekerja sama dengan baik. Hubungan saya dengan Presiden Xi sangat baik,” ujar Trump.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Lin Jian, mengatakan bahwa Cina berharap AS mematuhi konsensus penting yang dicapai dalam pembicaraan telepon antara kedua kepala negara dan mengupayakan hasil positif berdasarkan kesetaraan, rasa hormat, dan saling menguntungkan.





