spot_img

Stres Bisa Bikin Wajah Jadi Kusam?

KNews.id – Jakarta 6 Februari 2026 – Pernahkah nggak merasa wajah tampak lebih kusam, lelah, atau membengkak meskipun sudah rutin menggunakan produk perawatan kulit yang mahal? Sebelum menyalahkan produk skincare, mungkin ada baiknya menilik tingkat stres yang sedang dialami.

Kehidupan modern yang serbacepat, mulai dari tuntutan pekerjaan hingga tekanan sosial media, telah memicu lonjakan tingkat stres secara eksponensial. Dampaknya ternyata tidak hanya mengganggu ketenangan pikiran, tetapi juga bisa mengubah penampilan fisik wajah secara nyata melalui fenomena yang kini dikenal luas sebagai cortisol face.

- Advertisement -

Cortisol face merupakan istilah non-medis yang merujuk pada perubahan kontur dan tekstur wajah akibat tingginya hormon kortisol dalam jangka waktu lama. Kortisol sendiri sebenarnya adalah hormon penting yang mengatur respons tubuh terhadap situasi darurat.

Konsultan utama penyakit dalam di Aster RV Hospital, dr Aravinda S N, mengatakan peran krusial hormon ini dalam mekanisme bertahan hidup manusia. “Kortisol memobilisasi energi, mempertajam fokus, dan untuk sementara mengalihkan sumber daya dari fungsi-fungsi non-esensial seperti pencernaan dan reproduksi agar dapat menangani apa yang ada di depan mata,” ujarnya dikutip dari laman Hindustan Times pada Selasa (3/2/2026).

- Advertisement -

Namun, masalah muncul ketika tingkat kortisol ini tetap tinggi secara kronis. Tubuh yang terus-menerus berada dalam mode “waspada” akan mengganggu fungsi normal organ lainnya, termasuk kesehatan kulit.

Dokter Aravinda memaparkan bahwa kortisol tinggi memicu retensi cairan dan redistribusi lemak, yang membuat wajah tampak lebih bengkak atau bulat, terutama di area pipi dan rahang. Efek buruknya tidak berhenti di situ. Hormon stres ini juga memperlemah struktur kulit, mempercepat munculnya garis halus, menyebabkan kekenduran, serta membuat wajah tampak kusam dan jauh lebih tua dari usia sebenarnya.

Stres kronis juga memicu produksi sebum berlebih yang memperparah jerawat, kemerahan, serta hiperpigmentasi. Kabar baiknya, dr Aravinda memastikan bahwa perubahan ini bersifat reversible atau bisa dipulihkan.

Begitu kadar kortisol kembali normal, keseimbangan cairan dalam tubuh akan membaik, peradangan berkurang, dan proses regenerasi kulit dapat pulih kembali. Kunci utama untuk membalikkan kondisi ini adalah melalui modifikasi gaya hidup yang konsisten dan disiplin.

Beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan untuk mengatasi cortisol face meliputi pengaturan tidur yang berkualitas selama 7 hingga 9 jam setiap malam agar kulit dapat memperbaiki dirinya sendiri. Selain itu, aktivitas fisik yang teratur dan praktik kesadaran penuh seperti pernapasan lambat atau jalan santai sangat membantu menurunkan hormon stres.

Dari sisi nutrisi, konsumsi makanan kaya antioksidan dan omega-3 sangat disarankan, sembari membatasi asupan kafein, alkohol, dan gula yang dapat memicu lonjakan kortisol. Jika perubahan wajah tetap bertahan secara ekstrem, sangat disarankan untuk melakukan evaluasi medis untuk memeriksa kemungkinan adanya ketidakseimbangan hormonal atau kondisi endokrin lainnya.

- Advertisement -

(FHD/Rpk)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini