KNews.id – Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah yang sudah masuk level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) mendorong perhatian pasar terhadap berbagai instrumen yang disiapkan pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas kurs.
Salah satu kebijakan yang kini menjadi sorotan adalah implementasi penuh kewajiban penempatan 100% Devisa Hasil Ekspor (DHE) sumber daya alam di dalam negeri.
Kebijakan yang mulai berlaku sejak awal Juni tersebut dinilai dapat menjadi salah satu sumber tambahan likuiditas valuta asing di pasar domestik di tengah meningkatnya tekanan terhadap rupiah akibat penguatan dolar AS dan berkurangnya surplus neraca perdagangan Indonesia.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan kebijakan wajib simpan 100% DHE berpotensi memberikan tambahan pasokan dolar yang signifikan bagi pasar domestik.
“Implementasi penuh wajib simpan 100% Devisa Hasil Ekspor (DHE) di perbankan Himbara yang berlaku sejak awal Juni ini juga diharapkan mulai menyuntikkan likuiditas Dolar ke pasar domestik untuk menahan kejatuhan lebih dalam,” kata Sutopo kepada Liputan6.com, dikutip Minggu (7/6/2026).
Menurutnya, langkah tersebut menjadi penting karena saat ini tekanan terhadap rupiah masih cukup besar. Struktur pergerakan USD/IDR dinilai masih menunjukkan tren penguatan yang solid sehingga kebutuhan likuiditas valuta asing di dalam negeri terus meningkat.
Dengan semakin banyak devisa hasil ekspor yang ditempatkan di sistem perbankan nasional, pasokan dolar di pasar domestik diharapkan menjadi lebih memadai. Kondisi ini dapat membantu mengurangi ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan valuta asing.
“Bagi para pelaku pasar, prinsip pengamanan harus tetap dikedepankan dengan membatasi eksposur risiko dan mengamankan modal, mengingat volatilitas tinggi akan terus membayangi pergerakan kurs,” ujarnya.
BI Diproyeksikan Perkuat Intervensi
Selain mengandalkan tambahan likuiditas dari DHE, Bank Indonesia juga diperkirakan akan meningkatkan intensitas intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Sutopo menilai level Rp 18.000 per dolar AS merupakan batas psikologis yang sangat penting bagi pasar. Oleh sebab itu, otoritas moneter diperkirakan tidak akan membiarkan pelemahan rupiah berlangsung tanpa respons.
Menurutnya, intervensi ganda melalui pasar spot dan instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) berpotensi terus dilakukan untuk meredam tekanan spekulatif yang muncul di pasar valuta asing.
“Level Rp 18.000 merupakan benteng psikologis dan politis yang sangat krusial, sehingga Bank Indonesia diproyeksikan akan melakukan intervensi ganda secara agresif di pasar spot maupun DNDF guna meredam aksi spekulasi komersial,” pungkasnya.





