spot_img

Sering Terpapar Berita Buruk Bikin Stres dan Frustrasi, Ini 5 Tips Psikolog Jaga Kesehatan Mental

KNews.id – Jakarta – Berbagai kabar buruk, mulai dari bencana hingga peristiwa memilukan, kerap berseliweran di media sosial dan pemberitaan. Meski penting untuk mengetahui apa yang terjadi di sekitar, terus-menerus terpapar informasi negatif bisa memengaruhi kesehatan mental.

Bahkan mungkin ada yang merasa frustrasi akibat terus menerus membaca berita buruk.

- Advertisement -

Menurut psikolog, ada sejumlah cara agar tetap peduli terhadap lingkungan tanpa mengabaikan kondisi diri sendiri. Lantas, apa saja sebenarnya dampak dari paparan berita buruk?

Apa saja hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental?

- Advertisement -

Dampak Paparan Berita Buruk pada Kesehatan Mental
Paparan berita buruk yang dikonsumsi terus-menerus bisa memicu dampak negatif pada kesehatan mental, seperti:

1. Kelelahan Emosional
Konsumsi informasi buruk yang silih berganti bisa memicu kelelahan emosional. Meity mengatakan bahwa saat seseorang terus-menerus berada dalam situasi yang dianggap mengancam, otak bisa merasa seolah-olah bahaya berada di sekitar.

“Secara emosional kita jadi kayak lelah gitu (saat terus-menerus terpapar berita buruk). Nah, dampaknya bukan hanya sekadar cemas aja gitu,” ucap Psikolog Meity Arianty dalam tayangan detikPagi, beberapa waktu lalu.

2. Munculnya Sikap Apatis
Dalam kondisi tertentu, kelelahan emosional yang terus-menerus juga bisa membuat seseorang tak peduli terhadap berbagai kejadian di sekitarnya. Meity menjelaskan, respons tersebut bisa terjadi karena otak berusaha melindungi diri dari beban emosi yang terlalu besar.

Akibatnya, sebagian orang memilih untuk menghindari informasi atau berhenti mengikuti pemberitaan tentang bencana. Kondisi ini perlu diperhatikan karena sikap apatis bisa membuat seseorang kehilangan kepedulian terhadap lingkungan dan orang lain yang membutuhkan bantuan.

Padahal, informasi tentang bencana seharusnya bisa menjadi bekal bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mempersiapkan diri.

- Advertisement -

3. Ketegangan Psikologis yang Kronis dan Kolektif
Psikolog klinis dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Pamela Andari Priyudha, M.Si., Psikolog, juga menekankan bahwa paparan berita buruk secara terus-menerus bisa menyebabkan seseorang mengalami ketegangan psikologis yang kronis dan kolektif.

“Ketika seseorang merasa tidak berdaya, mereka bisa mengalami *learned helplessness*, yaitu kondisi ketika seseorang merasa tidak mampu mengubah situasi meskipun sebenarnya ada peluang. Ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan apatisme, frustrasi, dan depresi secara kolektif,” jelas Pamela.

Tips Menjaga Kesehatan Mental dari Paparan Berita Buruk
Berikut beberapa saran dari psikolog untuk menjaga kesehatan mental di tengah banyaknya paparan berita buruk.

1. Batasi Konsumsi Konten yang Memicu Kecemasan
Pamela mengatakan salah satu strategi menjaga kesehatan mental di tengah paparan masif berita buruk adalah dengan secara sadar membatasi konten yang memicu kecemasan, terutama ketika kondisi psikologis sedang tidak stabil.

Menurut Meity, peduli bukan berarti terus-menerus terpapar penderitaan. Informasi tetap bisa diikuti, tetapi ada yang namanya batas sehat.

2. Temukan Sumber Kredibel
Penting untuk membiasakan diri mencari informasi pembanding dari berbagai sumber kredibel. Tujuannya adalah mendapatkan sudut pandang yang objektif dan seimbang. Pamela menyarankan agar seseorang tidak terlalu reaktif saat menemukan informasi yang belum terverifikasi.

“Penting untuk mengedepankan logika dan bersikap objektif. Selalu cari tahu dari berbagai sumber, jangan hanya mengandalkan satu sudut pandang,” kata Pamela.

Ia juga menyoroti pentingnya literasi digital, yaitu kemampuan untuk mencari, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara kritis dan etis. Sebab, banyak orang terjebak dalam kesimpulan tertentu padahal hanya membaca judul atau komentar tanpa menelusuri informasi secara utuh.

3. Tentukan Waktu Baca Berita
Pilih waktu yang dirasa nyaman untuk membaca berita. Kemudian, matikan notifikasi yang tidak penting.

“Tentukan waktu khusus baca berita. Aku mau lakukan di pagi hari, karena pagi hari di mana aku melakukan aktivitas. Ya, jangan malam hari juga, karena aku mau tidur, istirahat, mungkin siang atau menjelang sore,” katanya dalam tayangan detikPagi, beberapa waktu lalu.

4. Perbanyak Membaca Konten Positif
Pamela menyarankan untuk memperbanyak konsumsi konten yang positif dan inspiratif. Hal ini dilakukan untuk menjaga suasana hati tetap stabil dan membuat pola pikir lebih optimistis. Menurutnya, hal tersebut berkaitan erat dengan kendali diri atau self-control.

“Kita harus menyadari batasan antara hal-hal yang dapat kita kendalikan dan yang berada di luar kendali kita. Fokus pada peran dan tanggung jawab yang bisa dijalankan akan membantu menjaga semangat dan rasa optimisme,” katanya.

5. Kenali Perasaan saat Melihat Berita
Meity menganjurkan untuk memeriksa perasaan ketika melihat berita. Paparan berita yang terus-menerus bisa meningkatkan rasa terancam dan kecemasan, serta menurunkan kemampuan untuk menghadapi stres.

“Jadi, tanyakan, apa yang bisa saya lakukan? Kalau saya bisa membantu, ya bantu. Kalau tidak, izinkan diri kita untuk istirahat. Istirahat, kembali menjalani kehidupan,” katanya.

Jika sudah menenangkan diri, seseorang bisa hadir untuk membantu orang lain. Sebab, jika tubuh sakit, akan sulit untuk membantu orang lain yang sedang sakit.

“Kita tidak harus ikut hancur untuk membuktikan bahwa kita peduli. Justru dengan menjaga diri, tetap tenang, kita bisa hadir sepenuhnya untuk membantu orang lain,” katanya.

(NS/DTK)

Berita Lainnya

Ikuti Kami

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PengikutMengikuti
- Advertisement -spot_img

Terkini