KNews.id – Jakarta – Kenaikan kasus kanker payudara pada perempuan usia muda membawa kekhawatiran baru di luar urusan keselamatan nyawa. Banyak pasien yang masih berada di usia produktif mempertanyakan kelanjutan nasib kehidupan reproduksi mereka setelah rangkaian pengobatan usai.
Deputy Medical Director Parkway Cancer Centre (PCC), dr. Khoo Kei Siong, mengungkap, kekhawatiran mengenai hilangnya kesempatan untuk memiliki keturunan menjadi beban pikiran yang sama beratnya dengan penyakit itu sendiri.
Pertanyaan yang paling banyak diajukan kepada dokter adalah: apakah tubuh perempuan masih mampu mengandung janin secara normal usai digempur oleh prosedur operasi, radiasi, dan obat-obatan keras.
Namun, kamu tidak perlu khawatir. Sebab, dr. Khoo mengatakan bahwa harapan untuk memiliki anak sama sekali belum tertutup.
“Jika fungsi ovarium atau indung telur pasien tetap terjaga dan mereka masih mengalami menstruasi serta ovulasi, secara teori mereka tentu masih bisa hamil lagi,” tuturnya dalam acara media gathering di Jakara, Jumat (25/9/2026).
Strategi kehamilan setelah pengobatan kanker
Meskipun pintu kehamilan masih terbuka lebar, dr. Khoo menuturkan bahwa perjalanan menuju ke sana memerlukan strategi medis yang tepat.
Antisipasi dampak perawatan bagi kesuburan
Setiap jenis intervensi medis membawa konsekuensi bagi tubuh, tidak terkecuali obat-obatan penumpas kanker. Walaupun sangat efektif membunuh jaringan tumor, bahan kimiawi tersebut juga berpotensi merusak sel-sel sehat di dalam sistem reproduksi.
“Kemoterapi memang memengaruhi tingkat kesuburan perempuan, sehingga kita harus mendiskusikan langkah pelestarian kesuburan sebelum perawatan tersebut dimulai,” ucap dr. Khoo. Tren kanker yang semakin banyak menyerang perempuan usia 30-an membuat dokter harus bergerak cepat mengamankan peluang reproduksi pasiennya.
Pendekatan yang biasa ditempuh salah satunya adalah mengamankan sel telur atau embrio terlebih dahulu di laboratorium agar tidak terpapar efek dari pengobatan kanker selama masa penyembuhan. Tindakan preventif semacam ini sangta penting karena kualitas dan kuantitas sel telur yang dibiarkan di dalam tubuh akan menurun drastis akibat paparan obat.
Tindakan preventif semacam ini sangta penting karena kualitas dan kuantitas sel telur yang dibiarkan di dalam tubuh akan menurun drastis akibat paparan obat.
Setelah tubuh dinyatakan bersih dari penyakit, sel telur yang telah diamankan tersebut bisa digunakan kembali melalui prosedur medis lanjutan.
“Ada banyak cara untuk menjaga kesuburan sekaligus meningkatkan peluang pasien untuk bisa hamil kembali setelah seluruh rangkaian pengobatan kankernya selesai,” jelas dr. Khoo.
Jeda masa aman dan dilema usia biologis
Meski pasien telah dinyatakan sembuh dan fungsi reproduksinya terjaga dengan baik, bukan berarti mereka diizinkan untuk langsung mengandung. Tim medis biasanya meminta pasien untuk memberikan jeda waktu istirahat bagi tubuhnya agar tidak memicu stres fisik baru.
“Kami sangat berpesan kepada pasien untuk menghindari atau menunda kehamilan setidaknya selama dua hingga tiga tahun pascadiagnosis kanker payudara,” tutur dr. Khoo.
Risiko kembalinya pertumbuhan sel tumor mematikan berada pada titik paling tinggi di tahun-tahun awal pascaperawatan. Dokter berupaya keras mencegah skenario terburuk, di mana penyakit tersebut kembali muncul justru di saat pasien sedang mengandung janin, karena hal itu akan membuat pilihan langkah penyelamatan menjadi sangat terbatas.
Selain itu, jeda waktu dua hingga tiga tahun memberikan kesempatan berharga bagi tubuh pasien untuk menerima asupan obat pencegah agar sel ganas tidak kembali tumbuh.
“Terapi hormon ini terbilang mudah dijalani dan sangat membantu mengurangi kemungkinan kembalinya kanker di kemudian hari,” kata dr. Khoo.
Kendati sangat bermanfaat, perawatan tersebut memicu dilema baru terkait usia biologis sang ibu karena obat ini idealnya dikonsumsi selama lima sampai sepuluh tahun. Sebagai contoh, jika seorang pasien berusia 35 tahun diwajibkan meminum obat hormon selama lima tahun penuh, usianya akan menginjak 40 tahun saat ia baru diizinkan untuk hamil.
“Ini memang menjadi tantangan tersendiri, karena jika mereka harus menuntaskan terapi hormon, tingkat kesuburan alami mereka juga akan jauh menurun seiring bertambahnya usia,” ujar dr. Khoo.
Oleh karena itu, dokter terkadang memberikan kelonggaran bagi pasien untuk meminum obat hormon selama sebagian waktu saja sebelum merencanakan kehamilan, dengan catatan kondisi mereka diawasi secara ketat.






