KNews.id – Jakarta – Langkah Polri yang turun tangan mendalami adanya dugaan tindak pidana keuangan didukung untuk segera dijalankan. Langkah ini penting untuk memulihkan kepercayaan investor. Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto telah memerintahkan Bareskrim Polri mendalami anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga lebih dari 11 persen pada Jumat (16/10). Polri menggandeng Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam melakukan penyelidikan.
Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni mengatakan, Polri bergerak cepat dalam mendalami persoalan ini. Bila terbukti adanya tindak pidana, pelaku harus disanksi tegas.
“Komisi III mendukung penuh langkah Polri untuk mengusut seluruh dugaan kejahatan pasar modal. Kalau memang ditemukan unsur pidana, jangan ragu untuk ditindak tegas seluruh pihak yang terlibat, baik perorangan, kelompok, maupun korporasi,” kata Sahroni kepada wartawan, Senin (19/10).
Dia menilai, penting menjaga pasar saham dalam kondisi baik. Sebab, kondisi ini akan mempengaruhi perekonomian nasional.
“Pasar saham kita harus sehat dan transparan, jangan sampai ada segelintir orang yang mengambil keuntungan pribadi dengan cara melanggar hukum, memanipulasi, lalu merusak kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia. Ini kejahatan ekonomi yang serius,” imbuhnya.
Politikus Partai NasDem in menyakini bahwa Indonesia memiliki ekonomi yang kuat. Namun, perlu didukung oleh penegakan hukum yang tegas untuk mencegah kejahatan terjadi.
“Karena jika dilihat secara makro, ekonomi Indonesia sehat dan memiliki masa depan yang cerah. Banyak peluang terbuka. Apalagi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, salah satu aspek yang penting dalam dunia usaha yaitu kepastian dan penegakan hukum, telah berjalan tegas tanpa pandang bulu. Jadi para investor tidak perlu ragu,” pungkasnya.
IHSG Ambruk
(IHSG) terjerumus hingga 11,57 persen ke level 5.185,11 atau mengalami penurunan harian terdalam sejak krisis yang terjadi pada 8 Januari 1998 sebesar 11,95 persen. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Ardy Irianto Subekti, mengatakan tekanan pada Jumat pekan lalu dipicu pengumuman MSCI yang membuka konsultasi perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Pada Jumat tersebut IHSG dibuka melemah sebesar 8,01 persen ke 5.393,92 dan BEI langsung memberlakukan trading halt 30 menit. Sesi I pun ditutup minus 10,76 persen ke 5.233 dan sesi II melanjutkan pelemahan ke 5.185,11. Pada perdagagangan hari itu, seluruh sektor terkoreksi dipimpin barang baku sebesar 13,37 persen, kesehatan 13,16 persen dan infrastruktur 13,00 persen.
Sementara itu, saham yang berada pada kelompok LQ45 turun 13,82 persen ke 508,56. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 812 saham melemah dan 11 menguat dengan nilai transaksi sekitar Rp 32 triliun pada Jumat pekan lalu.
“Investor asing mencatatkan net sell Rp 2,92 triliun di sesi I yang dipimpin BBCA Rp 1,98 triliun, BBRI Rp 631 miliar, BMRI Rp 485 miliar. Total net sell asing dalam sepekan mencapai Rp 3,34 triliun dan YTD Rp 88,19 triliun,” ujar Ardy dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (19/10).






