Silmy Karim Buka-bukaan siasat Curang Persaingan Baja Impor di Indonesia

KNews.id- Baja impor masih membayangi produk dalam negeri. Meski Indonesia mulai mengekspor baja, justru pasar baja di dalam negeri harus bersaing dengan produk impor. Menurut Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim, selama ini pasar baja lokal dikuasai dua kalangan, yaitu industrialis dan trader.

Keinginan impor banyak keluar dari kalangan trader atau pedagang yang menjadi importir. Tak jarang para trader ini mengimpor baja dengan cara yang kurang tepat bahkan cenderung curang.

“Kita berpikir juga, kenapa ekspor kalau pasar dalam negeri diambil negara lain? Di sini ada dua kepentingan, kepentingan trader dan industrialis, kalau trader maunya impor dan gunakan cara kurang tepat,” ungkap Silmy dalam Market Review IDX Channel, Rabu (22/9).

Dia menjelaskan cara curang yang paling sering digunakan para importir baja nakal adalah mengakali HS Code baja saat melakukan impor. Baja impor dibuat menjadi produk yang memiliki bea masuk 0%.

Dengan begitu maka baja akan makin murah, saat bersaing di pasar konsumen kemungkinan akan memilih yang lebih murah. Hal ini membuat baja dalam negeri kalah saing di pasar.

“Ada dengan pengalihan HS Code baja, ini dia dimainkan bajanya agar biaya masuk diganti jadi 0,” ungkap Silmy.

Di sisi lain, Silmy menjelaskan berbagai alasan juga dibuat untuk memojokkan Krakatau Steel dan produsen baja lainnya di dalam negeri agar impor bisa dilakukan.

“Alasan impor bisa dicari. Berbagai macam cerita. Dibilang Krakatau Steel nggak sanggup lah, delivery lambat lah, ini itu,” ungkap Silmy.

Dia mengatakan impor memang sah-sah saja dilakukan, asal produknya tidak bisa diproduksi di dalam negeri. Di sisi lain harus memenuhi standar dan aturan yang berlaku juga.

Baca Juga   Mantul! Krakatau Steel Meraih Laba Rp1,05 T

Silmy menjelaskan kalangan industrialis seperti dia hanya ingin membangun industri baja yang kuat dari hulu ke hilir. Kalau dari hulu sudah ketagihan impor menurutnya produksi tidak akan berjalan baik sampai ke hilir.

“Kita kan mau bangun satu ekosistem industri, klaster industri dari hulu ke hilir yang kuat. Ini harus berjalan supaya antara hulu hilir sinkron. Kalau masih hilir sudah impor, hulu bakal kena, karena product kan jalan kan,” papar Silmy. (Ade/dtkf)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

Contact me
email