spot_img

Setiap Kata Akan Diadili di Hari Kiamat, Jaga Lisan atau Diam

KNews.id – Jakarta – Hari kiamat atau hari akhir adalah kepastian yang diyakini oleh setiap Muslim. Dalam berbagai ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW, disebutkan bahwa seluruh amal perbuatan manusia akan diperhitungkan dengan detail pada hari kiamat, termasuk perkara yang sering dianggap sepele yaitu ucapan.

Setiap Kata akan Ada Pertanggungjawabannya
Ilustrasi diam tutup mulut

Ucapan yang buruk, seperti ghibah, fitnah, dan ujaran kebencian, menurut UAH, sangat berbahaya dan bisa memperberat timbangan dosa seseorang di hari perhitungan. Karena itu, kewaspadaan dalam berkata harus menjadi bagian dari keimanan.

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali seseorang tergoda untuk ikut membicarakan keburukan orang lain. Tanpa disadari, kalimat seperti “Eh, kamu tahu enggak tentang si fulan itu?” bisa menjadi awal dari dosa ghibah yang panjang.

UAH menekankan bahwa diam adalah bentuk kesadaran bahwa lisan bisa menjerumuskan ke dalam jurang kebinasaan. Maka, jika tidak ada manfaat dari ucapan yang akan dilontarkan, sebaiknya memilih untuk menahan diri.

Ia juga menjelaskan bahwa menjaga lisan bukan hanya soal tidak berkata kotor atau kasar, tetapi juga mencakup tidak menyebarkan informasi yang belum jelas, tidak mencela, dan tidak menyakiti perasaan orang lain dengan kata-kata.

- Advertisement -

Di hari kiamat nanti, tidak hanya perbuatan tangan dan kaki yang dihisab, tetapi juga lisan. Bahkan dalam banyak riwayat disebutkan bahwa kebanyakan penghuni neraka berasal dari dosa lisan yang meremehkan kebaikan dan membesar-besarkan keburukan.

Mulut Bakal jadi Saksi Kebaikan

Ustadz Adi Hidayat juga mengingatkan bahwa mulut yang digunakan untuk berdzikir, membaca Al-Qur’an, dan menyebarkan kebaikan akan menjadi saksi kebaikan bagi pemiliknya di akhirat. Sebaliknya, mulut yang digunakan untuk mencaci dan menggunjing akan menjadi saksi keburukan.

Ia mengajak umat Islam untuk mulai melatih diri sejak sekarang agar terbiasa berbicara hal-hal baik. Dimulai dari rumah, lingkungan kerja, hingga media sosial, setiap perkataan harus mencerminkan nilai-nilai keislaman.

Menghindari debat yang tidak bermanfaat, menahan diri dari komentar pedas, dan memfilter setiap kata sebelum diucapkan adalah bagian dari menjaga lisan yang akan membawa keselamatan di hari akhir.

UAH juga menyampaikan bahwa seseorang yang menjaga lisannya akan dimuliakan oleh Allah dan dijauhkan dari permusuhan dengan sesama. Ini adalah buah dari amal yang sederhana, namun bernilai besar dalam timbangan amal.

Menurut UAH, jika umat Islam mampu menjaga lisannya, maka banyak kerusakan sosial dan konflik bisa dihindari. Lisan yang terjaga akan menciptakan lingkungan yang damai dan penuh berkah.

Dengan mengingat bahwa setiap kata akan dihisab, seorang Muslim akan lebih berhati-hati dalam berbicara dan lebih rajin menggunakan lisannya untuk berdzikir, bersyukur, dan menebar kebaikan.

Pada akhirnya, keselamatan di hari akhir bukan hanya ditentukan oleh besar kecilnya amal, tetapi juga oleh seberapa bersih dan terjaganya lisan dari ucapan yang sia-sia dan menyakitkan.

(NS/Lptn6)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini