KNews.id – Jakarta – Terdapat dua kedudukan agung yang akan dihadapi seorang hamba di hadapan Rabb-nya.
Kedua kedudukan tersebut yaitu yang pertama, saat ia hidup di dunia ini. Kedua, ketika ia berdiri di hadapan Allah SWT pada Hari Kiamat.
Kedudukan pertama yang kita jalani di hadapan Allah selama kehidupan dunia ini adalah sholat, ibadah yang telah Allah wajibkan atas hamba-hamba-Nya sebanyak lima kali dalam sehari semalam.
Barang siapa menjaga sholatnya, memberikan perhatian yang sungguh-sungguh kepadanya, melaksanakannya tepat waktu, berjamaah bersama kaum Muslimin, serta memelihara syarat, rukun, dan kewajibannya, maka urusannya akan dimudahkan ketika berdiri di hadapan Allah pada Hari Kiamat. Ia akan memperoleh keberuntungan dan kesuksesan.
Sebaliknya, siapa yang meremehkan kedudukan ini—yakni meremehkan shalatnya—tidak memperhatikannya, tidak menjaganya secara konsisten, serta mengabaikan syarat, rukun, dan kewajibannya, maka akan sulit baginya menghadapi kedudukan kedua, yaitu ketika berdiri di hadapan Allah pada Hari Kiamat.
Sholat merupakan bagian dari sunnah petunjuk yang diajarkan Rasulullah SAW. Sholat adalah penghubung antara seorang hamba dengan Rabb-nya, sekaligus tanda dan bukti kejujuran penghambaan seorang manusia kepada Allah Ta’ala.
Imam At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan lainnya meriwayatkan dari Huraits bin Qabishah. Ia berkata:
أتيت المدينة فسألت الله – جل وعلا – أن يرزُقني جليسًا صالحًا، فجلست إلى أبي هريرة، وقلت له: يا أبا هريرة إني سألت الله أن يرزقني جليسًا صالحًا، فعلِّمني حديثًا سمعته من رسول الله صلى الله عليه وسلم، لعل الله أن ينفعني به؟
فقال أبو هريرة رضي الله عنه: سمعت رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه وأزواجه أجمعين يقول: إن أول ما يُحاسب به العبد يوم القيامة من عمله صلاته، فإن صلَحت فقد أفلح وأنجح، وإن فسدت فقد خاب وخسِر
“Aku datang ke Madinah dan berdoa kepada Allah agar dianugerahi teman duduk yang saleh. Lalu aku duduk bersama Abu Hurairah dan berkata, ‘Wahai Abu Hurairah, aku telah memohon kepada Allah agar diberi teman yang saleh. Maka ajarkanlah kepadaku satu hadis yang engkau dengar dari Rasulullah SAW semoga Allah memberikan manfaat kepadaku dengannya.’”
Abu Hurairah RA menjawab,“Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:‘ “Sesungguhnya amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalatnya. Jika shalatnya baik, maka sungguh ia telah beruntung dan sukses. Namun jika shalatnya rusak, maka sungguh ia telah rugi dan celaka.’ (HR at-Tirmidzi dan An-Nasa’i, hadis sahih)
Siapa yang menyia-nyiakan shalat, meremehkannya, dan lalai dalam menunaikan serta menjaganya, maka sesungguhnya ia telah menghukum dirinya sendiri—suka atau tidak suka—dengan kerugian yang nyata pada kedudukan kedua, yaitu ketika berjumpa dengan Allah Yang Maha Agung.
Pada saat itu penyesalan tidak lagi berguna. Allah Ta’ala berfirman:
وَيَوْمَ يَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَـٰلَيْتَنِى ٱتَّخَذْتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِيلًۭا ٢٧
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit kedua tangannya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul.” (QS al-Furqan: 27)
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash RA bahwa Nabi SAW pernah menyebut tentang shalat, lalu bersabda:
من حافظ عليها كانت له نورًا وبرهانًا، ونجاة يوم القيامة، ومن لم يحافظ عليها لم يكن له نور، ولا برهانٌ، ولا نجاة، وكان يوم القيامة مع قارون، وفرعون، وهامان، وأبي بن خلف
“Barang siapa menjaga shalat, maka shalat itu akan menjadi cahaya, bukti, dan keselamatan baginya pada Hari Kiamat. Dan barang siapa tidak menjaganya, maka ia tidak akan memiliki cahaya, bukti, maupun keselamatan. Pada Hari Kiamat ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR Ahmad)
Orang yang menyia-nyiakan sholat dan kewajiban besar ini pada hakikatnya telah memilih untuk dibangkitkan pada Hari Kiamat berdampingan dengan para pemimpin kekafiran dan tokoh-tokoh kebatilan.
Sebab ketika hidup di dunia, ia rela membiarkan dirinya disibukkan oleh permainan, kesia-siaan, hawa nafsu, kemaksiatan, dan berbagai bentuk penyimpangan sehingga melalaikan sholatnya.
Maka pada Hari Kiamat ia akan dikumpulkan bersama orang-orang yang serupa dengannya dalam pembangkangan dan kemaksiatan. Allah Ta’ala berfirman:
۞ ٱحْشُرُوا۟ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ وَأَزْوَٰجَهُمْ وَمَا كَانُوا۟ يَعْبُدُونَ ٢٢ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَٱهْدُوهُمْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْجَحِيمِ ٢٣ وَقِفُوهُمْ ۖ إِنَّهُم مَّسْـُٔولُونَ ٢٤ مَا لَكُمْ لَا تَنَاصَرُونَ ٢٥ بَلْ هُمُ ٱلْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ ٢٦
“(Diperintahkan kepada malaikat), “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah, selain Allah, lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke nereka.
Tahanlah mereka (di tempat perhentian), sesungguhnya mereka akan ditanya, “Mengapa kamu tidak tolong-menolong?”Bahkan mereka pada hari itu menyerah (kepada keputusan Allah).” (QS Ash-Shaffat: 22–26)
Maksudnya, pada Hari Kiamat manusia akan dikumpulkan bersama orang-orang yang serupa dengan mereka dalam kekafiran dan kemaksiatan. Setiap orang akan digabungkan dengan kelompok yang sejenis dengan amal perbuatannya.
Jika seseorang termasuk orang yang menjaga shalat dan memakmurkan rumah-rumah Allah, maka ia akan mendapatkan kemuliaan besar pada Hari Kiamat.
Ia akan dibangkitkan bersama orang-orang yang taat, bersama para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.
Sebaliknya, siapa yang membiarkan dirinya dilalaikan dari shalat oleh kefasikan, kesesatan, hiburan yang melalaikan, dan berbagai bentuk kebatilan, maka ia akan dibangkitkan bersama orang-orang yang serupa dengannya dari kalangan pelaku kejahatan dan kesesatan.
Mereka adalah orang-orang yang membangkang kepada Allah di dunia, meninggalkan tauhid, iman, dan shalat lima waktu, serta menantang perintah Allah dengan berbagai dosa dan kemaksiatan.
كلُّ أمتي يدخلون الجنة إلا من أبى)، قالوا: يا رسول الله، ومن يأبى؟ قال: (مَن أطاعني دخل الجنة، ومن عصاني فقد أبى).
Rasulullah SAW bersabda, “Semua umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan itu?”Beliau menjawab, “Barang siapa menaatiku, ia akan masuk surga. Dan barang siapa mendurhakaiku, maka sungguh ia telah enggan.” (HR Al-Bukhari)





