Oleh : Damai Hari Lubis – Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)
KNews.id – Jakarta, 06 Oktober 2025 – Jokowi pasca disambangi Ustad Abu Bakar Baasyir (U ABB) tak terlalu lama langsung sambangi Presiden Prabowo, yang biasanya sebaliknya, sambil menunjukan ‘poweritas’ dirinya kehadapan publik. Maka ada apa ?
Kemungkinan besar Jokowi melobi agar mempertahankan Listyo Sigit sang pelindungnya selama ini, atau paling tidak jika memang harus diganti dia menawarkan penggantinya yang sudah “terkena jerat leher ?”
Karena Kapolri adalah sosok penting dan tameng prioritas yang bisa mengamankan posisi dirinya dan keluarganya serta kroninya yang kronis dan sekarat
Terlebih saat ini Listyo yang nota bene masih menjabat, ternyata tak mampu mentersangkakan para aktivis penuduh dirinya pengguna ijazah palsu.
Sebaliknya ‘sekedar’ Polres sudah berani menyita objek perkara (ijazah S-1nya) yang dia “paksakan asli”.
Lalu adakah info lain yang meresahkan dirinya dari U ABB sosok figur ulama istiqomah, yang ditangkap pada tanggal 9 Agustus 2010 oleh tim anti-teror Mabes Polri, saat Jokowi menjadi Walikota Surakarta.
Atau kah gejala gejala wara wiri Jokowi hanya sekedar klarifikasi atas peristiwa pembatalan presiden terhadap tim reformasi dan transformasi Polri bentukan Listyo, karena ‘isu’ yang berkembang menengarai bahwa Listyo ada benang merah ‘cawe cawe’ dirinya, sehingga isu cawe cawe tersebut perlu diluruskan, “dengan metode ala dirinya, yang tak asing lagi dan ampuh, yakni metode teori terbalik”
Karena Jokowi pahami jika Ia sudah dianggap lawan oleh Prabowo, karena memposisikan dirinya layaknya matahari kembar dalam pemerintahan KMP tentu nasibnya bagai telur di ujung tanduk, termasuk anaknya yang sudah Ia timang timang bakal RI-1 pengganti.
Maka mau tak mau Ia terpaksa mengalah datang ke Kertanegara, karena fakta realitas, diri dan keluarganya kini semakin terancam.
Tapi entah lah apa maksud Jokowi menghadap Presiden, namun diskursus politiknya diprediksi (‘intuitif’) berdasarkan track record melulu tendensius demi kepentingan dan keselamatan dirinya, hartanya dan keluarganya serta jabatan anaknya yang semakin hari makin goyah dan terjepit, terlebih Gibran publis dituduh hal yang sama dengan dirinya, terkait ijazah ‘remang remang”.
Pastinya Presiden Prabowo lebih paham karakter Jokowi, namun tak keliru jika publik sekedar mengingatkan Presiden Prabowo untuk ekstra hati hati (prudential principe) agar tidak terkecoh, karena apa yang diucapkan Jokowi mirip pepatah ‘telunjuk menunjuk kelingking mengkait’.
(FHD/NRS)





