Katanya, “…kalian semua merusak mimpi-mimpi anak-anak bangsa.” Saya bisa memahami kekecewaan ini. Kemarahan yang bisa dimengerti. Tetapi benarkah sepak bola mesti menjadi segala-galanya dalam segala kondisi di belakangnya? Saya kira saya perlu bertukar pendapat dengan Saudara saya tercinta, Hokky Caraka.
Alkisah, Piala Dunia 1978 di gelar di Argentina. Kala itu Argentina dikuasai junta militer yang bengis. Ribuan orang diculik dan dibunuh dalam apa yang dinamakan ‘Perang Kotor’. Rejim hendak menjadikan Piala Dunia sebagai detergen untuk mencuci tangan mereka yang berlumuran darah. Mereka pun sukses. Argentina bukan saja lancar menjadi tuan rumah, pun meraup trofi juara dunia kali pertama.
Tetapi tak semuanya tentang memainkan Si Kulit Bundar dan angkat Piala. Puluhan tahun kemudian, Oscar Ortiz, anggota dari juara Piala Dunia 1978, menyatakan: “Saya akan menukar gelar yang kami menangkan untuk menghentikan apa yang terjadi selama kediktatoran militer.” Ini adalah sentimen yang dimiliki oleh banyak orang di skuat Argentina.
Trofi Piala Dunia 1978 selalu dipandang ambivalen karena berlumuran darah. Alumnus juara Piala Dunia 1978 tak mau menjadi egois, berjaya dengan menutup mata terhadap realitas yang lebih besar daripada sepak bola. Mereka tak hendak bilang, ‘kami cuma ingin main sepak bola, soal yang lain bukan urusan kami!’
Mereka peduli. Tak mau tutup mata dan hati. Selain pesepakbola, yang paling utama (pada hakekatnya) mereka adalah manusia. Ketika kemanusiaan diinjak, mereka bahkan sudi menukar gelar paling prestisius di ajang sepak bola, demi nilai-nilai yang lebih mendasar. Kisah seperti ini juga terjadi di lain tempat.




