Sejarah pun tak jemu-jemu menuturkan bagaimana sepak bola tak pernah kedap dari politik. Seusai kudeta Pinochet terhadap Allende, Stadion Nasional Chile segera dijadikan kamp tawanan politik. Di sana seluruh musuh-musuh rezim baru ditahan, disiksa, dan sebagian dipaksa menjemput ajal. Ribuan jumlahnya, mereka yang dihabisi kemanusiaannya.
Pada 21 November 1973, dua bulan pasca kudeta, Stadion Nasional harus dikembalikan ke fungsi normal. Menggelar pertandingan sepakbola. Chile mesti menjamu Uni Sovyet di babak kualifikasi Piala Dunia. Uni Sovyet melayangkan keberatan. Mereka enggan bertanding di lokasi yang mereka gambarkan sebagai ‘lapangan yang berlumuran darah patriot Chile.’
FIFA menanggapi keberatan itu. Mereka mengirim delegasi untuk menyelidiki langsung keadaan Stadion Nasional. Itu akan menjadi salah satu penyelidikan paling memalukan dalam sejarah sepak bola. Delegasi FIFA menyebut keadaan baik-baik saja. Tak ada yang negatif dari venue pertandingan. FIFA jelas berbohong besar.
Pada tahun 2010 , ‘Museo de la Memoria y los Derechos Humanos’ didirikan di Santiago Chile. Dalam bahasa Indonesia ia berarti ‘Museum Ingatan dan Hak Asasi Manusia’. Dalam museum itu tergambar dengan gamblang, Stadion Nasional merupakan salah satu situs kekejaman paling utama dari rejim Pinochet. FIFA jelas berpolitik. Orang buta pun akan melihatnya. Kepada siapa mereka memihak, kepada pihak yang membanjiri Chile dengan darah waktu itu.




