Di penghujung dekade 1950-an, Mustapha Zitouni tinggal selangkah lagi bergabung dengan klub paling mengkilap Eropa, Real Madird. Sementara Rachid Mekhloufi, playmaker top di liga Prancis pada waktu itu, tengah berada di puncak karir. Tetapi keduanya, bersama tujuh pesepakbola Aljazair lain, memutuskan meninggalkan gemerlap sepak bola Prancis. Demi hal yang lebih besar, perjuangan kemerdekaan Aljazair. Menjadikan sepak bola sebagai piranti politik membebaskan bangsa dari penjajahan.
Yang gemar membaca tahu, penghujung tahun lalu serdadu Israel membunuh pesepakbola Palestina. Ahmad Daraghmah, masih 23 tahun, dia ditembak mati di Tepi Barat. Selain dirinya, 5 pesepakbola Palestina juga mengalami nasib identik. Tewas dididik peluru tentara penjajah. Salah seorangnya, Muhammad Ali Ahmad Ghnaim. Usianya masih 19 tahun, mungkin sepantaran Hokky Caraka. Sesama pemuda dengan mimpi serupa tentang sepak bola.
Kita tak bisa membiarkan delegasi negara penjajah dan pembunuh bermain sepak bola secara normal, seolah mereka bukan dikirim dari entitas kekuasaan yang kejam. Kita tidak bisa menerima Israel. Pada akhirnya, hidup tidak sekedar tentang sebelas lawan sebelas, kegembiraan dan kalungan medali. Hidup juga tentang melawan penindasan, pun penjajahan. Tak ada sepak bola yang melampaui kemanusiaan dan solidaritas kemerdekaan! (Bay/Alrt)




