spot_img
Selasa, Januari 27, 2026
spot_img
spot_img

Siap Hadapi Invasi AS, Venezuela Umumkan Pengerahan Militer Besar-Besaran

KNews.id – Caracas, Pemerintah Venezuela, Selasa (12/11/2025), mengumumkan pengerahan militer besar-besaran di seluruh negeri sebagai tanggapan terhadap kehadiran angkatan laut dan udara Amerika Serikat yang terus berlanjut di lepas pantainya. Menteri Pertahanan Vladimir Padrino Lopez mengatakan hampir 200.000 personel militer telah dimobilisasi secara nasional dalam latihan yang disebutnya sebagai langkah balasan terhadap “ancaman” dari AS.

“Hampir 200.000 tentara telah dikerahkan di seluruh negeri untuk latihan ini,” kata Padrino Lopez kepada televisi pemerintah, seraya menambahkan bahwa langkah tersebut melengkapi operasi rutin angkatan bersenjata.

- Advertisement -

Pengerahan pasukan itu dilakukan bersamaan dengan tindakan legislatif baru. Pada hari yang sama, Majelis Nasional Venezuela mengesahkan undang-undang yang dirancang untuk memperkuat strategi pertahanan nasional di tengah meningkatnya aktivitas militer AS.

Presiden Majelis Nasional Jorge Rodriguez menyatakan bahwa undang-undang itu memperkenalkan “cara baru dalam menangani pengerahan, kepatuhan terhadap perintah, pergerakan pasukan, serta hubungan antara rakyat dan angkatan bersenjata.”

- Advertisement -

Langkah Caracas bertepatan dengan kedatangan kapal induk USS Gerald R. Ford, salah satu kapal perang terkuat di dunia, ke wilayah tersebut, yang memicu kekhawatiran akan eskalasi militer lebih lanjut. Angkatan Laut AS mengonfirmasi bahwa kapal induk itu kini beroperasi di bawah tanggung jawab Komando Selatan AS, yang meliputi Amerika Latin dan Karibia.

Washington menyatakan peningkatan kehadiran militernya di Karibia, yang disebut sebagai yang terbesar dalam beberapa dekade, bertujuan memerangi perdagangan narkoba. Operasi tersebut dilaporkan mencakup sedikitnya 19 serangan terhadap kapal di perairan internasional, dengan sedikitnya 75 korban jiwa.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro membantah tuduhan keterlibatan negaranya dalam perdagangan narkoba dan menuduh Amerika Serikat “bersiap melancarkan perang” untuk menggulingkan pemerintahannya.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro juga telah menandatangani undang-undang pertahanan yang menetapkan langkah-langkah menghadapi ancaman dari Amerika Serikat. Ia juga memerintahkan pengaktifan Komando Pertahanan Komprehensif nasional guna mempersiapkan potensi konflik bersenjata.

“Mulai saat ini, dengan ditandatanganinya undang-undang ini, seluruh Komando Pertahanan Komprehensif — yang mencakup seluruh lembaga publik, militer, dan kekuatan rakyat Venezuela — harus diaktifkan saat fajar,” kata Maduro dalam siaran langsung di Venezolana de Television (VTV), Selasa (11/11/2025).

Maduro menegaskan, undang-undang tersebut bertujuan memastikan kesiapan nasional dalam menghadapi ancaman eksternal. “Jika kita, sebagai republik dan rakyat, harus terjun ke perjuangan bersenjata untuk mempertahankan warisan para pembebas, maka kita harus siap untuk menang dengan patriotisme dan keberanian,” ujarnya.

- Advertisement -

Awal bulan ini, Maduro menyetujui usulan partai berkuasa untuk memulai perlawanan bersenjata bila AS melancarkan serangan, di tengah meningkatnya kehadiran angkatan laut AS di Karibia dengan alasan memerangi perdagangan narkoba.

September lalu, sejumlah media AS melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan berbagai opsi militer untuk menyerang kartel narkoba di Venezuela, dengan tujuan yang lebih luas untuk melemahkan pemerintahan Maduro.

Sebelumnya, pada Agustus, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan bahwa Trump siap menggunakan “setiap elemen kekuatan Amerika” untuk melawan perdagangan narkoba, termasuk melalui operasi militer di wilayah Venezuela.

Maduro menuduh AS sengaja memperburuk ketegangan di kawasan karena kepentingannya terhadap cadangan energi Venezuela, bukan karena upaya pemberantasan narkoba.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa masa jabatan Presiden Venezuela Nicolas Maduro akan berakhir tidak lama lagi di tengah meningkatnya ketegangan dan meningkatnya kehadiran militer AS di Karibia. Dalam wawancara dengan program 60 Minutes di CBS News yang tayang pada Ahad (2/11/2025), Trump ditanya oleh pembawa acara Norah O’Donnell apakah masa jabatan Maduro sebagai presiden tidak akan lama lagi.

“Saya akan menjawab ya. Saya rasa begitu,” jawabnya, sambil menolak kemungkinan berperang melawan Venezuela. Namun, Trump menolak untuk mengatakan apakah isu potensi serangan darat di Venezuela benar atau tidak. “Sepertinya saya tidak akan mengatakan saya akan melakukan hal itu,” katanya, tanpa memberi rincian lebih lanjut.

Trump juga telah membantah laporan media bahwa serangan terhadap instalasi militer di Venezuela akan segera terjadi, dan mengatakan kepada wartawan bahwa dia belum membuat keputusan terkait hal tersebut.

Beberapa media AS melaporkan bahwa pemerintahan Trump telah memutuskan untuk melancarkan serangan terhadap instalasi militer di Venezuela sebagai bagian dari dugaan perang melawan “narko-terorisme” dan bahwa serangan itu bisa terjadi kapan saja.

Washington menuduh Maduro memimpin Cartel de los Soles, sebuah kelompok kriminal yang berbasis di negara Amerika Selatan tersebut. Pada Juli 2025, Washington menetapkannya sebagai organisasi Teroris Global yang Ditetapkan Khusus (SDGT).

(FHD/Rpk)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini