Enam tahun silam, sekelompok fans klub Skotlandia, Celtic, mengibarkan bendera Palestina di tribun penonton. Saat itu klub dukungan mereka sedang menjamu duta Israel, Hapoel Be’er Sheva. UEFA seketika murka. Celtic dihukum. Mantra ‘sepak bola dipisah dari politik’ dilafalkan kembali dengan tegas, seolah akan dijalankan dengan konsisten dan bertanggungjawab. Tetapi tak perlu waktu lama untuk menyaksikan kemunafikan.
Saat Russia menyerang Ukraina, seluruh stadion Eropa lekas-lekas menjadi panggung propaganda politik. Mereka menggelar pesan politik anti Russia di setiap pertandingan liga yang akan digelar. Semua yang berbau Russia dihajar. Tanpa kecuali sepakbola. Taipan Roman Abramovic diusir dari kepemilikannya di Chelsea.
Seluruh klub Russia dilarang tampil di Eropa. Tak sampai di situ, UEFA mengajukan tuntutan agar Russia didiskualifikasi dari penyisihan Piala Dunia. Dan FIFA dengan senang hati melayaninya. Sekali lagi, FIFA berpolitik. Slogan ‘sepak bola terpisah dari politik’ sontak raib, entah kemana. Mungkin slogan itu disembunyikan di kantong celana petinggi NATO dan Uni Eropa.
Polemik Piala Dunia U-20 dengan Isarel sebagai faktor determinannya, pada akhirnya membawa pemain sepak bola angkat bicara. Penyerang tim nasional Indonesia U-20, Hokky Caraka bersuara terkait nasib Piala Dunia U-20. Ia meluapkan kekecewaannya di media sosial.




