KNews.id – Jakarta 9 Februari 2026 – Dalam retorikanya yang kerap mengejutkan dunia, Presiden AS Donald Trump kali ini mengalihkan pujiannya kepada sebuah entitas yang tak pernah diduga akan dipujinya: Hamas. Dalam pernyataan-pernyataan publik terbarunya mengenai Gaza, Trump tak henti mengakui peran krusial gerakan tersebut dalam mengamankan dan memulangkan sandera-sandera Israel, baik yang masih hidup maupun yang telah menjadi jenazah.
Pujian ini bukanlah pujian kosong. Ia berangkat dari sebuah realitas operasional yang hampir mustahil: bagaimana Hamas, di tengah gempuran perang selama dua tahun dan penghancuran sistematis oleh militer Israel, berhasil menjaga puluhan sandera tetap aman dan akhirnya mengembalikannya melalui meja negosiasi.
Kisah ini bermula dari kekacauan 7 Oktober 2023. Segera setelah serangan yang mengguncang dunia itu, pimpinan Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, bergerak cepat. Mereka menjalin kontak langsung dengan komandan lapangan dari berbagai faksi Palestina lain yang juga menahan sandera.
Tujuannya jelas: mengkonsolidasi, mendata, dan mengambil alih pengawasan terhadap setiap nyawa dan jenazah yang menjadi tawanan. “Ini adalah tugas yang sangat sulit dan berat. Instruksi ketat datang langsung dari pimpinan tertinggi, baik sayap politik maupun militer, untuk bekerja intensif melestarikan mereka, termasuk yang sudah meninggal,” ujar sumber internal kepada Asharq Al-Awsat.
Melalui pertemuan-pertemuan rahasia, baik selama gencatan senjata November 2023 maupun yang lebih krusial pada Januari 2025, Hamas membentuk sebuah sistem koordinasi yang rapi. Mereka bekerja sama erat dengan Brigade Al-Quds dari Jihad Islam, yang dinilai memiliki kemampuan logistik dan jaringan terowongan yang lebih mumpuni.
Sandera-sandera hidup secara terus-menerus dipindahkan dari utara Gaza yang menjadi medan tempur sengit ke selatan, berpindah dari terowongan ke apartemen tersembunyi, selalu selangkah lebih depan dari pasukan Israel yang melakukan pencarian besar-besaran. Sumber mengungkapkan, “Dalam beberapa kesempatan, tentara Israel hanya berjarak beberapa meter dari beberapa korban penculikan. Tim penyelamat berhasil menyesatkan mereka atau menyelamatkan sandera dengan cara-cara yang masih dirahasiakan.”
Menjaga Nyawa di Bawah Reruntuhan
Tantangan terbesarnya adalah menjaga sandera yang masih hidup tetap bertahan. Mereka dipindahkan secara konstan, di bawah pengawasan ketat, antara terowongan dalam-dalam dan lokasi persembunyian di permukaan. Sementara jenazah disimpan dengan hati-hati di kuburan khusus dalam terowongan atau di sekitar pemakaman, dijaga oleh unit-unit bayangan yang bergerak dalam senyap. Proses ini bukan hanya tugas militer murni, tetapi juga operasi logistik dan humaniter yang sangat rumit di tengah blokade, pemboman, dan kelaparan.
“Banyak sandera dipindahkan dari utara ke selatan Gaza dalam kondisi keamanan yang sangat ketat. Israel, meski dengan semua operasi besar-besarnya, tidak berhasil menemukan mereka,” tambah sumber tersebut. Bahkan disebutkan, beberapa sandera sempat ditahan di terowongan yang tepat berada di bawah posisi pasukan Israel, sebuah permainan petak umpet yang mematikan.
Pengakuan dari Musuh Bebuyutan
Di sinilah pujian Trump mendapatkan konteksnya. Ketika ia memuji Hamas, yang ia akui adalah sebuah realita politik yang tak terbantahkan: bahwa hanya Hamas yang memiliki kendali, disiplin, dan jaringan yang cukup untuk mengelola proses pertukaran sandera yang begitu kompleks.
“Pernyataan berulang Trump menunjukkan bahwa bahkan pihak paling optimis di pemerintahan AS dan Israel tidak menyangka operasi pembebasan sandera akan berhasil dalam waktu singkat, mengingat skala perang,” tulis analisis. Penilaian awal intelijen AS dan Israel bahkan pesimis, memperkirakan setidaknya empat jenazah mungkin tidak akan pernah ditemukan karena kerusakan masif di Gaza.
Namun, Hamas membuktikan sebaliknya. Melalui kesepakatan pertukaran yang dirancang dengan cermat, satu atau dua kali penyerahan per minggu sesuai kondisi lapangan, mereka berhasil memulangkan sandera demi sandera. Enam sandera hidup berhasil diselamatkan melalui operasi intelijen Israel, tetapi sebagian besar lainnya, hidup maupun mati, dikembalikan melalui meja negosiasi. Proses puncaknya adalah penemuan jenazah Ran Goili, sandera terakhir, beberapa minggu setelah jenazah lain diserahkan, menutup sebuah babak panjang pertukaran yang penuh komplikasi.
Warisan yang Paradoks
Kini, di atas puing-puing Gaza dan memori perang yang pahit, tersisa sebuah paradoks yang dicatat oleh sejarah. Hamas, yang oleh Barat dicap sebagai organisasi teroris, justru mendapatkan pengakuan, bahkan pujian, dari pemimpin superpower dunia atas efisiensi dan disiplin operasionalnya dalam hal yang paling manusiawi: mengembalikan sandera kepada keluarganya.
Trump, dengan gaya khasnya yang pragmatis dan tak terduga, mengakui apa yang tidak bisa diabaikan: bahwa di lorong-lorong gelap dan terowongan Gaza, ada sebuah mekanisme yang berjalan dengan presisi tinggi, menjaga nyawa sebagai alat negoisasi sekaligus bukti kedaulatan.
Kisah ini bukan sekadar tentang pertukaran tawanan. Ini adalah cerita tentang ketahanan, organisasi bawah tanah, dan sebuah pengakuan pahit bahwa dalam konflik yang paling berdarah sekalipun, kadang hanya musuh yang paling memahami seluk-beluk medan yang bisa menyelesaikan teka-teki paling rumit. Hamas, dengan semua kontroversinya, telah menulis satu babik dalam sejarah konflik ini: bahwa di tengah kepungan dan penghancuran, mereka masih memegang kendali atas kartu truf terakhir—dan dunia, termasuk Presiden Amerika Serikat, terpaksa mengakui itu.
Dewan Perdamaian
Pemerintahan Presiden Donald Trump berencana menggelar pertemuan tingkat tinggi (KTT) perdana Dewan Perdamaian Gaza (Board of Peace/BoP) pada 19 Februari 2026. Pertemuan strategis ini bertujuan untuk mengakselerasi tahap kedua gencatan senjata di Jalur Gaza sekaligus menjadi forum penggalangan dana internasional bagi rekonstruksi wilayah Palestina.
Laporan yang dirilis pada Jumat (6/2) menyebutkan bahwa KTT ini akan menjadi tonggak sejarah baru dalam upaya stabilisasi kawasan Timur Tengah. “Pertemuan tersebut direncanakan menjadi forum pertama Dewan Perdamaian (BoP), sekaligus konferensi donor berskala besar untuk membangun kembali Gaza,” ungkap seorang pejabat AS sebagaimana dikutip dari Axios.
Saat ini, Gedung Putih telah mulai menghubungi puluhan negara untuk mengoordinasikan logistik serta kehadiran para pemimpin dunia di United States Institute of Peace, Washington. Meskipun rencana ini masih dalam tahap awal dan bersifat dinamis, langkah tersebut menunjukkan keseriusan Washington dalam mencari solusi jangka panjang pasca-konflik.
Sehari sebelum KTT dimulai, tepatnya pada 18 Februari, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertemu langsung dengan Presiden Donald Trump. Meski Netanyahu telah menerima undangan untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian, ia dilaporkan belum menandatangani piagam resmi dewan tersebut.
Kehadiran Netanyahu dalam KTT ini, jika terwujud, akan menjadi kemunculan publik pertamanya bersama para pemimpin negara Arab dan Muslim sejak pecahnya konflik pada 7 Oktober 2023. Kehadiran para tokoh kunci ini diharapkan dapat memutus kebuntuan diplomasi dan memberikan kepastian hukum serta kemanusiaan bagi warga di Jalur Gaza.
Hingga saat ini, Gedung Putih masih menahan diri untuk memberikan komentar resmi lebih lanjut seiring dengan proses pemeriksaan jadwal keberangkatan para kepala negara yang diundang. Rencana besar ini tetap dipandang sebagai ujian krusial bagi kepemimpinan Donald Trump dalam menengahi krisis kemanusiaan terbesar di kawasan tersebut.




