KNews.id – Jakarta – Presiden AS Donald Trump menyatakan keterkejutannya soal serangan balasan Iran ke pangkalan dan aset di negara-negara Teluk. Ini ia sampaikan menyangkal fakta bahwa Iran jauh sebelum serangan AS-Israel sudah memeringatkan bahwa balasan mereka akan menyasar negara Teluk yang menampung pangkalan militer AS.
“Tidak ada yang menduga hal itu. Kami terkejut. Para pakar terhebat, tidak ada yang mengira mereka akan melakukan itu,” ujar Trump dalam pernyataan terbarunya dari Gedung Putih, Senin (16/3/2026).
“Kuwait terkena dampaknya, Bahrain terkena dampaknya, semua negara terkena dampaknya. Tidak ada pakar yang bisa mengatakan hal ini akan terjadi.”
Begitupun, Trump mengatakan sekalipun ia tahu negara-negara Teluk akan terkena dampaknya, AS akan tetap melancarkan serangan. “Apa masalahnya (jika negara Teluk diserang). Maksud saya, kami harus melakukan apa yang harus kami lakukan.”
Komentar Trump itu berkebalikan dengan fakta di lapangan. Sejak AS mulai mengerahkan kapal induk ke Timur Tengah untuk mengancam Iran, negara tersebut sudah mewanti-wanti soal meluasnya perang.
Pada 1 Februari, duta besar Iran untuk PBB mengatakan semua pangkalan dan aset AS di wilayah tersebut akan dianggap sebagai target yang sah jika terjadi serangan. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi juga memperingatkan pihak-pihak terkait bahwa mereka “mengipasi api” potensi perang yang lebih luas.
Negara-negara Teluk juga agaknya paham ancaman Iran bukan isapan jempol. Diplomat mereka terekam melakukan upaya-upaya merayu AS tak melancarkan serangan ke Iran karena khawatir akan meluasnya balasan Iran.
Terkini, Korps Garda Revolusi Islam Iran mengatakan pihaknya kembali mengeluarkan peringatan bahwa serangan ini akan menghantam industri-industri yang berafiliasi dengan AS di wilayah tersebut dalam beberapa jam mendatang, dan mendesak para pekerja dan orang-orang di wilayah tersebut untuk mengungsi.
“Kami memperingatkan rezim Amerika yang kalah untuk mengevakuasi semua industri Amerika di wilayah tersebut, dan kami meminta masyarakat di daerah sekitar pabrik-pabrik industri di mana Amerika adalah pemegang sahamnya untuk mengevakuasi daerah-daerah tersebut sehingga mereka tidak dirugikan,” kata juru bicaranya dalam sebuah pesan yang dilaporkan oleh kantor berita Tasnim Iran.
Belum jelas perusahaan mana yang akan menjadi sasaran, namun pekan lalu kantor berita tersebut menerbitkan daftar target potensial di Telegram yang mencakup kantor raksasa teknologi seperti Amazon, Google, Microsoft dan Nvidia di negara-negara Teluk.
Sejauh ini, perang Israel-AS terhadap Iran mulai memberikan dampak buruk terhadap perekonomian negara-negara Teluk, dengan Dubai sebagai salah satu pusat keuangan dan pariwisata yang paling terkena dampaknya di wilayah tersebut.
Lebih dari 1.800 rudal dan drone Iran telah menargetkan Uni Emirat Arab (UEA) sejak perang AS-Israel terhadap Iran meningkat, sebagian besar ditujukan ke Dubai. Pasar saham Dubai telah anjlok 21 persen sementara indeks real estat kota tersebut telah kehilangan sekitar sepertiga nilainya.
Giorgio Cafiero, CEO Gulf State Analytics, mengatakan serangan tersebut merusak reputasi yang membantu mengubah Dubai menjadi pusat global. “Selama beberapa dekade, citra dan reputasi Dubai sebagai kota yang sangat aman dan bagian Timur Tengah yang sangat stabil dan sejahtera sangat penting bagi reputasi Dubai,” katanya kepada Aljazirah.
Cafiero memperingatkan semakin lama perang berlanjut, semakin sulit bagi UEA untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi. “Saya pikir pertanyaannya adalah, ketika perang ini berakhir, apa yang dapat dilakukan UEA untuk memulihkan citra tersebut dan membangun kembali merek tersebut?”
Dia juga menyebutkan latar belakang geopolitik di balik serangan tersebut. “Iran jelas melihat hubungan UEA-Israel sebagai ancaman besar bagi Republik Islam,” kata Cafiero.




