Sebagai pengebom strategis, kapabilitas rudal ini unik. Teknologi hipersonik beserta roket pendorong sepanjang 9 meter membuatnya sangat lincah sehingga sulit ditembak jatuh, termasuk ketika berhadapan dengan peluru kendali.
Bentuk rudal dalam fase terakhir belum diketahui publik. Namun, China terlihat beberapa kali memamerkan badan layang hipersonik di rudal berpeluncur darat DF-17.
Kemungkinan besar, setelah terpisah dari roket, rudal hipersonik ini disertai wahana yang membantunya menghantam target bergerak. Artinya, lintasan rudal sulit ditebak. Bahkan, tanpa peledak sekalipun, energi kinetik dari rudal sudah cukup kuat untuk menghancurkan kapal tempur.
Banyak yang mengatakan bahwa rudal hipersonik ini mirip dengan Kinzhal milik Rusia. Sama-sama berpeluncur udara, Kinzhal memiliki jangkauan lebih dari 2.000 km. Saat diluncurkan oleh MiG-31K, tekananan udara di depan rudal hipersonik menciptakan awan plasma yang menyerap frekuensi radio sehingga tidak terdeteksi radar.




