KNews.id – Jakarta – Kilas cahaya oranye melintasi langit malam Israel diiringi raungan sirene di latar belakang, seiring langkah Iran yang makin sering melengkapi beberapa rudal balistik dengan munisi tandan (cluster munitions), dengan tujuan menembus pertahanan udara Israel.
Kilas cahaya itu adalah bom-bom kecil yang masing-masing membawa hingga sekitar 5 kg bahan peledak, dilepaskan di ketinggian tinggi dari hulu ledak rudal sebelum menghujani area luas secara acak. Sebagian besar rudal balistik Iran membawa sekitar 24 anak bom, tapi salah satu senjatanya yaitu Khorramshahr dapat dilengkapi hingga 80 anak bom.
Dua serangan munisi tandan Iran mengonfirmasi adanya berbagai titik hantaman yang tersebar di area seluas masing-masing 11-12 km, yang jatuh secara acak menimpa rumah, tempat usaha, jalanan, dan taman.
Warga Israel relatif terlindungi berkat sistem peringatan dini serta tempat perlindungan yang mudah diakses. Meski begitu, satu anak bom menewaskan dua orang di pinggiran Tel Aviv pekan lalu dan melukai banyak orang lainnya.
Munisi tandan bersifat membabi buta sehingga penggunaan di daerah padat penduduk dilarang. Amnesty International sebelumnya mengecam penggunaan munisi tandan oleh Iran selama perang 12 hari bulan Juni lalu sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional. Kelompok HAM itu juga menuduh Israel melakukan pelanggaran serupa atas penggunaan munisi tandan di Lebanon di 2006.
Iran tampaknya melengkapi lebih banyak rudal balistiknya dengan hulu ledak kargo yang dapat membawa sub-munisi tandan, dibandingkan dalam konflik sebelumnya. Pejabat militer Israel mengatakan sekitar separuh dari seluruh rudal balistik yang ditembakkan ke Israel dilengkapi munisi tandan.
Munisi ini menghadirkan tantangan signifikan bagi pertahanan udara Israel. Meski sukses mencegat sebagian besar rudal balistik, sistem pertahanan sulit menghentikan anak-anak bom karena ukuran kecil dan waktu cegat relatif sempit. “Ini mekanisme untuk melewati pertahanan rudal aktif,” kata Tal Inbar, konsultan perusahaan pertahanan Israel.
Dalam beberapa kasus rudal balistik Iran berhasil dicegat pencegat jarak jauh, tapi anak-anak bom tetap tersebar karena rudal tak terkena hantaman langsung atau karena anak-anak bom telanjur dilepas. Anak-anak bom ini bisa dicegat sistem pertahanan Iron Dome yang ditujukan untuk proyektil jarak pendek, tapi tidak selalu berhasil.
“Para perancang Iran kemungkinan beralih ke pendekatan penyebaran di ketinggian tinggi sebagian untuk meminimalkan peluang pencegatan berbasis darat,” kata N.R. Jenzen-Jones, direktur Armament Research Services.
Dalam konflik sebelumnya dengan Israel, Iran menembakkan rentetan rudal untuk membanjiri pertahanan udara. Namun seiring AS dan Israel menggempur kemampuan peluncuran rudal balistik Iran, munisi tandan menawarkan cara baru bagi Iran.
“Saya rasa Iran saat ini tak punya kemampuan mengatur serangan rentetan rudal balistik skala besar. Jadi, jika Iran ingin menyebabkan banyak kerusakan bahkan dengan sejumlah kecil rudal balistik, rudal sub-munisi dengan anak-anak bom akan menjadi senjata pilihan,” cetus Inbar.
Senjata tersebut juga menebar teror ke penduduk. Militer Israel gencar mengomunikasikan bahayanya. Mereka mendesak masyarakat tetap di tempat perlindungan beberapa menit setelah suara sirene mereda sampai status aman diberikan, serta memperingatkan bahaya mendekati anak bom yang belum meledak.
Dengan satu rudal terutama yang dilengkapi munisi tandan, Iran dapat memaksa jutaan warga Israel masuk ke tempat perlindungan dan menyebabkan Israel serta AS menguras pasokan pencegat rudal yang harganya mahal dan jumlahnya terbatas.
“Penggunaan terus-menerus munisi semacam itu kemungkinan besar dimaksudkan memberikan efek penekanan dan psikologis, di mana Iran berusaha menguras tekad Israel dan membebankan kerugian ekonomi serta sosial dengan memaksa orang-orang untuk terus-menerus berlindung,” pungkas Jenzen-Jones.




